Danantara Kelola 12 Proyek Prioritas, dari Mobil Listrik hingga Giant Sea Wall
TIRAINEWS.COM — Paragraf pembuka: Mandat itu disampaikan Managing Director Development Investment DDMF, Rachmat Kaimuddin, dalam acara HHP Law Firm bertajuk Mobilizing Capital and Strategic Certainty for Indonesia's Next Growth Phase di Jakarta, Rabu (9/9). Menurut dia, DDMF diberi ruang untuk menempatkan investasi jangka sangat panjang dan menerima return di bawah standar komersial. Posisi itu membuat DDMF bisa menyalurkan pembiayaan bersifat konsesional untuk proyek yang dianggap strategis.
"Dimandatkan bahwa kami bisa melakukan very long term investment, dan kami juga bisa mengambil return yang di bawah commercial. So we can give concessional financing," kata Rachmat.
Dua Belas Proyek Terbagi ke Tiga Sektor
Dari 12 proyek yang masuk pipeline, Rachmat baru menyebut beberapa program yang menjadi fokus awal. Ada Mobil Nasional (Mobnas), Motor Listrik Nasional (Molinas), dan gasifikasi batu bara. Ketiganya ia nilai sudah cukup publik untuk disampaikan ke luar.
Secara keseluruhan, proyek-proyek itu tersebar di tiga sektor prioritas. Pada sektor kemandirian energi dan air, DDMF menyiapkan Mobnas, utility-scale solar and storage, Molinas, serta gasifikasi batu bara.
Sektor hilirisasi dan industrialisasi diisi industri semikonduktor, farmasi, logam tanah jarang, dan tekstil. Sementara sektor infrastruktur, perumahan, dan ketahanan bencana mencakup giant sea wall, infrastruktur konektivitas, perumahan dan smart cities, serta pengelolaan sampah.
Struktur Pembiayaan Belum Final
Rachmat belum bisa membeberkan struktur maupun nilai investasi masing-masing proyek. Sebab, seluruh skema masih melewati tahapan pre-feasibility study, feasibility study, hingga penyusunan struktur pembiayaan sesuai Perpres 28/2026.
Yang jelas, DDMF ingin dana yang dikucurkan berfungsi sebagai katalis. Investasi awal dari DDMF diharapkan menarik masuk pendanaan dari sektor swasta, bukan menggantikannya.
"Jadi hari ini belum bisa saya sampaikan dulu struktur, tempatnya seperti apa, tapi nanti kita atur memang tujuan kami adalah mengkatalis dana dari kami dan juga dari private sector," ujar Rachmat.
Gasifikasi Batu Bara Dinilai Bisa Naikkan Nilai Tambah
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mochammad Firman Hidayat, menilai proyek-proyek itu berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi jika terealisasi. Gasifikasi batu bara ia contohkan sebagai langkah yang menaikkan nilai tambah komoditas di dalam negeri, mirip pola hilirisasi nikel.
"Kalau proses gasifikasi akhirnya mirip dengan nikel. Yang tadinya kita raw material, kemudian sekarang kita olah sehingga ada nilai tambahnya," kata Firman.
Untuk mobil dan motor listrik nasional, Firman menekankan pentingnya membangun ekosistem industri di dalam negeri. Indonesia sudah punya ekosistem kendaraan listrik yang berkembang. Penguatan komponen dan rantai pasok domestik akan menahan nilai tambah tetap berada di dalam negeri, bukan mengalir ke luar.
Konsolidasi BUMN Jadi Kunci Kapasitas Investasi
Firman juga menyoroti peran konsolidasi badan usaha milik negara. Kontribusi BUMN terhadap perekonomian tergolong besar, tetapi produktivitas sebagian perusahaan masih perlu dipacu.
Konsolidasi diyakini membuat BUMN punya skala bisnis lebih besar dan beroperasi lebih efisien. Dengan begitu, perusahaan pelat merah diharapkan lebih lincah sekaligus punya kapasitas investasi lebih kuat untuk menopang proyek strategis nasional.
Penutup: Bagi pasar, pipeline DDMF ini menjadi sinyal bahwa pembiayaan proyek jangka panjang bakal bergeser ke pola yang lebih fleksibel, dengan dana negara berperan sebagai pemancing modal swasta. Yang masih ditunggu pelaku usaha adalah kepastian struktur dan nilai investasi tiap proyek, yang baru akan terlihat setelah seluruh kajian kelayakan rampung.