Pencarian

Kredit BRI Tembus Rp1.646 Triliun, Laba Bersih Naik Jadi Rp31,2 T

Senin, 07 September 2026 • 09:02:31 WIB
Kredit BRI Tembus Rp1.646 Triliun, Laba Bersih Naik Jadi Rp31,2 T
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti memaparkan kinerja keuangan perseroan pada konferensi pers di Jakarta, Senin (31/8).

TIRAINEWS.COM — Kinerja keuangan bank pelat merah ini menunjukkan akselerasi yang seimbang antara ekspansi bisnis dan mitigasi risiko. Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti memaparkan hasil evaluasi tengah tahun tersebut dalam konferensi pers resmi di Jakarta pada Senin (31/8).

Perseroan membukukan kenaikan laba bersih konsolidasian sebesar 17,5% YoY menjadi Rp31,2 triliun. Pada periode yang sama, total aset BRI Group ikut terkerek 11,7% YoY hingga menembus angka Rp2.352 triliun.

Kualitas Pembiayaan Membaik di Seluruh Lini

Laju ekspansi kredit yang mencapai Rp1.646 triliun tidak diiringi pembengkakan kredit macet. Rasio Non-Performing Loan (NPL) BRI justru melandai dari posisi 3,0% pada Triwulan II 2025 menjadi 2,9% pada penutupan Triwulan II 2026.

Kondisi portofolio yang kian sehat terlihat pula dari penurunan rasio Loan at Risk (LaR). Indikator risiko kredit ini menyusut ke level 9,1% per Triwulan II 2026, membaik dibanding posisi 9,6% pada akhir 2025.

Dampak langsung dari penurunan profil risiko tersebut adalah efisiensi pada pencadangan. Biaya risiko atau Cost of Credit (CoC) berhasil ditekan ke angka 3,1% pada akhir Triwulan II 2026, turun dari posisi 3,4% pada Q2 2025.

Ety menegaskan bahwa perseroan menjalankan kontrol risiko dari hulu ke hilir untuk memilah debitur yang layak.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap pertumbuhan memiliki kualitas yang baik sejak awal. Karena itu, pengelolaan risiko dilakukan secara end-to-end, mulai dari proses pipeline akuisisi dan seleksi debitur, monitoring kualitas kredit, hingga collection dan recovery,” jelas Ety.

Disiplin Seleksi di Sektor UMKM

Strategi pertumbuhan selektif diarahkan penuh pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi motor utama perseroan. Sebaran kantor cabang serta basis nasabah yang luas di berbagai daerah menjadi bantalan alami dalam memitigasi gejolak ekonomi regional.

Penguatan sistem deteksi dini (early warning system) serta fungsi penagihan terus dimaksimalkan agar pembiayaan rakyat tidak berubah menjadi beban neraca.

“Model bisnis berbasis UMKM memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar karena langsung menyentuh aktivitas produktif masyarakat. Pada saat yang sama, kami terus membuktikan bahwa portofolio tersebut dapat dikelola dengan tingkat risiko yang memadai. Dengan pengelolaan risiko yang disiplin, UMKM dapat terus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan BRI sekaligus memperkuat kontribusi perseroan terhadap ekonomi kerakyatan,” pungkas Ety.

“Pertumbuhan kredit dan pembiayaan BRI pada Triwulan II 2026 berada di atas industri perbankan dan diikuti dengan perbaikan kualitas aset secara berkelanjutan. Hal ini mencerminkan bahwa ekspansi yang kami lakukan tetap berjalan secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kami terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas kredit agar pertumbuhan BRI dapat berkelanjutan dalam jangka panjang,” ujar Ety.

Langkah BRI mengombinasikan seleksi ketat pada debitur baru dan pengawasan ketat portofolio lama membuktikan ekspansi pembiayaan masif tetap bisa berjalan beriringan dengan perbaikan rasio risiko.

Sumber: liputan6.com

Follow tirainews.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks