Pentagon Periksa 50 Staf Gabungan dengan Tes Poligraf soal Kebocoran Data Perang Iran

Pentagon memeriksa 50 personel Staf Gabungan dengan tes poligraf terkait kebocoran data operasi militer melawan Iran.
Penulis: Ragil
Sabtu, 05 September 2026 | 12:02:32 WIB

TIRAINEWS.COM — Investigasi internal ini diungkap oleh The New York Times pada Selasa (17/6/2025) dengan mengutip pernyataan pejabat pemerintah yang mengetahui jalannya penyelidikan. Para penyelidik dilaporkan mulai memeriksa para perwira militer dan pegawai sipil di lingkungan Staf Gabungan pada bulan lalu.

Pemeriksaan dengan alat poligraf tersebut menyasar kebocoran yang mengungkap detail operasional militer AS, khususnya terkait cadangan amunisi yang disebut telah menipis akibat konflik berkepanjangan dengan Iran. Tes poligraf sendiri bukan alat yang secara langsung mendeteksi kebohongan, melainkan mengukur perubahan respons fisiologis tubuh—seperti detak jantung, tekanan darah, dan keringat—saat seseorang menjawab pertanyaan.

Respons Resmi Pentagon: Investigasi Serius, Rincian Ditutup

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, enggan memberikan komentar spesifik mengenai operasi internal ini. Namun, ia menegaskan komitmen institusinya terhadap keamanan nasional.

"Departemen tidak berkomentar mengenai masalah internal personel atau penyelidikan, namun menanggapi dengan sangat serius setiap kebocoran informasi rahasia keamanan nasional dan melakukan penyelidikan sebagaimana mestinya," kata Parnell dalam pernyataan resminya kepada surat kabar tersebut.

Penegasan ini muncul di tengah meningkatnya sensitivitas Washington terhadap aliran informasi intelijen dan militer yang berpotensi membahayakan operasi di lapangan maupun posisi tawar diplomatik AS.

Kebocoran yang Menyingkap Kerentanan Logistik Perang

Fokus utama penyelidikan adalah pada laporan yang menyebutkan bahwa persediaan amunisi AS telah menipis secara signifikan. Informasi ini dinilai krusial karena dapat memberikan gambaran kepada lawan mengenai kapasitas tempur dan daya tahan militer AS dalam skenario konflik jangka panjang.

Pengungkapan semacam ini juga berpotensi memicu perdebatan di Kongres mengenai kesiapan militer dan alokasi anggaran pertahanan. Para analis menilai bahwa kebocoran yang menyangkut logistik seringkali lebih sensitif dibandingkan data strategis lainnya, karena langsung berbicara mengenai kemampuan industri dan rantai pasok pertahanan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai apakah seluruh 50 personel yang menjalani tes poligraf telah dinyatakan bersih, atau apakah investigasi telah menemukan pihak yang bertanggung jawab atas kebocoran tersebut.

Konteks Ketegangan: Operasi Militer dan Pengawasan Internal yang Diperketat

Langkah pemeriksaan massal ini terjadi di tengah memanasnya kembali ketegangan antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah. Operasi militer yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir telah menguras cadangan logistik, menjadikan isu amunisi sebagai salah satu topik paling sensitif di lingkaran pertahanan.

Pemerintah Trump sendiri dikenal memiliki pendekatan agresif terhadap kebocoran informasi. Sejak periode pertama kepemimpinannya, upaya menelusuri sumber informasi ke media telah menjadi prioritas, dengan berbagai departemen meningkatkan penggunaan poligraf dan audit keamanan internal.

Langkah Pentagon ini juga mengirimkan sinyal tegas kepada personel militer dan sipil bahwa pelanggaran protokol kerahasiaan akan berhadapan dengan konsekuensi serius, meskipun efektivitas tes poligraf sebagai alat investigasi masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan dan praktisi hukum.

Reporter: Ragil