Mobil Listrik Merek Jepang Cuma Kuasai 0,22 Persen Pasar BEV Indonesia

Pasar mobil listrik nasional tumbuh pesat, namun merek Jepang hanya menguasai 0,22 persen pangsa pasar BEV.
Penulis: Ragil
Jumat, 18 September 2026 | 10:02:01 WIB

TIRAINEWS.COM — Total penjualan mobil listrik murni merek Jepang di Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 hanya 225 unit dari keseluruhan 101.171 unit BEV yang terdistribusi. Angka itu setara 0,22 persen pangsa pasar, kalah telak dari merek China yang menguasai hampir seluruh penjualan. Satu model Jaecoo J5 saja tercatat 23.359 unit, hampir 104 kali lipat gabungan seluruh BEV Jepang.

Data wholesales atau distribusi pabrik ke dealer yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan pasar mobil listrik nasional tumbuh pesat. Sepanjang Januari-Agustus 2026, total BEV yang terdistribusi mencapai 101.171 unit, naik signifikan dibanding periode sama tahun lalu yang hanya 50.749 unit. Namun pertumbuhan itu nyaris tidak dinikmati merek Jepang.

Rincian Penjualan BEV Merek Jepang Januari-Agustus 2026

Dari sembilan model BEV merek Jepang yang tercatat di data Gaikindo, hanya sebagian yang benar-benar bergerak di pasar. Dua model bahkan tidak terdistribusi sama sekali.

  • Toyota bZ4x: 73 unit
  • Honda E:N1: 55 unit
  • Honda Super One: 46 unit
  • Lexus ES350E BEV: 21 unit
  • Suzuki e Vitara: 13 unit
  • Toyota Urban Cruiser: 4 unit
  • Mazda MX-30 BEV: 2 unit
  • Mitsubishi L100EV: 0 unit
  • Nissan Leaf: 0 unit

Jika dijumlahkan, totalnya 225 unit. Toyota memimpin di antara merek Jepang lewat bZ4x, disusul dua model Honda. Sementara Mitsubishi dan Nissan belum mencatatkan distribusi satu unit pun untuk model listrik murni mereka.

Jaecoo J5 Sendirian Kalahkan Seluruh BEV Jepang

Jarak dengan merek China terlihat dari satu contoh saja. Jaecoo J5, model dari brand asal Tiongkok, terdistribusi 23.359 unit dan menjadi BEV terlaris di Tanah Air. Jumlah itu hampir 104 kali lipat total gabungan seluruh mobil listrik merek Jepang.

Dominasi merek China tidak hanya soal volume satu model. Mereka merilis banyak lini produk sekaligus, mulai dari city car mungil, SUV perkotaan, hingga MPV mewah. Pilihan yang luas membuat konsumen punya banyak alternatif di berbagai rentang harga.

Harga Tidak Kompetitif Jadi Faktor Utama

Ada beberapa alasan mengapa mobil listrik Jepang kurang diminati. Faktor utama adalah harga yang tidak kompetitif dibanding penawaran merek China. Selisih harga membuat konsumen cenderung memilih opsi yang lebih murah dengan fitur setara.

Keberagaman model juga jadi penentu. Pilihan EV dari merek Jepang di Indonesia sangat terbatas, baik dari sisi jumlah model maupun segmen yang dicakup. Sementara pabrikan China agresif menambah varian hampir tiap semester.

Toyota dan Honda Masih Fokus Hybrid

Toyota, Honda, Mitsubishi, dan Suzuki tampaknya masih menempatkan teknologi hybrid (HEV) sebagai prioritas ketimbang langsung beralih ke listrik murni. Strategi itu berbeda dengan pabrikan China yang sejak awal melompat ke BEV.

Pendekatan hybrid memang masuk akal untuk pasar yang infrastruktur pengisiannya belum merata. Namun di segmen BEV, konsekuensinya jelas: pangsa pasar merek Jepang tertahan di angka 0,22 persen sepanjang delapan bulan pertama 2026.

Reporter: Ragil