Deretan Emiten Pemilik Ruas Tol: JSMR, CMNP, Astra hingga BUMN Karya
TIRAINEWS.COM — Kedelapan emiten tersebut adalah PT Astra International Tbk. (ASII), PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR), PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP), PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META), PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. (PTPP), dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA).
Portofolio mereka tersebar di berbagai wilayah. Karakter ruasnya pun beragam, dari jalan tol yang sudah beroperasi puluhan tahun hingga proyek yang masih dalam tahap pembangunan atau pengembangan.
Jejak Astra dari Tangerang-Merak hingga Trans Jawa
ASII menjalankan bisnis jalan tol lewat ASTRA Infra, dengan PT Astra Tol Nusantara sebagai subholding lini bisnis tersebut. Salah satu ruas utamanya adalah Jalan Tol Tangerang-Merak sepanjang sekitar 72,5 kilometer.
Ruas itu dioperasikan PT Marga Mandalasakti, yang 79,3% sahamnya dimiliki Astra Infra. Seluruh ruas Tangerang-Merak sudah beroperasi komersial sejak 1996 dengan masa konsesi hingga 2059.
Astra juga punya kepentingan pada Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) sepanjang 116,8 kilometer. Porsinya 45% saham di PT Lintas Marga Sedaya, operator ruas tersebut. Tol Cipali beroperasi penuh sejak 2015.
Berikutnya, Jalan Tol Jombang-Mojokerto sepanjang 40,5 kilometer yang sepenuhnya dimiliki Astra Infra melalui PT Marga Harjaya Infrastruktur. Ruas ini bagian dari jaringan Tol Trans Jawa dengan konsesi hingga 2055.
Di Jawa Tengah, Astra memegang 40% kepentingan pada Jalan Tol Semarang-Solo sepanjang 72,6 kilometer melalui PT Trans Marga Jateng. Ruas itu beroperasi bertahap hingga seluruh seksi aktif pada 2018.
Astra juga memiliki 40% kepentingan pada Jalan Tol Kunciran-Serpong sepanjang sekitar 11,2 kilometer lewat PT Marga Trans Nusantara. Ruas bagian dari jaringan JORR 2 itu mulai beroperasi pada 2019.
Portofolio META dari BSD sampai Makassar
META masuk bisnis jalan tol melalui PT Margautama Nusantara (MUN). Berdasarkan laporan perusahaan, META memegang 36,46% saham MUN.
MUN memiliki sejumlah entitas di sektor jalan tol, termasuk PT Bintaro Serpong Damai (BSD) dan PT Makassar Metro Network (MMN). MUN juga punya entitas asosiasi dan ventura bersama di bisnis yang sama.
Salah satu portofolionya adalah Jalan Tol Bintaro Serpong Damai sepanjang sekitar 7,25 kilometer yang beroperasi sejak 1999. META juga terkait dengan jaringan jalan tol di Makassar melalui PT Makassar Metro Network, termasuk jaringan yang terhubung ke akses Bandara Sultan Hasanuddin.
Selain itu, META punya kepentingan pada Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Elevated atau MBZ melalui PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JJC). MUN tercatat memiliki kepentingan pada JJC, pengelola ruas tol layang tersebut. Portofolio META juga mencakup keterlibatan dalam pengembangan JORR Elevated Cikunir-Ulujami sepanjang sekitar 21,6 kilometer.
ADHI: Kontraktor Sekaligus Pemilik Saham Proyek
ADHI punya karakter portofolio berbeda. Selain menjadi kontraktor pembangunan jalan tol, perseroan berinvestasi pada sejumlah entitas atau special purpose vehicle (SPV) yang berkaitan dengan proyek tol.
Berdasarkan paparan manajemen ADHI, beberapa proyek dalam portofolio investasi dan konsesi perseroan antara lain Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulon Progo, Yogyakarta-Bawen, Akses Patimban, Bogor-Serpong, dan JORR Elevated Cikunir-Ulujami.
Status proyeknya beragam. Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulon Progo dan Yogyakarta-Bawen masih terkait tahapan konstruksi dan pengembangan. Sementara Akses Patimban, Bogor-Serpong, dan JORR Elevated Cikunir-Ulujami berada dalam tahapan pengembangan berdasarkan data perusahaan.
ADHI juga tercatat memiliki entitas yang berkaitan dengan proyek tol, seperti PT Jasamarga Akses Patimban, PT Jasamarga Jogja Bawen, PT Jasamarga Jogjasolo, dan PT Bogor Serpong Infra Selaras.
Penutup: Peta kepemilikan ruas tol yang tersebar di delapan emiten ini menunjukkan bisnis infrastruktur tidak lagi terpusat pada operator murni. Bagi investor, laporan tahunan dan laporan keuangan tiap emiten menjadi rujukan utama untuk melacak ruas mana yang masuk portofolio dan seberapa jauh status konsesinya.