TIRAINEWS.COM — Sektor manufaktur roda empat Indonesia terus membuktikan kapasitas produksinya di pasar global. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), volume ekspor mobil utuh dari Indonesia mencapai 293.547 unit sepanjang periode Januari hingga Juli 2026.
Capaian tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 3,5 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pasar ekspor kini menjadi bantalan krusial di tengah dinamika penjualan kendaraan di dalam negeri.
Kandungan Lokal Melampaui 60 Persen untuk Model ICE
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa produk otomotif rakitan lokal yang dikirim ke mancanegara memiliki basis rantai pasok domestik yang solid. Struktur komponen lokal menjadi pembeda penting dalam peta manufaktur regional.
"Memang pasar ekspor kita belum banyak segmen dari EV, masih segmen dari ICE. Tapi yang menjadi catatan bahwa produk-produk yang diekspor dari apa yang diproduksi kita itu hampir sebagian besar memiliki TKDN di atas 60 persen. Jadi merek boleh apa, tapi sebetulnya nilai TKDN mereka yang mobil2 atau kendaraannya diekspor itu sudah 60 persen nilai TKDN-nya, bahkan di atas 60 persen," ujar Agus dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI.
Klaim TKDN di atas 60 persen ini menunjukkan peran industri rantai pasok lapis pertama hingga ketiga di Indonesia yang menyuplai komponen mesin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE), bodi, hingga interior kendaraan.
Daftar Pabrikan yang Aktif Mengekspor Mobil Rakitan Indonesia
Ekspor kendaraan roda empat dari fasilitas manufaktur lokal didukung oleh merek-merek mapan asal Jepang, Korea Selatan, hingga China. Jalur perakitan domestik melayani pengiriman ke puluhan negara tujuan.
Pabrikan yang tercatat aktif mengekspor unit buatan pabrik lokal meliputi:
- Toyota dan Daihatsu: Tulang punggung volume produksi ekspor mobil penumpang di Indonesia.
- Mitsubishi Motors dan Suzuki: Mengandalkan fasilitas perakitan MPV dan SUV untuk pasar global.
- Hyundai: Memasok pasar regional dari basis produksi pabrik Cikarang.
- Honda dan Isuzu: Mempertahankan alokasi ekspor untuk model komersial dan penumpang.
- Wuling dan Hino: Menggarap pasar ekspor kendaraan niaga serta penumpang berbasis perakitan lokal.
Dorongan Parlemen untuk Penetrasi Pasar Maju
Potensi industri perakitan dalam negeri turut menjadi sorotan dalam rapat kerja tersebut. Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Daulay, menekankan perlunya transformasi orientasi industri dari sekadar pasar konsumen menjadi produsen berdaya saing global.
"Indonesia ini kan sudah memang pasarnya mobil. Sudah berpuluh-puluh tahun. Saya katakan negara lah ya, Jepang, Korea, bahkan negara-negara Eropa jual sini. Bahkan Amerika juga dulu jual ke sini," kata Saleh.
Saleh menambahkan bahwa arah kebijakan semestinya mendorong mobil rakitan anak bangsa melaju di kawasan-kawasan maju, termasuk benua Eropa.
"Saya lihat nih Presiden menginginkan kita ini menciptakan industri betul-betul industri otomotif yang kalau bisa bukan hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi memang kita jual ke pasar global," ujarnya.
"Saya rasa-rasanya bangga banget kalau ketemu mobil Indonesia dipakai di katakanlah di Eropa lah. Negara pinggirnya saja, nggak usah ke Inggris lah, pinggir mana gitu di Eropa gitu. Ada buatan Indonesia jalan di situ kan bangga, Pak. Itu belum dapat duit kita itu. Itu kan duitnya perusahaan sini misalnya, tapi ada mobil Indonesia bisa bergerak di sana," ucap Saleh.
Catatan Evaluasi: Tantangan Transisi Ekspor ke Segmen EV
Meski angka pengiriman mencapai ratusan ribu unit, industri otomotif nasional menghadapi tantangan struktural yang perlu segera diantisipasi:
- Ketergantungan Mesin ICE: Mayoritas volume ekspor masih bertumpu pada mobil bermesin pembakaran internal. Ketika pasar global memperketat regulasi emisi, diversifikasi produk menjadi kebutuhan mendesak.
- Portofolio EV Masih Minim: Ekspor kendaraan elektrifikasi buatan lokal belum berkontribusi signifikan terhadap total volume ekspor 293 ribu unit tersebut.
- Target Destinasi Baru: Penetrasi ke pasar dengan standar keselamatan dan emisi tinggi, seperti Eropa, membutuhkan konsistensi mutu manufaktur dan rantai pasok teknologi tinggi.