JAKARTA, TIRAINEWS.COM — Rupiah terhadap dolar AS bergerak dua arah pada Senin (14/9/2026), dibuka menguat tipis ke Rp17.607 pukul 09.05 WIB sebelum berbalik melemah 38 poin ke Rp17.649 pukul 10.57 WIB. Pembalikan arah terjadi seiring indeks dolar AS yang terus menguat dari 99,19 ke 99,33. Pergerakan intraday ini menandai hari pertama perdagangan pekan ini setelah rupiah ditutup melemah 0,36% pada Jumat (11/9/2026).
Pergerakan rupiah hari ini berlangsung singkat tapi tajam. Dibuka menguat 0,02% atau 4 poin ke Rp17.607 per dolar AS pukul 09.05 WIB, mata uang Garuda hanya bertahan di zona hijau kurang dari dua jam.
Pada pukul 10.57 WIB, rupiah berbalik melemah 0,22% atau 38 poin menuju Rp17.649 per dolar AS. Indeks dolar AS tercatat menguat 0,21% ke posisi 99,33 pada waktu yang sama, naik dari 99,19 saat pembukaan.
Dari Rp17.607 ke Rp17.649 dalam 112 Menit
Selisih level pembukaan dan titik terlemah siang ini mencapai 42 poin. Rentang itu terbentuk hanya dalam 112 menit perdagangan, menunjukkan tekanan jual terhadap rupiah berjalan cepat.
Penguatan indeks dolar AS menjadi pemicu langsung. Begitu indeks bergerak dari 99,19 ke 99,33, rupiah kehilangan momentum apresiasi yang sempat diraih di awal sesi.
Posisi Rp17.649 siang ini juga sudah melampaui level penutupan Jumat (11/9/2026) di Rp17.611. Artinya, rupiah sudah melewati titik akhir pekan lalu hanya dalam hitungan jam.
Mata Uang Asia Terbelah, Ringgit dan Rupee Ikut Tertekan
Tekanan terhadap rupiah sejalan dengan pergerakan sebagian mata uang Asia. Ringgit Malaysia turun 0,09%, rupee India melemah 0,28%, dan peso Filipina turun 0,26% pada perdagangan sebelumnya.
Sebaliknya, sejumlah mata uang regional justru menguat. Won Korea naik 0,38%, disusul yen Jepang 0,10%, baht Thailand 0,09%, yuan China 0,03%, dan dolar Singapura 0,02%.
Pola ini menunjukkan tekanan tidak merata di Asia. Rupiah berada di kelompok mata uang yang tertekan, bersama ringgit, rupee, dan peso.
Harga Minyak Brent US$107,63 Per Barel Jadi Penekan Struktural
Faktor utama yang membebani rupiah adalah ketegangan geopolitik Iran-Amerika Serikat yang kini memasuki bulan ketujuh. Konflik tersebut disebut sebagai salah satu pertempuran terparah dalam beberapa bulan terakhir dan mengganggu distribusi minyak mentah dunia.
Dampaknya terlihat pada harga minyak mentah Brent. Per 10 September 2026, Brent berada di level US$107,63 per barel, melonjak dari US$71,80 per barel pada Juli 2026.
Kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN 2026 meningkatkan risiko defisit fiskal. Beban subsidi BBM membengkak karena Indonesia merupakan importir neto minyak.
Proyeksi Analis: Rentang Rp17.610-Rp17.650 Hari Ini
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif di rentang Rp17.610-Rp17.650 sepanjang hari ini. Proyeksi tersebut berada di sekitar level aktual yang sudah terbentuk siang ini.
Untuk sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp17.500-Rp17.850. Rentang lebar itu mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi dari sisi eksternal.
Yang perlu dicermati, pergerakan siang ini sudah menyentuh batas atas proyeksi harian tersebut. Jika indeks dolar AS terus menguat, ruang rupiah untuk kembali ke zona hijau semakin sempit menjelang penutupan.
Data Kurs Rupiah/USD, Senin 14 September 2026
| Waktu | Kurs | Indeks Dolar AS |
|---|---|---|
| 09.05 WIB | Rp17.607 (menguat 0,02% / 4 poin) | 99,19 |
| 10.57 WIB | Rp17.649 (melemah 0,22% / 38 poin) | 99,33 |
Mata Uang Asia Lain (Jumat, 11 September 2026)
| Mata Uang | Pergerakan |
|---|---|
| Ringgit Malaysia | −0,09% |
| Rupee India | −0,28% |
| Peso Filipina | −0,26% |
| Won Korea | +0,38% |
| Dolar Singapura | +0,02% |
| Yuan China | +0,03% |
| Baht Thailand | +0,09% |
| Yen Jepang | +0,10% |
Harga minyak mentah Brent per 10 September 2026 berada di level US$107,63 per barel, melonjak dari US$71,80 per barel pada Juli 2026, dipicu ketegangan geopolitik Iran-Amerika Serikat yang memasuki bulan ketujuh.
Analis PT Traze Andalan Futures memproyeksikan rupiah bergerak di rentang Rp17.610–Rp17.650 hari ini dan Rp17.500–Rp17.850 dalam sepekan ke depan. Data pergerakan pasar bersifat dinamis dan dapat berubah.