Tirainews.com - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Tanam ribuan bibit pohon beringin di Desa penyangga kawasan Suaka Marga Satwa Giam Siak Kecil Desa Tuah Indrapura, Kecamatan Bungaraya, Kabupaten Siak Sri Indrapura dalam upaya pelestarian dan pemulihan kawasan Konservasi dengan memberdayakan masyarakat.
"Desa Tuah Indrapura ini merupakan desa penyangga yang berbatasan dengan kawasan suaka marga satwa Giam Siak Kecil yang sangat dikenal dengan pembalak liarnya, jadi kita punya program khusus untuk memberdayakan masyarakatnya," kata Plh Kabid Wilayah II Balai Besar KSDA Riau MB Hutajulu, Rabu (18/08/2021).
Dia mengatakan, tahun ini direncanakan memberi bantuan kepada masyarakat melalui pembentukan kelompok masyarakat. Selain itu juga ada program penanaman bibit buah-buahan dan juga bibit pohon beringin di desa ini.
"Di mana program khusus dan bantuan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap hutan dan hasil hutan yang ada di suaka marga satwa. Oleh karena itu kita punya program bagaimana caranya agar masyarakat dapat mengurangi aktivitas di hutan atau bahkan menghilangkannya, sehingga mereka dapat beraktivitas diluar kawasan dengan adanya bantuan dari kita," kata Hutajulu.
BBKSDA berencana melakukan penanaman 1000 bibit pohon beringin sepanjang 14 Km di dekat kanal yang mengarah kekawasan suaka marga satwa giam siak kecil ke Desa Tuah Indrapura.
"Kenapa beringin yang kita pilih, karena jika kita tanam sampai besar masyarakat tidak tertarik untuk menebangnya dan beringin itu sendiri adalah rumah bagi banyak satwa. Menurut kepercayaan masyarakat bahwa pohon beringin tanaman yang menyeramkan," ungkapnya.
Selain itu manfaat pohon beringin untuk mencegah abrasi, longsor dan juga menahan air dan lain sebagainya. Jadi dengan harapan daerah yang ditanami beringin tetap lestari dan hijau.
Di samping itu, ada juga kelompok-kelompok masyarakat yang sudah mulai membangun aktivitas lainnya seperti pengembangan teh gaharu, jahe, aren dan lainnya. "Harapan kita kedepannya, semoga masyarakat dapat berkembang dari segi ekonomi sehingga masyarakat makmur hutan tetap terjaga dengan baik," harapnya.
Masyarakat menyambut positif langkah yang diambil BBKSDA Riau. Salah seorang anggota kelompok masyarakat, Anton Budi Hartono mengatakan kegiatan ini dapat membuat masyarakat menjadi lebih sadar tentang pentingnya pelestarian hutan.
"Dulu pekerjaan saya pembalak liar dan mengolah kayu hutan, karena kebutuhan hidup dan rata-rata masyarakat di sini tergantung kepada kayu hutan yang ada kecamatan Bungaraya bahkan kawasan suaka margasatwa Giam Siak Kecil dan itu kita ambil semuanya," terangnya.
"Tak mungkin tidak ada pekerjaan selain kayu, Alhamdulillah pada tahun 2012 kami memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan itu karena saya tahu bahwa pekerjaan yang kami lakukan dulu ilegal dan beresiko besar," tambah Anton.
Kata dia, masyarakat sangat termotivasi karena sekarang teknologi udah canggih dan dinas kehutanan pernah menyampaikan juga bahwa tanaman gaharu mempunyai prospek bagus sehingga kami tertarik untuk menanam.
"Saya berharap kepada rekan-rekan yang masih aktif menebang kayu di hutan yang ada dikawasan Suaka Marga Satwa Giam Siak Kecil ataupun hutan lindung lainnya untuk berhenti, karena masih banyak cara yang baik untuk mendapatkan rezeki daripada menebang pohon hutan yang dilindungi," ungkapnya.