Harga Ayam di Pekanbaru Tembus Rp 47 Ribu per Kg, DPRD Desak Pemkot Audit Distribusi hingga Tuntaskan Pasar Induk
PEKANBARU — Lonjakan harga ayam di Pekanbaru yang menembus Rp 47.000 per kilogram memicu reksi keras dari DPRD setempat. Kenaikan ini dinilai sudah tidak wajar dan membebani daya beli warga di tengah tekanan ekonomi.
Datuk Seri Rizky Bagus Oka, politisi Partai Gerindra yang juga Ketua Kadin Kota Pekanbaru, menyebut harga ayam seharusnya berada di kisaran Rp 28.000 hingga Rp 30.000 per kilogram. Ia mendesak pemerintah kota bergerak cepat, bukan sekadar memantau perkembangan harga di lapangan.
Program MBG Bukan Dalih untuk Biarkan Harga Melambung
Rizky menegaskan bahwa tingginya permintaan pasokan ayam untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak bisa dijadikan alasan terjadinya kelangkaan di pasar tradisional. Program strategis nasional itu harus berjalan, tetapi tidak boleh mengorbankan masyarakat kecil.
“Tingginya permintaan pasokan ayam untuk MBG bukan dalih yang bisa diterima untuk menciptakan kelangkaan dan membebani masyarakat di pasar tradisional,” kata Rizky, Sabtu (22/8/2026).
Ia meminta Pemko Pekanbaru mengatur penyerapan ayam dari peternak secara presisi. Kebutuhan untuk MBG dan pasokan bagi pedagang kecil harus terpenuhi secara bersamaan agar tidak terjadi ketimpangan distribusi.
Audit Jalur Distribusi dan Prioritas Bio Solar
Langkah konkret yang diminta DPRD adalah audit menyeluruh terhadap jalur distribusi ayam, mulai dari distributor besar hingga pengecer. Audit ini penting untuk menemukan penyebab kenaikan harga sekaligus memastikan tidak ada pihak yang sengaja menahan pasokan demi keuntungan.
“Pemko harus mengambil tindakan nyata di lapangan demi menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” tegasnya.
Selain audit, Rizky mendorong Pemko berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk memberikan jalur prioritas pengisian Bio Solar bagi armada logistik pangan. Langkah ini dinilai krusial agar pengiriman ayam dari peternak ke pasar tidak terhambat antrean bahan bakar yang kerap terjadi.
Pasar Induk Pekanbaru Jadi Kunci Stabilisasi Harga
Dalam jangka menengah, Rizky mendesak Pemko segera menuntaskan dan mengoperasikan Pasar Induk secara penuh. Keberadaan pasar induk dinilai vital sebagai pusat kendali logistik pangan di ibu kota Provinsi Riau tersebut.
“Kehadiran pasar induk mutlak diperlukan sebagai pusat kendali logistik, transparansi pasokan, serta benteng stabilisasi harga pangan di Pekanbaru,” jelasnya.
Dengan adanya pasar induk, rantai pasok komoditas pangan bisa lebih transparan dan pemerintah memiliki instrumen untuk mengintervensi harga ketika terjadi gejolak di tingkat pedagang pengecer.