Anak Krakatau Erupsi Lagi Pukul 07.10 WIB, Amplitudo Capai 50 Milimeter
TIRAINEWS.COM — Penutupan operasional melanda tiga bandara di Pulau Jawa dan Sumatera menyusul eskalasi erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu, 6 September 2026. Gangguan ruang udara ini memicu pembatalan belasan penerbangan internasional dan penghentian jadwal terbang domestik. Otoritas kebencanaan menetapkan zona bahaya tiga kilometer dari kawah aktif.
Informasi penutupan tiga fasilitas transportasi udara tersebut tercantum dalam Natural Disaster Alert yang dirilis Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta pada 6 September 2026. Perwakilan diplomatik itu meminta warga negaranya memantau kabar lokal terkini serta menjauhi kawasan rawan letusan.
Dampak terhadap jadwal terbang telah terdeteksi sejak malam sebelumnya. Sedikitnya 33 penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta terganggu per 5 September pukul 22.00 WIB, mencakup 16 penerbangan internasional yang dibatalkan, 7 penerbangan ditunda, dan 5 rute dijadwalkan ulang.
Sebaran Abu Capai 50.000 Kaki
BMKG memperbarui data pergerakan abu vulkanik lewat citra satelit Himawari-9 pukul 04.00 WIB bersama PVMBG dan VAAC Darwin. Analisis meteorologi mendeteksi dua klaster sebaran material letusan di atmosfer.
Klaster pertama berada di ketinggian permukaan hingga 20.000 kaki yang melingkupi wilayah Banten, sebagian DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Klaster kedua terpantau membubung hingga 50.000 kaki, melayang lebih jauh melintasi Lampung, Banten, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, hingga kawasan Samudra Hindia.
Intensitas Letusan Tertinggi Sepanjang Tahun
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda ini mencatatkan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026. Letusan beruntun terdeteksi sejak Jumat malam, 4 September, berlanjut pada Sabtu, 5 September, hingga Minggu dini hari.
Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat letusan beruntun lewat instrumen pemantau pada Minggu dini hari.
"Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Minggu, 06 September 2026, pukul 03:53 WIB. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 46 mm dan durasi 30 detik."
Petugas pengamatan gunung api, Rioboniek Situmorang, melaporkan erupsi susulan pada pukul 07.10 WIB dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi 16 detik. Ketinggian kolom abu pada dua letusan tersebut tidak teramati secara visual karena kabut dan proses erupsi masih berjalan saat pencatatan data.
Badan Geologi menegaskan status gunung api tersebut bertahan di Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026. Rekomendasi ketat diberlakukan bagi keselamatan warga maupun pelancong di perairan Selat Sunda.
"Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati G. Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif."
Otoritas perhubungan mengimbau seluruh calon penumpang pesawat untuk memeriksa status keberangkatan secara berkala ke pihak maskapai selama proses pembaruan informasi ruang udara berlangsung.