Ekspor Batu Bara RI 2025 Turun ke 390 Juta Ton, India-China Masih Jadi Andalan

BPS mencatat volume ekspor batu bara Indonesia 2025 turun menjadi 390,93 juta ton.
Penulis: Yasir
Jumat, 11 September 2026 | 08:22:31 WIB

TIRAINEWS.COMPasar ekspor batu bara Indonesia menghadapi tekanan yang semakin nyata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor 2025 turun ke 390,93 juta ton, sementara nilainya merosot 19,70 persen secara tahunan menjadi US$ 24,48 miliar dari sebelumnya US$ 30,49 miliar.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menyebut tren ini akan berlanjut. Energi terbarukan semakin menggerus pangsa batu bara di pasar global.

"Pasar global dalam lima tahun ke depan diperkirakan cenderung mengalami penurunan tipis, di mana tekanan energi terbarukan menjadi semakin kuat, sementara India dan kawasan Asia masih memberikan ruang untuk pertumbuhan," kata Tri, melansir Antara di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

India dan China Masih Menopang

Dari total ekspor 2025, India menyerap 100,24 juta ton dengan nilai US$ 4,97 miliar. China menyusul dengan 81,79 juta ton senilai US$ 4,58 miliar.

Negara tujuan berikutnya adalah Filipina 37,70 juta ton (US$ 2,20 miliar), Korea Selatan 28,29 juta ton (US$ 1,84 miliar), dan Jepang 27,17 juta ton (US$ 2,86 miliar). Lima negara ini menyerap sebagian besar pengiriman batu bara RI ke luar negeri.

Ketergantungan pada dua pasar utama, India dan China, membuat kinerja ekspor batu bara nasional sangat sensitif terhadap kebijakan energi kedua negara tersebut.

Produksi Nasional Mulai Dikurangi

Total produksi batu bara nasional 2025 mencapai 817,48 juta ton. Sebanyak 63,89 persen dialokasikan untuk ekspor, 30,2 persen untuk kebutuhan domestik, dan 5,9 persen menjadi stok.

Pemerintah tidak lagi mengejar volume produksi semata. Tri mengatakan pendekatan kini diarahkan pada keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar, dengan mempertimbangkan kewajiban pemenuhan pasar domestik (DMO), kondisi harga, logistik, serta keberlanjutan cadangan.

Melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, pemerintah menetapkan target produksi sekitar 600 juta ton. Angka ini jauh lebih rendah dibanding realisasi 2025 yang menembus 817,48 juta ton.

Efisiensi dan Hilirisasi Jadi Kunci

Perubahan kondisi pasar global akan memaksa produsen batu bara meningkatkan efisiensi dan menekan biaya produksi. Aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) juga dituntut semakin kuat.

Hilirisasi menjadi agenda lain yang didorong pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah batu bara dan memperpanjang rantai nilai komoditas di dalam negeri. Langkah ini sejalan dengan strategi pengurangan ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Bagi pelaku industri, kombinasi target produksi yang lebih rendah dan harga ekspor yang melemah berarti margin akan semakin ketat. Perusahaan batu bara yang mampu beroperasi efisien dan memiliki portofolio hilirisasi diprediksi lebih tahan menghadapi siklus penurunan permintaan global.

Reporter: Yasir