Foto: riauterkini

Elang Pulai, Pasukan Gerilya Berbenteng Tak Kasat Mata dari Pangean, Kuansing

Selasa, 09 Oktober 2018 - 11:53:02 WIB

Tirainews.com - Jauh sebelum Tentara Nasional Indonesia (TNI) resmi dibentuk pada masa perang dunia ke II, Nusantara sudah memilki pasukan gerilya yang berjuang melawan penjajah.

Saat itu, Nusantara masih menjadi bagian-bagian dan para pejuang hanya menghalau penjajah dari daerah masing-masing untuk mempertahankan kedaulatan.

Di Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau ada pasukan Gerilya Elang Pulai. Sebagai pejuang, mereka memiliki benteng pertahanan. Namun, benteng yang mereka miliki ini tidak biasa, sebab tak kasat mata oleh pasukan belanda.

Sehingga, pasukan Elang Pulai ini, sulit dibasmi oleh penjajah lantaran selalu berlindung di benteng Elang Pulai, ketika mereka terdesak.

Hingga kini, benteng pertahanan ini, masih ada. Namun, sudah dijadikan hutan larangan oleh masyarakat, sebagai bentuk untuk mengenang pejuang di masa lalu.

Benteng ini berada di desa Pembatang Kecamatan Pangean Kabupaten Kuansing. Dari pusat desa setempat, titik benteng ini tampak jelas, karena pohon pulai ini masih berdiri kokoh menjulang ke atas.

Dinamakan Pasukan Elang Pulai, Pulai ini adalah sejenis pohon yang mempunyai ketahan serat kuat, masyarakat di masa lalu banyak memanfaatkan kayu ini sebagai bahan untuk pembangunan rumah.

Pohon ini juga diyakini, memiliki kekuatan gaib yang tidak bisa dijelaskan secara akal sehat, sebab pohon ini tumbuh tidak disembarang tempat.

Sedangkan Elang, adalah burung elang konon katanya, elang ini bukan elang sembarangan dimulutnya terpasang rantai dan rantai ini juga diyakini memiliki kekuatan gaib.

Berdasarkan cerita orang masyarakat, elang ini juga banyak membantu perjuangan pasukan Elang Pulai, disaat penjajah akan menyerbu, Elang ini akan memberi tanda dengan cara terbang mengitari pohon pulai tersebut, yang berarti ada musuh.

Hingga kini Elang Pulai ini, oleh masyarakat desa Padang Kunyit Pangean, diabadikan menjadi nama jalur Olang Barantai, yang diambil dari kisah tersebut. Hal ini juga bentuk mengenang pasukan ini.

Dari keterangan orang tua-tua, burung Elang ini sesekali masih ada menampakkan diri dengan rantai yang bergelayut dimulutnya. Elang ini menurut cerita yang pernah melihatnya, cukup besar. Namun, ia tidak mengganggu.

Kemudian untuk mengenang sejarah perjuangan pasukan Elang Pulai ini, didirikan prasasti Tugu Elang Pulai di desa Pasar Baru, dusun Penghijauan tepat berada di tepi jalan lintas arah Rengat.

Dari keterangan orang tua di Pangean, anggota pasukan ini sudah banyak yang meninggal. "Kalaupun ada yang hidup paling tak beberapa orang," terang Yasmin (88) orang tua di Pangean, Selasa (9/10/2018) pagi.**

Sumber : riauterkini.com



Tulis Komentar +
Berita Terkait+