Babinsa Desa Balung Koramil 12/XIII Koto Kampar Kodim 0313/KPR, Serka Subuh menggendong seorang nenek saat menyeberangi Sungai Sitingkai.

Menantang Deras Arus Batang Sitingkai Demi Kemanusiaan

Sabtu, 14 September 2019 - 23:40:03 WIB

LANGIT mendung menyambut kedatangan kami di Desa Balung, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Rabu 24 Juli 2019. Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam menggunakan kendaraan roda empat dari Pekanbaru, Ibukota Provinsi Riau, akhirnya kami tiba di Posko Utama TMMD ke-105 Kodim 0313/KPR. 

Tidak mudah untuk sampai ke wilayah ini. Kami harus menembus perbatasan Provinsi Riau dan Provinsi Sumatera Barat. Dari gapura selamat datang Provinsi Sumatera Barat di Lintas Barat, kami harus menempuh perjalanan selama 15 menit untuk sampai ke persimpangan masuk desa. Di sisi kiri, ada jalan kecil menurun, kami disambut sebuah jembatan gantung. 

Secara administratif, jembatan ini berada di wilayah Sumatera Barat. Ukuran jembatan yang kecil, hanya bisa dilewati satu kendaraan roda empat saja. Jika berpapasan, salah satu harus mengalah dan menunggu kendaraan lainnya sampai ke seberang.

Perjalanan tidak sampai di situ, kami harus menempuh perjalanan sejauh 8 kilometer. Jalanan tanah dan bebatuan terjal cukup menyulitkan. Ditambah jalanan mendaki melewati lereng bukit. Sedikit saja salah perhitungan, bisa saja mobil jenis minibus yang kami kendarai bersama rombongan wartawan terperosok ke jurang di sisi kiri jalan. 

Loading...

Inilah satu-satunya akses terdekat bagi warga desa untuk membeli kebutuhan pokok ke Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Sebenarnya, ada jalan lain yang tak harus menyeberangi perbatasan dua provinsi. Yakni, jalan menuju Desa Lipat Kain, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Namun, karena kondisi jalan yang sangat parah dan jauh, warga lebih memilih pergi ke provinsi tetangga. 

Saat tiba, jalanan di Desa Balung tidak begitu ramai. Beberapa prajurit TNI terlihat lalu lalang. Ada noda lumpur di seragam loreng yang mereka kenakan. Beberapa tampak berbaur dengan warga setempat. Mayoritas, penghasilan warga Desa Balung berasal dari bertani. 

Di lain sisi, tak jauh dari Posko Utama TMMD ke-105 Kodim 0313/KPR, ada sebuah sungai yang mengalir jernih. Rombongan murid sekolah dasar (SD) tampak sedang mengantre. Beberapa prajurit TNI dan warga, ikut berbaur di kerumunan bocah-bocah itu. Saat kami dekati, ternyata mereka sedang menunggu giliran untuk diseberangkan ke sisi sungai selebar lebih kurang 6 meter itu. 

Tak ada jembatan penyeberangan. Beberapa prajurit TNI yang kami lihat itulah, bergantian menyeberangkan para bocah ini. Mereka menggendong bocah-bocah lugu ini satu persatu di tengah deras arus sungai. Di antara mereka, ada Babinsa Desa Balung Koramil 12/XIII Koto Kampar Kodim 0313/KPR, Serka Subuh. Keringat di keningnya mengalir di antara percikan air Sungai Sitingkai yang mereka seberangi. Di punggungnya seorang nenek penuh harap, ingin segera sampai ke seberang. 

"Tiok aghi kami nyabonghang Batang Sitingkai ko. Ado nyia jambatan. Tapi jauah. (Setiap hari kami menyeberangi Sungai Sitingkai ini. Ada satu jembatan, tapi jauh)," kata Idris (50), salah satu warga Desa Balung, yang kami temui di lokasi. 

Menyeberangi Sungai Sitingkai merupakan akses tercepat bagi warga beraktivitas. Terutama para pelajar yang ada di desa terpencil ini. Jika air sungai pasang, mereka terpaksa diliburkan. Sebab, besar dan tingginya permukaan air, tidak mungkin mereka seberangi. 

