Foto: net

Tsunami di Masa Lalu Direkam melalui Manuskrip Kuno

Senin, 31 Desember 2018 - 14:52:59 WIB

Tirainews.com - Seekor kura-kura raksasa bernama Bedawangnala diikat dan dikubur jauh dalam perut bumi. Dua ekor naga bernama Anantabhoga dan Basuki ditugasi untuk memegang tali pengikat sang kura-kura. Jika Bedawengnala mengamuk, bumi akan bergoncang keras dan terjadilah bencana.

Dalam kisah ini, Bedawangnala atau si kura-kura raksasa merupakan lambang dari magma bawah gunung berapi, sedangkan Anantabhoga melambangkan tanah, dan Basuki merupakan simbol air. Ketiganya merupakan mitologi masyarakat Bali tentang fenomena alam.

"Jika Bedawangnala menggeliat dan memicu erupsi gunung berapi, Anantabhoga juga ikut bergerak dan terjadi gempa," tulis Zamidra dalam Makhluk Mitologi Sedunia. Dan apabila Bedawangnala semakin aktif, giliran Basuki terusik, lalu mengakibatkan tsunami.

Kepercayaan turun-temurun tersebut, juga banyak dijumpai pada manuskrip Nusantara. Rekaman terhadap kejadian besar di masa lalu, terutama terkait fenomena alam, seperti gunung meletus hingga tsunami. Berikut beberapa manuskrip berisi catatan mengenai tsunami;

Loading...

1. Syair Nandong (Aceh)

Daerah Aceh termasuk wilayah berpotensi besar dilanda gempa bumi dan tsunami. Rentetanya, mulai pemerintahan Sultan Iskandar Muda tahun 1621, kemudian 1907, 1964, serta 2004 lalu.

Saking seringnya melanda Aceh, masyarakat setempat mengabadikannya dalam sebuah puisi tradis, Syair Nandong. Isinya bercerita tentang bagaimana cara melihat tanda-tanda terjadinya tsunami.

Syair ini tak lekang waktu, berabad-abad sudah berlalu namun masyarakat masih lihai melafalkannya.

Anga linon ne mali
Uwek suruik sahuli
Maheya mihawali fano me singa tenggi
Ede smong kahanne

Jika gempanya kuat
Disusul air yang surut
Segeralah cari tempat yang lebih tinggi
Itulah tsunami namanya

2. Babad Buleleng dari Bali

Tsunami pernah melanda Bali pada 1815. Babad Buleleng dan Babad Ratu Panji Sakti merekam kejadiaan tersebut, dimulai dengan gempa lalu disusul air bah besar.

Dari gempa dahsyat, tak lama berselang air laut tinggi menyapu bersih kampung-kampung di Buleleng. Dalam babad tersebut juga tercatat jumlah sebanyak 10.523 korban meninggal akibat kejadian tersebut.

3. Lontarak Pangissengeng (Bugis)

Salah satu naskah kuno Bugis menaja hubungan gempa bumi dan bencana alam dengan perilaku masyarakat. Bencana itu terjadi, menurut Lontarak Pangissengeng, lantaran tingkah laku buruk para masyarkatnya.

"Gempa bumi terjadi karena tingkah laku manusia. Orang-orang besar atau para pemimpin bertikai, demikian pula orang banyak atau masyarakat luas," tulis Ahmad Yunus dalam Lontarak Pangissengeng Daerah Sulawesi Selatan . 




Baca Juga Topik #sosbud+
Loading...
Tulis Komentar +
Berita Terkait+