Penjualan Pertamax Green Tembus 132 KL per Hari, Melonjak 446% sejak Awal 2025
TIRAINEWS.COM — PT Pertamina Patra Niaga mencatatkan lompatan penjualan signifikan untuk produk Pertamax Green 95. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo mengungkapkan, tren kenaikan rata-rata penjualan harian produk E5 ini mencapai 446 persen sejak awal tahun lalu.
"Kalau kita melihat dari sisi penjualan rata-rata harian tren kenaikannya lebih tinggi yaitu mencapai 446 persen," ujar Mars Ega dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Selasa (8/9).
Lonjakan Penjualan dari 17 KL menjadi 132 KL per Hari
Angka tersebut merupakan lompatan besar dari posisi Januari 2025 yang masih berkisar 17 KL per hari. Jika ditotalkan sejak awal 2025 hingga Agustus 2026, tren penjualan Pertamax Green tercatat naik 267 persen.
"Rata-rata sales penjualan Pertamax Green ini adalah 132 KL per hari. Ini meningkat cukup signifikan karena kalau kita melihat di awal tahun Januari itu masih sekitar 17 KL per hari," jelas Mars Ega.
Pertamax Green 95 pertama kali diluncurkan pada 2023. Produk ini merupakan bahan bakar minyak nonsubsidi dengan kualitas RON 95 yang mengandung campuran bioetanol 5 persen atau dikenal dengan sebutan E5, dan harganya mengikuti mekanisme pasar.
Distribusi Masih Terkonsentrasi di Jawa
Seiring meningkatnya permintaan, Pertamina Patra Niaga memperluas jaringan distribusi. Hingga saat ini, Pertamax Green telah tersedia di 190 SPBU, namun penyebarannya masih terpusat di Pulau Jawa.
Berikut rincian sebaran SPBU penyedia Pertamax Green per wilayah:
- Jawa Timur: 47 SPBU
- DKI Jakarta: 40 SPBU
- Jawa Barat: 53 SPBU
- Banten: 28 SPBU
- Jawa Tengah: 16 SPBU
- Daerah Istimewa Yogyakarta: 6 SPBU
Total penjualan yang meningkat 446% ini menunjukkan pergeseran preferensi konsumen terhadap BBM ramah lingkungan, setidaknya di wilayah yang sudah terjangkau distribusi.
Koordinasi Pasokan Bioetanol dengan Kementerian ESDM
Menghadapi permintaan yang tumbuh, Pertamina Patra Niaga berencana memperkuat sisi pasokan. Perusahaan akan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk memastikan ketersediaan bahan baku bioetanol.
"Kami juga akan terus mengembangkan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM khususnya dari sourcing atau penyedia bioetanolnya," pungkas Mars Ega.
Langkah ini menjadi krusial mengingat program pencampuran bioetanol merupakan bagian dari upaya pemerintah menekan emisi karbon dan mengurangi impor BBM. Perluasan jaringan SPBU di luar Jawa akan sangat bergantung pada kesiapan pasokan bioetanol domestik.