"Kalau pasang aigh tapakso libur. Tahun dulu lai tigo aghi libur. (Kalau air naik terpaksa libur. Tahun lalu ada tiga hari diliburkan)," kata Idris. 

Di lokasi penyeberangan, Sungai Sitingkai yang dulunya bernama Sungai Sijoniah ini memisahkan Dusun 1 dan Dusun 2. Bangunan sekolah tempat para bocah ini menimba ilmu berada di Dusun 2. 

Ada beberapa sekolah negeri di desa itu. Mulai dari tingkat SD, sampai tingkat menengah pertama. Salah satunya SD Negeri 016, tempat para bocah ini menimba ilmu. Ada 150 murid di sekolah ini. 

"Apabila sungai pasang. Mereka diliburkan menjelang normal," kata Sukirman, guru agama di SD Negeri 016 Desa Balung, yang saat itu ikut menyeberang. 

Selama ini, murid-murid sekolah dasar di desa dibantu para orang tua untuk menyeberang. Hadirnya para prajurit TNI di desa mereka, dinilai sangat membantu aktivitas sehari-hari. Terlebih ada beberapa titik sungai yang kondisinya juga tanpa jembatan, kini sudah terhubung oleh jembatan yang dibuat para Satgas TMMD ke-105 Kodim 0313/KPR. 

"Selama ini warga nyeberang sendiri. Kasian anak-anak, dengan kehadiran TNI sangat terbantu saat menyeberangi sungai," kata Sukirman. 

Selain SD Negeri 016, di Desa Balung juga ada Madrasah Ibtidaiyah, dengan jumlah murid 85 orang, Madrasah tsanawiyah (MTs) sebanyak 50 siswa dan siswi serta Taman Kanak-kanak dengan 30 murid dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 13 murid. Sebagian besar mereka harus menyeberangi sungai itu untuk sampai ke sekolah. 


Salah satu Satgas TMMD ke-105 Kodim 0313/KPR di Desa Balung menggendong dua murid SD saat menyeberangi sungai.

Bukan tidak ada upaya pemerintah setempat agar di desa mereka dibangun jembatan penyeberangan. Berkali-kali usulan disampaikan ke pemerintah tingkat kabupaten sudah dilakukan. Namun, tetap saja belum membuahkan hasil. Di Desa Balung, terdapat 5 dusun. Yang terjauh, dari pusat desa adalah Dusun 5 Siasam. Sebagian dusun yang ada di desa itu terpisahkan oleh aliran Sungai Sitingkai. 

"Sudah sering diusulkan, tapi realisasi belum ada. Harapan kami ya secepatnya dibuat jembatan, karena sangat dibutuhkan masyarakat di sini. Untuk saat ini, adanya kegiatan bapak-bapak TNI ini melalui program TMMD, sangat membantu kami," kata Ade Indra, salah satu Pemuda Desa Balung, saat kami berbincang santai di tepian Sungai Sitingkai. 

Kini, mereka hanya bisa menumpukan harapan pada program TMMD ke-105 Kodim 0313/KPR yang berjalan di desa mereka bisa membantu infrastruktur yang masih kekurangan. Sebab, tidak hanya jembatan, jalan di desa itu juga sangat memprihatinkan. Sebelum para prajurit TNI masuk, luas jalan yang digunakan masyarakat desa hanya 1 meter saja. Kondisi ini diakui Ade. 

"Ini adalah desa terisolir. Harapan kami dari TMMD yang masuk ke  kami, semoga pak Dandim bisa mengembangkan infrastruktur yang ada di sini. Selama ini, kami membeli kebutuhan pokok ke Sumbar yaitu Pangkalan Koto Baru, karena lebih dekat ke sana," cerita pria 31 tahun ini. 

Tak terasa suasana mulai sepi. Rombongan anak sekolah dan beberapa warga yang diseberangkan para prajurit TNI sudah jauh dari pandangan kami. Serka Subuh, Babinsa Desa Balung dan beberapa anggota Satgas TMMD lainnya tampak beristirahat. Tak terlihat rasa letih, meski keringat masih membasahi seragam yang mereka kenakan. 

Selama TMMD di Desa Balung, ada 150 personil TNI yang mengabdikan diri. Mereka lah yang bekerja membantu membangun infrastruktur di desa itu, seperti jembatan dan perbaikan jalan. Desa Balung banyak membutuhkan jembatan. Sebab, letak desa terpencil ini di dikelilingi sungai. Adakalanya aktivitas warga terganggu lantaran ketiadaan jembatan.

