Manfaat Bersepeda untuk Jantung Sehat, Belajar dari Fans Lansia Como
TIRAINEWS.COM — Klub Serie A, Como 1907, menyediakan puluhan tiket khusus untuk fans lansia di laga debut Liga Champions melawan RB Leipzig. Laga itu jadi penampilan Eropa pertama Como sejak berdiri 119 tahun lalu, dan tiketnya langsung ludes.
Di kawasan Como, sepeda bukan sekadar alat transportasi. Warga di sana menjadikannya bagian dari gaya hidup dan olahraga harian. Situs resmi pariwisata Como bahkan menyediakan banyak rute bersepeda, dari rute keluarga sampai tanjakan berat untuk pesepeda berpengalaman.
Mengapa Bersepeda Baik untuk Jantung
Bersepeda termasuk aktivitas aerobik. Artinya, jantung, pembuluh darah, dan paru-paru bekerja bersamaan saat Anda mengayuh.
Saat bersepeda, Anda bernapas lebih dalam, berkeringat, dan suhu tubuh meningkat. Proses ini melatih kebugaran tubuh secara keseluruhan, bukan cuma otot kaki.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Emanoel Oepangat, SpJP(K) dari Siloam Hospitals, menjelaskan bahwa aktivitas ini menguatkan otot jantung.
"Kalau orang yang sudah rutin bersepeda, itu ototnya sudah terlatih jantungnya juga sudah terlatih," kata dr Noel kepada detikcom saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (10/9/2026).
Menurut dr Noel, bersepeda juga memperkuat otot betis. Efeknya, peredaran darah jadi lebih lancar dan tubuh lebih stabil saat bergerak.
Zona Denyut Nadi yang Aman Saat Gowes
Meski bermanfaat, dr Noel mengingatkan agar tidak memaksakan intensitas tinggi saat bersepeda. Alih-alih sehat, tubuh justru bisa berada dalam bahaya.
"Kita semua tahun ada namanya heart rate zone, zona denyut nadi. Itu 220 dikurangi umur, zona amannya itu adalah 60-80 persen dari angka itu," katanya.
Contoh mudahnya, jika Anda berusia 35 tahun, denyut nadi maksimal sekitar 185 per menit. Zona aman untuk berolahraga ada di kisaran 111-148 denyut per menit.
"Kalau seandainya dia jarang latihan, tidak rutin, tapi pada saat misalnya naik sepeda dia ngebut, nah denyut nadinya naik sampai melewati atau hampir 100 persen dari nadi maksimalnya. Nah, itu yang bahaya," tutupnya.
Mulai dari Mana untuk Ibu yang Sibuk
Anda tidak perlu langsung gowes jauh. Mulai dari 15-20 menit di sekitar komplek rumah, tiga kali seminggu, sudah cukup melatih jantung.
Pilih sepeda yang nyaman, atur tinggi sadel agar kaki hampir lurus saat pedal di posisi terendah, dan jangan lupa minum air sebelum serta sesudah bersepeda.
Jika punya kondisi jantung, hipertensi, atau sedang hamil, konsultasikan dulu ke dokter sebelum memulai rutinitas gowes.
Kapan Perlu Berhenti dan ke Dokter
Hentikan bersepeda dan segera cari bantuan medis jika Anda merasakan nyeri dada, sesak napas berat, pusing, atau jantung berdebar tidak wajar saat mengayuh.
Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah nyeri menjalar ke lengan, leher, atau rahang, serta keringat dingin tanpa sebab jelas. Ini bisa jadi sinyal jantung sedang bekerja di luar batas aman.
Gaya hidup aktif ala warga Como bisa jadi contoh sederhana. Tidak perlu mahal, cukup konsisten mengayuh sepeda dengan intensitas yang tepat, dan jantung Anda akan berterima kasih di kemudian hari.