8 Orang Hilang Kontak di Kapal Menuju Anak Krakatau, Bawa 5 Jurnalis Media Nasional

Delapan orang, termasuk lima jurnalis media nasional, dilaporkan hilang kontak di perairan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Banten, sejak Senin (7/9/2026) sore.
Penulis: Redaksi
Rabu, 09 September 2026 | 00:15:31 WIB

JAKARTA — Sebuah kapal motor yang mengangkut delapan orang termasuk lima jurnalis media nasional dilaporkan hilang kontak di perairan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Banten. Insiden putus komunikasi tersebut terjadi sejak Senin (7/9/2026) sore saat rombongan berlayar untuk memantau peningkatan aktivitas vulkanik gunung api aktif tersebut.

Rombongan berlayar menembus perairan Selat Sunda untuk mendokumentasikan erupsi Gunung Anak Krakatau. Kawasan vulkanik tersebut tengah menunjukkan lonjakan aktivitas yang signifikan. Para pewarta bermaksud merekam kondisi visual gunung api langsung dari batas perairan aman.

Komposisi Lengkap Delapan Penumpang Kapal

Kapal motor tersebut membawa total delapan penumpang saat bertolak menuju area erupsi. Komposisi rombongan terdiri atas lima jurnalis media nasional, satu pemandu lokal, seorang nakhoda, serta satu anak buah kapal (ABK). Keberadaan nakhoda dan ABK bertugas mengendalikan laju kapal menyusuri perairan Selat Sunda.

Identitas kelima jurnalis yang bertugas mencakup M. Bagus Khoirunnas selaku pewarta foto Kantor Berita Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, dan Yudistiro Pranoto dari iNews.id. Jurnalis Anadolu Agency Firman Daus serta pewarta foto lepas Donal Husni turut melengkapi tim peliputan lapangan tersebut. Tiga awak lokal mendampingi mereka selama pelayaran.

Keberangkatan rombongan dimulai dari Dermaga Pagedongan, Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten. Mereka lepas tali pada Senin (7/9/2026) tepat pukul 14.00 WIB. Menurut jadwal perjalanan awal, perahu semestinya sudah merapat kembali ke daratan Carita pada pukul 20.00 WIB.

Kronologi Putus Kontak Menjelang Sore Hari

Pelayaran awalnya berjalan sesuai rencana keberangkatan dari Carita. Namun, kabar mengenai keberadaan rombongan mendadak berhenti total menjelang petang. Waktu kepulangan pada jam delapan malam terlewati tanpa kedatangan kapal.

Sinyal pelacak sempat terkirim singkat dari perairan. Pada pukul 14.42 WIB, salah satu pewarta mengirim share location terakhir kepada jurnalis di Lampung bernama Abay. Tepat pukul 15.04 WIB, sambungan komunikasi sepenuhnya terputus.

Pemandu kapal sempat mengirim laporan singkat kepada istrinya sekitar pukul 16.00 WIB yang mengabarkan kondisi rombongan dalam keadaan aman. Panggilan telepon itu menjadi kontak terakhir dari atas kapal. Selepas pukul empat sore, saluran komunikasi mati total.

Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, menegaskan urutan waktu hilangnya kontak rombongan peliput tersebut. "Komunikasi terakhir korban dengan jurnalis Lampung atas nama Abay bahwa pada pukul 14.42 WIB (7/9/2026) mengirim share location terakhir dan pada pukul 15.04 WIB terjadi hilang kontak," kata Al Amrad.

Gunung Anak Krakatau sendiri berada di kawasan Selat Sunda dan merupakan gunung api yang aktivitasnya terus dipantau otoritas terkait. Lonjakan erupsi yang terjadi memicu kebutuhan laporan visual aktual bagi media massa. Kebutuhan data lapangan inilah yang melatarbelakangi keberangkatan rombongan lima pewarta tersebut.

Operasi SAR Hadapi Ancaman Abu Vulkanik dan Gelombang

Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten langsung mengerahkan tim SAR gabungan begitu menerima laporan resmi kapal terlambat kembali. Regu penolong menyisir koordinat perairan sekitar Gunung Anak Krakatau yang menjadi rute rombongan. Operasi ini menuntut kewaspadaan tingkat tinggi.

Penyelamatan di lapangan menghadapi tantangan berat karena berada di sekitar gunung api yang tengah aktif. Sebaran abu vulkanik serta dinamika gelombang laut Selat Sunda harus terus diperhitungkan demi keselamatan regu penyelamat. Manuver kapal SAR disesuaikan dengan kondisi alam yang berbahaya.

Operasi penyisiran terus berlangsung hingga Rabu (9/9/2026). Tim gabungan memperluas radius pencarian ke sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi terakhir atau arah hanyutnya kapal. Hingga kini, delapan penumpang yang terdiri atas lima jurnalis, seorang pemandu, nakhoda, serta ABK masih belum ditemukan.

Kabar hilangnya kontak dengan kapal pembawa jurnalis ini menuai keprihatinan luas dari kalangan pers dan masyarakat. Doa serta dukungan mengalir agar operasi SAR di perairan Selat Sunda segera membuahkan hasil. Seluruh personel kapal diharapkan dapat dievakuasi dalam kondisi selamat.

Identitas 5 Jurnalis yang Hilang Kontak

NoNamaMedia/Status
1M. Bagus KhoirunnasPewarta Foto Kantor Berita Antara
2Ari BasukiPewarta Foto Merdeka.com
3Yudistiro PranotoPewarta Foto iNews.id
4Firman DausJurnalis Anadolu Agency
5Donal HusniPewarta Foto Lepas/Freelance

Komposisi 8 Orang di Kapal

PeranJumlah
Jurnalis5 orang
Pemandu/Guide1 orang
Nakhoda1 orang
Anak Buah Kapal (ABK)1 orang

Kronologi Kejadian

WaktuKejadian
Senin, 7 September 2026, 14.00 WIBRombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Pandeglang, Banten, menuju perairan Gunung Anak Krakatau. Perkiraan kembali pukul 20.00 WIB.
14.42 WIBSalah satu jurnalis mengirim share location terakhir kepada jurnalis Lampung bernama Abay.
15.04 WIBKomunikasi dengan rombongan terputus/hilang kontak.
16.00 WIBPemandu (guide) sempat terakhir kali melaporkan kondisi aman kepada istrinya.
Rabu, 9 September 2026Tim SAR gabungan (Basarnas) melanjutkan operasi pencarian, menyisir titik-titik yang diperkirakan menjadi lokasi terakhir kapal.

Pernyataan Resmi Basarnas

Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, menyatakan: “Komunikasi terakhir korban dengan jurnalis Lampung atas nama Abay bahwa pada pukul 14.42 WIB (7/9/2026) mengirim share location terakhir dan pada pukul 15.04 WIB terjadi hilang kontak.”

Berita ini akan terus diperbarui mengikuti perkembangan operasi pencarian dan keterangan resmi dari pihak berwenang.

Reporter: Redaksi