Pakar Sebut Daratan Baru di Anak Krakatau Endapan Vulkanik, Bukan Gunung Api Baru

Daratan baru seluas 32,8 hektare muncul di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau pasca erupsi menerus selama kurang lebih 25 jam.
Penulis: Ragil
Kamis, 24 September 2026 | 10:42:31 WIB

TIRAINEWS.COM — Daratan baru seluas 32,8 hektare muncul di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau pasca erupsi menerus selama kurang lebih 25 jam. Edukator Mitigasi Bencana IABI Daryono menegaskan daratan itu merupakan endapan material vulkanik, bukan gunung api baru. PVMBG mendeteksi perluasan ini melalui citra satelit Sentinel di sektor barat laut hingga barat daya gunung.

Edukator Mitigasi Bencana Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan daratan tersebut terdiri dari abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut. Proses penumpukan berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas vulkanik hingga akhirnya muncul ke permukaan.

Bagaimana Daratan Baru Ini Terbentuk

Menurut Daryono, terbentuknya daratan di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung dipengaruhi kombinasi faktor geologis dan oseanografis. Dasar laut di area cekungan atau kaldera akibat letusan Gunung Krakatau 1883 tergolong dangkal, sehingga material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi.

Lontaran batuan, magma, dan aliran lava selama erupsi dominan menuju area tersebut. Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda turut memengaruhi perpindahan endapan dengan membawa material erosi ringan ke titik perairan yang lebih tenang, sampai mengendap secara permanen.

Deteksi Satelit PVMBG

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menyampaikan perluasan daratan ini terdeteksi melalui evaluasi citra satelit Sentinel. Penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau terjadi di sektor barat laut, barat, hingga barat daya.

Citra satelit juga menangkap kemunculan gumuk pulau kecil di sebelah barat laut dan tenggara Anak Krakatau. Munculnya kedua daratan baru ini diduga kuat berkaitan dengan erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam.

Interpretasi sementara PVMBG menunjukkan magma encer yang keluar saat letusan mencapai permukaan melalui jalur bukaan atau rekahan memanjang dari barat laut ke tenggara. Material erupsi yang menyembur dari jalur tersebut menumpuk dan membentuk daratan baru di lokasi terpisah.

Mengapa Belum Bisa Disebut Gunung Api Baru

Daryono menegaskan daratan ini belum dapat dikategorikan sebagai gunung api baru karena tidak memenuhi tiga kriteria geologis utama. Pertama, sebuah daratan harus memiliki saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui celah rekahan baru dan terpisah dari kawah induknya.

Kedua, daratan itu harus menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga. Ketiga, daratan tersebut harus memiliki struktur geologis serta deformasi sendiri melalui aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawahnya.

Nasib Daratan ke Depan

Endapan ini mungkin makin membesar atau justru lenyap kembali, tergantung seberapa kuat pengaruh aktivitas vulkanik dan erosi alam di perairan tersebut. Jika Gunung Anak Krakatau terus erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan meluas dan kepadatannya semakin kokoh karena terus dilapisi lava cair yang membeku menjadi batuan keras.

Sebaliknya, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yang belum padat hingga menghilang dari permukaan. Longsoran bawah laut atau letusan erupsi besar juga disebut bisa menghancurkan struktur muda ini dalam waktu singkat.

Imbauan untuk Masyarakat

Daryono mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu spekulatif yang beredar di media sosial. Kemunculan daratan baru ini, katanya, adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif.

Masyarakat juga diminta tetap tenang, tidak panik, dan selalu mematuhi rekomendasi jarak aman yang ditetapkan petugas di lapangan, yakni pada radius 2 kilometer dari pusat erupsi.

Reporter: Ragil