Komdigi Targetkan Indonesia Jadi Kekuatan Ekonomi Digital 2040, Infrastruktur Jadi Kunci

Menteri Komdigi menyatakan pertumbuhan sektor ICT Indonesia konsisten di atas delapan persen per tahun selama 10-15 tahun terakhir.
Penulis: Ragil
Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:02:01 WIB

TIRAINEWS.COM — Pernyataan Edwin ini bukan sekadar wacana. Ia menyebut pertumbuhan sektor ICT Indonesia konsisten berada di atas 8% per tahun selama 10-15 tahun terakhir, jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan 80% penduduk yang sudah terkoneksi internet, pasar digital Indonesia punya fondasi yang kuat untuk berkembang.

Namun, ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan. Meski 92% pekerja Indonesia sudah familiar dengan AI, baru sekitar 15% yang memanfaatkannya secara produktif. Kesenjangan ini menjadi tantangan utama agar teknologi tidak hanya dipakai untuk cari informasi, tapi benar-benar mendorong produktivitas ekonomi.

Infrastruktur Fisik Jadi Modal Utama

Edwin menggambarkan ekosistem digital seperti bangunan bertingkat. Di lapisan paling dasar ada jaringan fiber optik, menara telekomunikasi, dan data center. Di atasnya baru cloud, komputasi, data, dan aplikasi layanan digital. AI beroperasi di berbagai lapisan, tapi tetap bergantung pada infrastruktur fisik di bawahnya.

Karena itu, Komdigi sedang merancang ulang master plan infrastruktur digital untuk lima tahun ke depan. Penguatan konektivitas menjadi prioritas utama, karena tanpa jaringan yang kuat, semua ambisi di atas kertas tidak akan berjalan.

Strategi 6C untuk Mengejar Ketertinggalan

Untuk mewujudkan target 2040, Komdigi mengandalkan enam pilar yang disebut strategi 6C:

- Connectivity: Penguatan jaringan dan infrastruktur digital secara menyeluruh. - Capital: Dukungan investasi untuk infrastruktur, riset, dan perusahaan teknologi lokal. - Competencies: Peningkatan kualitas talenta digital. Indonesia disebut butuh lebih dari sembilan juta orang dengan kompetensi digital. - Commerce: Perluasan pemanfaatan transaksi digital di berbagai sektor. - Compliance: Regulasi yang tidak hanya melindungi, tapi juga memungkinkan pertumbuhan industri. - Collaboration: Kerja sama antara pemerintah, perusahaan teknologi, dan masyarakat sipil.

Edwin menegaskan bahwa kepatuhan regulasi tidak boleh menjadi penghambat inovasi. "Kepatuhan bukan hanya untuk melindungi. Kepatuhan harus memungkinkan pertumbuhan. Pemerintah dapat bertindak sebagai katalis untuk mempercepat pertumbuhan ekosistem," ujarnya di BATIC 2026.

Regulasi yang Tidak Menghambat Inovasi

Pendekatan ini juga diterapkan dalam penyusunan aturan digital. Pemerintah akan fokus mengatasi kegagalan pasar, konsentrasi pasar, asimetri informasi, dan dominasi data, bukan sekadar mengontrol industri. "Tujuan kami bukan mengatur kesuksesan, tetapi memastikan pasar digital tetap kompetitif, inovatif, dan memberikan manfaat bagi kemakmuran ekonomi," kata Edwin.

Untuk pengembangan AI, pemerintah telah menyelesaikan roadmap yang mencakup investasi, riset, sumber daya, data, etika, dan kebijakan. Inklusivitas menjadi prinsip utama agar manfaat AI dan cloud bisa dirasakan lebih luas, bukan hanya dinikmati segelintir korporasi besar.

Pada akhirnya, ambisi menjadi raksasa ekonomi digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan investasi. Edwin menekankan pentingnya institusi yang inklusif, pembangunan sumber daya manusia, serta transparansi dan akuntabilitas. "Yang paling penting adalah transparansi dan akuntabilitas untuk membangun kepercayaan," pungkasnya.

Reporter: Ragil