ASII Borong 4,95% Saham AUTO Rp858 M, PGEO Tuntaskan 5 Sumur Panas Bumi

ASII menyiapkan dana maksimal Rp858,39 miliar untuk memborong 238,44 juta saham AUTO melalui voluntary tender offer pada 13 Oktober–11 November 2026.
Penulis: Yasir
Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:03:31 WIB

TIRAINEWS.COM — PT Astra International Tbk (ASII) menyiapkan dana maksimal Rp858,39 miliar untuk memborong 238,44 juta saham Astra Otoparts (AUTO) lewat voluntary tender offer (VTO) yang berlangsung 13 Oktober hingga 11 November 2026. Aksi korporasi ini menjadi bagian dari langkah ASII memperkuat kendali atas bisnis komponen otomotifnya, di tengah kinerja penjualan mobil yang tumbuh 12,62 persen sepanjang kuartal III 2026.

Penjualan Mobil ASII Tumbuh Dua Digit

Hingga kuartal III 2026, ASII mencatat penjualan mobil wholesales sebanyak 334.987 unit. Angka itu tumbuh 12,62 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 297.437 unit.

Kontribusi terbesar datang dari Toyota dan Lexus sebanyak 198.873 unit, disusul Daihatsu 112.442 unit. Di segmen kendaraan komersial, Isuzu menyumbang 22.975 unit dan UD Trucks 697 unit.

Pada segmen LCGC, ASII menguasai pangsa pasar sekitar 80 persen dengan volume 66.903 unit. Secara keseluruhan, penjualan ASII menyumbang 49,33 persen dari total penjualan mobil wholesales nasional sebanyak 679.018 unit.

PGEO Rampungkan Lima Sumur Panas Bumi

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menyelesaikan pengeboran lima sumur panas bumi di tiga wilayah operasional sepanjang 2026. Rinciannya, satu sumur eksplorasi GTG-B.1 di Gunung Tiga yang rampung pada 9 Juni 2026, plus empat sumur penopang produksi atau make-up well di Lumut Balai, Ulubelu, dan Lahendong.

Di Lumut Balai, pengeboran itu menopang pengembangan Unit 3 berkapasitas 55 MW. Saat ini PGEO mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW, atau sekitar 70 persen dari total kapasitas panas bumi nasional.

VIVA Konversi Utang Rp1,72 Triliun Lewat Saham Baru

PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) berencana menerbitkan maksimal 43,09 miliar saham baru Seri C bernominal Rp40 per saham. Aksi korporasi ini mengonversi utang PKPU senilai Rp1,72 triliun kepada PT Harta Abadi Jaya (HAJ) dan PT Jayakarta Sugih Makmur (JSM) sebagai pelaksanaan Putusan Homologasi.

Karena berbentuk konversi utang, VIVA tidak memperoleh dana baru dari aksi tersebut. HAJ dan JSM merupakan pihak terafiliasi di bawah kendali PT Bakrie Global Ventura (BGV). Harga pelaksanaan akan ditetapkan pada nilai tertinggi antara Rp40 per saham atau rata-rata harga penutupan selama 25 hari bursa sebelum permohonan pencatatan.

Pemegang saham eksisting akan mengalami dilusi 72,35 persen. Meski begitu, rasio liabilitas terhadap ekuitas VIVA diperkirakan turun dari 11,78 kali menjadi 1,86 kali, seiring peningkatan ekuitas dari Rp496,10 miliar menjadi Rp2,22 triliun. Rencana ini akan dimintakan persetujuan dalam RUPSLB pada 17 November 2026, dengan pencatatan saham baru di BEI dijadwalkan 3 Desember 2026.

IHSG Melemah, Sektor Energi Terkoreksi Paling Dalam

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,59 persen ke level 5.936,15 pada perdagangan Senin (12/10). Seluruh 11 sektor saham berakhir di zona merah, dengan sektor Energy turun paling dalam 5,88 persen dan sektor Health paling terbatas 0,72 persen.

Sejumlah saham tetap menguat, seperti INKP naik 4,83 persen, MLPT bertambah 8,74 persen, dan BBRI menguat 0,32 persen. Di sisi lain, DSSA turun 14,60 persen, BREN terkoreksi 11,48 persen, dan BBCA melemah 1,65 persen.

Investor asing mencatatkan pembelian bersih Rp81,10 miliar di pasar reguler, atau Rp128,29 miliar jika memperhitungkan seluruh pasar. Bursa global bergerak beragam: Dow Jones naik 0,38 persen ke 51.850, S&P 500 turun tipis 0,06 persen ke 7.807, dan Nasdaq melemah 0,44 persen ke 27.245.

Pelaku pasar masih mencermati ketidakpastian evaluasi MSCI, termasuk perkembangan pembekuan perubahan indeks. Tekanan itu terlihat pada ETF EIDO yang turun 1,85 persen dan indeks MSCI Indonesia yang terkoreksi 1,23 persen.

Penutup: Deretan aksi korporasi ASII, PGEO, dan VIVA menunjukkan emiten masih aktif merapikan struktur bisnis dan keuangan di tengah tekanan pasar. Bagi investor, tiga langkah ini menjadi penanda arah strategi jangka menengah masing-masing perusahaan.

Reporter: Yasir