KNEKS Gandeng Kemenlu, Literasi Keuangan Syariah Diaspora Diperluas
TIRAINEWS.COM — Langkah ini menindaklanjuti program serupa yang sebelumnya dijalankan KNEKS bersama sejumlah pemangku kepentingan di Korea Selatan. Kegiatan itu difasilitasi KBRI Seoul dan menghasilkan capaian konkret: sekitar 65 persen diaspora yang mengikuti kegiatan terinklusi ke dalam layanan keuangan syariah.
Bentuk inklusi tersebut mencakup pembukaan rekening tabungan, tabungan emas, tabungan haji, hingga investasi pada instrumen keuangan syariah. Angka itu menjadi dasar KNEKS memperluas model literasi ke negara lain dengan memanfaatkan jaringan diaspora yang lebih luas.
Peran Kemenlu: Satu Data Diaspora hingga Jaringan Global
Kemenlu menyatakan dukungan melalui fasilitasi Satu Data Diaspora. Selain itu, Kemenlu akan menghubungkan KNEKS dengan Indonesian Diaspora Network Global dan Indonesian Diaspora Network United.
Dua jaringan itu menjadi kanal distribusi program literasi ke komunitas diaspora di berbagai negara. Dengan begitu, KNEKS tidak perlu membangun jaringan dari nol di setiap negara tujuan.
"KNEKS mendorong pelaksanaan berbagai program literasi, termasuk sharing session dan talkshow, dengan memanfaatkan jaringan diaspora Indonesia di berbagai negara," ujar Sutan dalam rilisnya, Kamis (10/9).
Program Literasi: Sharing Session dan Talkshow
Format kegiatan yang disiapkan mencakup sharing session dan talkshow. Keduanya dirancang agar mudah diikuti diaspora yang tersebar di berbagai zona waktu dan negara.
Pendekatan ini berbeda dari sosialisasi konvensional yang biasanya terpusat di dalam negeri. Sasaran utamanya adalah pekerja migran dan diaspora yang sudah memiliki penghasilan tetap di luar negeri, tetapi belum terhubung dengan layanan keuangan syariah.
Potensi pasarnya tidak kecil. Diaspora Indonesia yang bekerja di Korea Selatan, Malaysia, Taiwan, dan Timur Tengah memiliki arus penghasilan rutin yang selama ini sebagian besar mengalir ke produk keuangan konvensional.
Mengapa Diaspora Jadi Sasaran Prioritas
Diaspora punya karakteristik yang cocok untuk literasi keuangan syariah. Penghasilan mereka rutin, kebutuhan kiriman uang ke keluarga besar, dan sebagian berencana menunaikan ibadah haji.
Tabungan haji dan tabungan emas menjadi produk yang paling relevan dengan kebutuhan itu. Dua produk tersebut juga tercatat dalam hasil program di Korea Selatan.
Bagi industri keuangan syariah dalam negeri, perluasan literasi ke diaspora berpotensi menambah basis nasabah dari luar negeri. Bank syariah dan manajer investasi bisa mendapat kanal baru untuk menghimpun dana dari pekerja migran.
Namun, tantangan tetap ada. Literasi yang sudah terbentuk belum tentu berlanjut menjadi pembukaan rekening tanpa pendampingan berkelanjutan di negara penempatan.
Kolaborasi KNEKS dan Kemenlu ini belum menyebut target jumlah diaspora maupun negara sasaran secara spesifik. Tahap berikutnya adalah penyusunan program bersama dengan memanfaatkan data dan jaringan yang dimiliki Kemenlu.
Investasi mengandung risiko.