Trump Desak The Fed Pangkas Suku Bunga ke 1% Usai Kenaikan Pertama Sejak 2023

Presiden AS Donald Trump menyampaikan desakan pemangkasan suku bunga The Fed melalui platform Truth Social.
Penulis: Saiful
Kamis, 17 September 2026 | 13:02:01 WIB

TIRAINEWS.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Federal Reserve memangkas suku bunga acuan hingga 1% atau lebih rendah, hanya beberapa jam setelah bank sentral AS menaikkan bunga untuk pertama kali dalam lebih dari tiga tahun. Trump menilai tingginya kelayakan kredit AS semestinya membuat negara itu menikmati biaya pinjaman terendah di dunia.

Desakan itu disampaikan Trump melalui platform Truth Social, Kamis (17/9/2026), melansir Anadolu. Menurutnya, perekonomian AS tengah mengalami lonjakan investasi baru sehingga tidak ada alasan menanggung tingkat bunga yang tinggi.

"Suku bunga di Amerika Serikat seharusnya 1%, atau lebih rendah, karena kita memiliki kredit terbaik di dunia, jauh dibandingkan negara lain," tulis Trump.

Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah Federal Open Market Committee (FOMC) yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh secara bulat memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan tekanan inflasi yang masih tinggi.

The Fed Naikkan Bunga ke 3,75%–4%, Pertama Sejak Juli 2023

Dalam pernyataannya, Warsh menyampaikan FOMC pada Rabu (16/9/2026) memutuskan menaikkan kisaran target Fed Funds Rate menjadi 3,75%–4%. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak Juli 2023 dan mengakhiri periode suku bunga bertahan di level 3,5%–3,75% sejak Desember 2025.

Keputusan itu diambil secara bulat dengan perolehan suara 12–0. Tidak ada satu pun anggota FOMC yang menolak, setelah tiga presiden bank regional The Fed sebelumnya mendukung kenaikan bunga pada pertemuan Juli 2026.

"Dalam pertemuan tersebut, FOMC memutuskan untuk menaikkan kisaran target FFR menjadi 3,75%–4% untuk mendukung mandat ganda Federal Reserve," ujar Warsh pada Rabu (16/9/2026) waktu Amerika Serikat atau Kamis (17/9/2026) dini hari waktu Indonesia.

Tekanan harga energi membuat posisi The Fed untuk mempertahankan bunga semakin sulit ketika inflasi masih jauh dari sasaran.

Trump Kritik Dewan The Fed: Tidak Bersahabat dan Sangat Politis

Kritik Trump berlanjut saat berbicara kepada wartawan setelah mendarat di North Carolina pada Rabu. Dia kembali menegaskan bahwa suku bunga saat ini terlalu tinggi dan menilai AS semestinya membayar bunga terendah di dunia karena memiliki kredit terkuat.

Trump mengaku telah berbicara dengan Warsh terkait kebijakan tersebut. Dia juga melontarkan kritik terhadap jajaran pengambil kebijakan di bank sentral AS.

"Suku bunga terlalu tinggi. Kita seharusnya membayar suku bunga terendah di mana pun di dunia karena kita memiliki kredit terkuat," katanya.

"Anda sebaiknya memilih bersama dewan [Federal Reserve] karena itu tidak akan berpengaruh," kata Trump menceritakan percakapannya dengan Warsh.

Menurut Trump, jajaran The Fed bersikap tidak bersahabat dan sangat politis. Kendati terus mengkritik kebijakan bank sentral, Trump mengatakan dirinya menginginkan The Fed tetap independen.

Riwayat Perselisihan Trump dan The Fed

Trump selama ini berulang kali berselisih dengan The Fed mengenai tingkat suku bunga dan mendorong biaya pinjaman turun hingga 1% atau lebih rendah. Desakan terbaru ini menandai babak baru ketegangan antara Gedung Putih dan bank sentral AS di tengah tekanan inflasi yang belum mereda.

Kenaikan suku bunga acuan ke level 3,75%–4% menjadi sinyal bahwa The Fed masih memprioritaskan pengendalian harga dibanding permintaan pelonggaran moneter dari pemerintah. Bagi pelaku pasar global, termasuk investor di Indonesia, arah kebijakan The Fed ke depan akan menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan dolar AS dan arus modal ke negara berkembang.

Reporter: Saiful