Ilustrasi (net)

10 Tahun Dally Menghabiskan Waktu Memburu Orang Pendek di Pedalaman Sumatera

Ahad, 07 Juli 2019 - 18:24:12 WIB

Tirainews.com - Belantara Indonesia menyimpan banyak misteri yang belum sempat dijelajahi manusia. Di beberapa titik, harus diakui tersimpan banyak marabahaya. Dalam bentangan hutan hujan ribuan kilometer itu, kita bisa tergigit nyamuk pembawa malariaharimau yang tak ragu memangsa perambah hutan, hingga bertemu mahluk misterius.

Oke, poin yang terakhir itu perlu diperdebatkan. Setidaknya banyak orang mengaku pernah menyaksikan suatu obyek yang tidak masuk kriteria hewan, tumbuhan, atau manusia. Sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Mahluk yang karenanya kini lebih dikenal sebagai mitos. 

Mahluk macam inilah yang menarik perhatian R. Dally Sandradiputra secara rutin menjelajahi pedalaman hutan Sumatra. Dally, seorang penulis yang bermukim di Sungai Penuh, Jambi, terobsesi membuktikan rumor keberadaan 'orang pendek'.

Orang Pendek digambarkan sebagai kera bipedal pendek, mirip seperti versi mini dari Bigfoot—hewan mitologis sejenis yang banyak dilihat penduduk Amerika Utara. Sejak seabad lalu, orang pendek beberapa kali dilaporkan terlihat di kawasan belantara Sumatra.

Loading...

Sejak 2009 lalu, Dally mengawali serangkaian ekspedisi di wilayah sekitar Gunung Kerinci—sebagian besar ekspedisi ini dijalani Dally seorang diri guna menemukan Orang Pendek, satu spesies makhluk dalam cerita masyarakat lokal Sumatra yang konon pernah dijumpai kaum kolonial Belanda di tahun 1880-an.

Awal tahun ini sebuah video sukses merekam penampakan sosok yang dipercaya sebagai orang pendek. Rekaman itu viral di jagat media sosial Indonesia. Dalam video singkat itu, sesosok makhluk pendek bungkuk mirip manusia berjalan memegang tombak mengagetkan sekelompok pengendara sepeda motor trail di sebuah wilayah di Aceh.

Dally sering merogoh kocek dalam-dalam demi membiayai ekspedisinya. Dia sudah biasa menjadi bulan-bulanan peneliti lain yang skeptis. Dally mengaku bukan sekadar ingin seru-seruan menuruti takhayul. Ekspedisi yang dia jalani adalah sebuah usaha mendokumentasikan dongeng cryptozoologis asli Sumatra.

Lewat perburuannya, Dally berharap bisa menemukan data yang lengkap mengenai khazanah lokal mengenai penghuni hutan, yang tak selamanya masuk daftar ilmiah. Dia terobsesi membuktikan bahwa laporan tentang penampakkan orang pendek bukan sekadar dongeng belaka.

Kenapa kamu rela menghabiskan banyak waktu mencari keberadaan Orang Pendek?

Dally Sandradiputra: Saya pikir di Indoenesia, Kriptozoology belum diperhatikan banyak orang meski sebenarnya sangat menarik. Makanya, saya ingin mencari bukti bahwa keberadaan Orang Pendek ini bukan sekedar folklore. Cerita—cerita tentang orang disebarkan dalam masyarakat Sumatra dengan turun menurun. Lalu, jangan lupa, beberapa bukti keberadaan orang pendek telah ditemukan.

Tunggu dulu. Kamu bilang bukti? Apa bukti yang sudah kamu peroleh untuk meyakinkan publik Orang Pendek betulan ada?

Penemuan terbesar saya adalah jejak kaki. Cuma kalau di daerah Sumatra Barat, agak beda jejak kakinya. Perbedaannya ada di jempol kakinya. Posisinya tidak terlalu menjorok ke bawah. Padahal biasanya orang pendek, jempolnya lebih menjorok ke bawah.

Adakah laporan dari penduduk lokal tentang penampakan Orang Pendek?