"Di Desa Balung ini masih perlu jembatan yang banyak. Aktivitas anak-anak dan masyarakat selalu melewati sungai. Jadi terhambat di situ. Anak-anak kita pergi ke sekolah harus melintasi sungai," kata Serka Subuh saat berbincang dengan wartawan.

Beberapa titik, di desa itu sudah dibangun jembatan oleh Satgas TMMD. Jembatan yang terbuat dari kayu itu, dikerjakan bersama-sama. Serka Subuh menuturkan, setidaknya, dibutuhkan 6 jembatan agar dusun-dusun di Desa Balung saling terhubung. Saat kedatangan kami di desa itu, setidaknya sudah ada 4 jembatan yang selesai dibangun.

Ratusan personil TNI yang bertugas di Desa Balung berbagi tugas. Ada yang bertugas membuat jembatan, ada pula yang bertugas membantu anak-anak sekolah menyeberangi sungai. "Jadi kita harus membantu masyarakat supaya aktivitas yang ada di sini berjalan dengan baik. Di lokasi ini juga akan kita buat jembatan, karena di sini aktivitas anak-anak untuk sekolah. Pagi mereka harus melewati ini. Jika sungai ini banjir, mereka akan terkendala pergi ke sekolah," tutur Serka Subuh. 

Hari mulai petang, ditemani beberapa Satgas TMMD dan Kepala Desa Balung, Muhammad Ujud serta beberapa perangkat desa, kami menyempatkan diri meninjau pengerjaan jembatan di titik lainnya. Tak jauh dari Kantor Kepala Desa, jalan lintas desa yang mengarah ke Desa Lipat Kain, Kecamatan Kampar Kiri kami tempuh. Di sana, satu buah jembatan dari kayu sudah berdiri kokoh. Sebelum jembatan ada, warga terpaksa masuk ke dalam sungai untuk sampai ke seberang. 

"Sebelum TMMD masuk, lebar jalan di sini hanya 1 meter. Sekarang Alhamdulillah sudah ada sekitar 6 sampai 8 meter. Sebelum jembatan ini dibuat, masyarakat kami lewat sungai. Jika hari hujan, tidak bisa nyeberang karena air naik," kata Muhammad Ujud. 

Pria 33 tahun ini mengungkapkan, sebelum program TMMD masuk ke desa mereka, jalan hanya bisa ditempuh dengan cara berjalan kaki. Kini, jalan yang digunakan warga beraktivitas ke kebun atau pun ke desa-desa di kawasan itu bisa dilalui kendaraan roda empat. 

"Dampaknya positif. Biasanya kita hanya jalan kaki, sekarang sudah bisa pakai mobil lewat di sini," jelas Ujud. 

Di Desa Balung, terdapat 2.368 jiwa, dengan 623 Kepala Keluarga. Mereka menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Komoditi utama yang ada di desa itu ada 3, yakni karet, gambir dan sawit. Untuk kelapa sawit, masih hal baru di desa ini. Untuk mengankut hasil perkebunan itu, akses jalan dan jembatan sangat mereka butuhkan. 

"Kami sudah berusaha sekuat tenaga, baik pembangunan jembatan sudah kami usulkan. Ke Pemerintah Kabupaten hingga Provinsi. Tapi memang karena situasi seperti ini, belum terpenuhi semua keinginan kami," paparnya. 

Masuknya program TMMD di Desa Balung bagai angin segar bagi mereka. Muhammad Ujud sangat mengapreasiasi peran prajurit TNI di desanya. Tidak hanya membantu infrastruktur. Para prajurit ini juga sangat akrab dengan warga desa.

"Alhamdulillah dengan adanya program TMMD ini sangat luar biasa. Begitu ada persetujuan membangun jembatan, langsung dikerjakan oleh bapak-bapak TNI kami ini. Tentu kita sangat berterima kasih. Apa-apa yang menjadi harapan kami warga desa sejak dulu, saat ini sudah terpenuhi," tutur Ujud.**




Baca Juga Topik #Feature+
Loading...
Tulis Komentar +
Berita Terkait+