Puncak Kemarau Landa 80 Persen Wilayah Indonesia, Titik Panas Melonjak di Kalimantan dan Sebaran Asap Masuk Papua Pegunungan

Titik panas terpantau meningkat signifikan di Kalimantan pada 25 Agustus 2026, dengan Kalimantan Tengah mencatat lonjakan dari 113 menjadi 352 titik.
Penulis: Saiful
Jumat, 28 Agustus 2026 | 08:19:31 WIB

JAYAPURA — Kondisi kering yang melanda mayoritas wilayah Indonesia memasuki fase kritis pada pekan terakhir Agustus 2026. Berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9 pada 25 Agustus 2026, peningkatan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terjadi signifikan di Pulau Kalimantan, sementara sebaran asap mulai menjangkau wilayah timur Indonesia, termasuk Papua Pegunungan dan Papua Selatan.

Fenomena ini dipicu oleh El Niño kategori sangat kuat yang memperpanjang musim kemarau. Dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor pertanian, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap serta menurunkan kualitas udara di permukiman.

Lonjakan Titik Panas di Kalimantan dan Penurunan di Sumatera

Data satelit menunjukkan eskalasi drastis titik panas di tiga provinsi Kalimantan. Kalimantan Tengah mencatat lonjakan tertinggi dari 113 menjadi 352 titik, disusul Kalimantan Barat yang naik dari 92 menjadi 140 titik, dan Kalimantan Timur dari 30 menjadi 63 titik.

Sebaliknya, sejumlah provinsi di Sumatera mengalami penurunan jumlah titik panas yang cukup tajam. Sumatera Selatan turun dari 298 menjadi 63 titik, Jambi dari 15 menjadi 1 titik, dan Riau dari 9 menjadi 0 titik pada periode yang sama.

Sebaran Asap Terdeteksi Hingga Papua Pegunungan

BMKG mendeteksi sebaran asap yang terbawa pola angin meluas ke sejumlah wilayah. Selain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung, kabut asap juga terpantau di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Kabut asap yang memasuki wilayah Papua Pegunungan berpotensi mengganggu visibilitas penerbangan perintis serta meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bagi masyarakat setempat.

Suhu Udara Tembus 36 Derajat Celcius di Sejumlah Daerah

Minimnya tutupan awan sejak pagi hingga siang hari memicu pemanasan permukaan bumi secara intensif. Pada periode 23–26 Agustus 2026, suhu udara maksimum tercatat melampaui 36,0 derajat Celcius di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Lampung, Aceh, dan Medan.

Kondisi ini berdampak pada penurunan kenyamanan termal masyarakat, peningkatan kebutuhan air bersih, serta risiko terhadap kesehatan dan produktivitas, terutama pada siang hingga sore hari.

Hujan Lokal Masih Turun di Sumatera Bagian Utara

Meski kemarau mendominasi, curah hujan signifikan masih terjadi di sebagian wilayah Sumatera. Pada periode 24–26 Agustus 2026, hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat tercatat di Sumatera Utara mencapai 110 mm/hari, Sumatera Barat 90 mm/hari, Kepulauan Riau 63 mm/hari, dan Jambi 56 mm/hari.

Intensitas hujan ini dipengaruhi kombinasi dinamika atmosfer regional seperti Gelombang Kelvin yang aktif di Sumatera bagian tengah, terbentuknya daerah belokan dan pertemuan angin, serta suhu muka laut yang hangat di perairan barat dan utara Sumatera. Faktor lokal berupa pemanasan permukaan dan topografi turut mendukung pertumbuhan awan hujan.

Proyeksi Curah Hujan Sepekan ke Depan

BMKG memprakirakan curah hujan pada periode Agustus III hingga September II 2026 berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 mm per dasarian. Curah hujan rendah di bawah 50 mm per dasarian masih mendominasi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua.

Masyarakat di wilayah terdampak karhutla diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, sementara pemerintah daerah diminta menyiagakan posko pengaduan serta memastikan ketersediaan air bersih bagi warga.

Reporter: Saiful