Ada. Di Taman Nasional Gunung Kerinci banyak saksi mata orang pendek. Mereka bilang, orang pendek ini berjalan seperti manusia. Jadi, bisa digolongkan sebagai kera bipedal. Dari Pengalaman saya mewawancarai masyarakat setempat, saya tahu mereka mempunyai pondok di hutan untuk berladang. Jadi, mereka kerap melihat Orang Pendek mengambil gula dan minyak dari dalam pondok mereka.

Adakah mitologi tertulis tentang keberadaan Orang Pendek?

Mitologi orang pendek banyak versinya. Ada salah satu masyarakat lokal mengatakan bahwa makhluk ini adalah makhluk kutukan yang lari ke hutan, tapi ini tidak semua orang sependapat. Orang Pendek itu adalah makhluk kryptid. Namuan, yang sama dari semua versi mitologi ini adalah mereka berbulu dan berjalan tegak seperti manusia.

Apa tujuan akhir risetmu ini?

Saya ingin memperkenalkan Sumatra sebagau surga kriptozoologi karena ada banyak mitos lain. Tak cuma terbatas hanya orang pendek saja. Ada banyak folklore lain yang bisa masuk dalam dunia kriptozoologi. Waktu saya pertama kali melakukan pencarian, hanya tersedia sedikit informasi tentang makhluk seperti ini. Tapi setelah lewat waktu tertentu, saya menemukan banyak cerita dan informasi dari kesaksian warga sekitar tentang hewan-hewan kriptozoologi.

Apa saja misalnya?

Kalau dari cerita folklore, ada seperti Cigau (harimau kuno). kita juga punya seperti Orang Gadang—semacam bisa disamakan seperti Bigfootnya Sumatra. Saya menemukannya itu tahun 2014. Dia bentuknya jauh lebih besar daripada orang pendek, mungkin tingginya bisa dua atau sampai empat meter. Orang Gadang juga adalah makhluk berbulu.

Kapan pertama kali kamu melakukan ekspedisi memburu Orang Pendek?

Ekspedisi yang saya lakukan sudah tidak terhitung. Saya mulai dari 2009. Antara tahun 2012-2016, saya hampir setiap bulan melakukan ekspedisi. Bahkan dua kali sebulan pun pernah. Biasanya sebelum saya melakukan ekspedisi kehutan, saya terlebih dahulu mewawancarai masyarakat lokal yang mengaku telah melihat orangpendek di hutan. Mereka akan menunjukkan lokasinya. Nah, setelah itu, baru saya pergi ke titik yang mereka tunjuk.

Apa tanggapan orang yang kamu wawancara tentang Orang Pendek? Mereka ketakutan atau tidak?

Tidak, karena mereka yang menemani saya ke hutan. Ada sih yang bilang saya gila. Malah, ketika saya diwawancarai TVRI Jambi beberapa waktu lalu, saya sempat dimarahi seorang penelpon. Dia bilang saya telah melakukan penelitian menyimpang.

Menurutmu, kenapa Orang Pendek sangat susah ditemukan?

Mungkin karena mereka sudah mulai punah, tapi itu cuma pendapat saya. Sepengalaman saya keluar masuk hutan, dari luar kondisi hutan kita masih bagus. Padahal di dalamnya sudah banyak yang gundul. Sudah banyak yang terimbas illegal logging. Jadi, orang pendek punah bisa karena masalah habitat. Tapi bisa juga karena faktor lain. Sampai saat ini belum ada bukti kepunahan orang pendek karena belum ada fosil yang ditemukan.

Apa kamu punya target tertentu sebelum berhenti melakukan semua ekspedisi ini?

Ke depannya, saya mungkin enggak berhenti. Bahkan ketika dukungan yang saya terima makin sedikit atau saya terbentur masalah uang. Soalnya masih banyak yang saya ingin gali di Sumatra. Di daerah lain di Sumatra, ada yang namanya siamang air, atau dalam bahasa populer kriptozoologinya, aquatic monkey. Jadi masih banyak dari Sumatra yang ingin saya jadikan sebuah karya ilmiah. Saya belum berencana berhenti.




Baca Juga Topik #sosbud+
Loading...
Tulis Komentar +
Berita Terkait+