TIRAINEWS.COM — Danantara tengah mengkaji penggabungan PT Pertamina Gas (Pertagas) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk memperkuat bisnis gas dari hulu ke konsumen akhir. Rencana ini muncul saat Indonesia masih bergantung pada impor LPG, sementara pasokan gas bumi domestik belum termanfaatkan penuh. Jika terwujud, penggabungan ini bisa mengubah peta industri gas nasional dan mempercepat masuknya CNG ke rumah tangga.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sedang menimbang penggabungan dua perusahaan gas milik negara, PT Pertamina Gas (Pertagas) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Langkah itu diarahkan agar bisnis gas kedua perusahaan berjalan lebih efisien hingga ke konsumen akhir.
Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, menyatakan pihaknya belum menetapkan struktur final aksi korporasi tersebut. Fokus utama ada pada lini midstream dan downstream.
"Ini sedang kita kaji bagaimana polanya nanti. Namun, yang paling penting adalah perusahaan gas kita akan bermain di sektor midstream dan downstream," ujar Dony di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Kamis (1/10/2026).
Dua Perusahaan, Satu Wilayah Bisnis yang Tumpang Tindih
Pertagas dan PGN saat ini sama-sama menggarap penyaluran gas, termasuk jaringan gas (jargas) untuk rumah tangga. Tumpang tindih itu membuat penggabungan dipandang bisa memangkas duplikasi biaya operasional.
Dony menegaskan belum ada keputusan soal entitas holding yang akan menaungi hasil merger. Kajian masih berjalan dengan mempertimbangkan efisiensi serta analisis biaya dan manfaat.
"Ada beberapa pilihan struktur yang sedang kita kaji untuk menentukan mana yang terbaik antara Pertagas, PGN, dan entitas terkait lainnya. Intinya, kita cari yang paling menguntungkan bagi Indonesia," jelasnya.
Ia menambahkan, setiap skema memiliki konsekuensi berbeda. "Belum bisa diputuskan perusahaan holding-nya. Tentu kita lihat cost and benefit-nya dulu. Jika skemanya A manfaatnya apa, jika skemanya B manfaatnya apa. Nanti pasti kita pilih yang terbaik," tambah Dony.
CNG Jadi Andalan Tekan Impor LPG
Di sisi lain, anak usaha PGN, PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), mendorong penggunaan compressed natural gas (CNG) sebagai pengganti LPG impor. Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menyebut CNG berasal dari gas bumi dalam negeri sehingga mendukung kemandirian energi.
"CNG ini murni domestik, bukan produk impor. Jadi, asli milik Indonesia," ujar Santiaji di Sleman, Rabu (19/8/2026).
Pemanfaatan CNG tidak hanya untuk industri. PGN Gagas juga mengembangkan penyaluran ke rumah tangga lewat sistem jaringan klaster, serta pelanggan komersial dengan skema point-to-point.
Bagaimana Gas Sampai ke Yogyakarta
Yogyakarta menjadi salah satu contoh daerah tanpa sumber gas dekat. Karena itu, pengiriman gas bumi ke wilayah tersebut mengandalkan CNG.
"Di Yogyakarta tidak ada sumber gas yang dekat, sehingga pengiriman gas bumi ke wilayah tersebut dilakukan menggunakan sistem CNG," kata Santiaji.
Dalam distribusinya, gas dikompresi lebih dulu dan diangkut memakai Gas Transport Module (GTM). Setelah tiba di lokasi, tekanan gas diturunkan melalui Pressure Regulating Station (PRS) sebelum disalurkan ke pelanggan.
"Biasanya penyaluran gas menggunakan pipa jika lokasinya dekat dengan sumber gas. Karena Jogja jauh dari sumber gas, solusinya adalah memanfaatkan teknologi CNG," jelasnya.
Skema ini membuat masyarakat di daerah tanpa sumber gas lokal tetap mendapat akses gas bumi secara merata.
Penutup: Bagi pelaku pasar, arah penggabungan Pertagas dan PGN menjadi sinyal konsolidasi BUMN energi yang bisa mengubah lanskap bisnis gas nasional. Yang masih ditunggu adalah struktur finalnya — dan seberapa besar penghematan yang benar-benar bisa dikunci dari penggabungan itu.