Pencarian

BMKG Perbarui Radar Sebaran Abu Krakatau di Enam Wilayah

Senin, 07 September 2026 • 06:42:02 WIB
BMKG Perbarui Radar Sebaran Abu Krakatau di Enam Wilayah
Abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau meluas ke enam wilayah hingga ketinggian 50.000 kaki.

TIRAINEWS.COM — Ruang udara di sebagian Pulau Jawa dan Sumatra terpapar material vulkanik menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Pembaruan sistem pemantauan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II per pukul 05.00 WIB mendeteksi pergerakan abu meluas ke DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, hingga Sumatra Selatan.

Kondisi ini memicu penurunan jarak pandang di permukaan tanah serta mengancam koridor penerbangan regional.

Ancaman Mesin Pesawat di Ketinggian 50.000 Kaki

Pantauan radar cuaca memperlihatkan fenomena pemisahan arah abu vulkanik di dua lapisan atmosfer yang berbeda. Partikel vulkanik pada lapisan tinggi hingga 15,24 kilometer (sekitar 50.000 kaki) terpantau bergerak ke arah barat daya hingga barat menuju Samudra Hindia.

Koridor ketinggian jelajah ini menjadi fokus utama karena bersinggungan langsung dengan rute pesawat jet komersial. Material silika pada abu vulkanik berisiko meleleh akibat panas ekstrem mesin turbin dan menyumbat aliran udara.

"Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat," kata Andri Ramdhani, Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG.

Guna mencegah insiden fatal di udara, BMKG menerbitkan peringatan Significant Meteorological Information (SIGMET) untuk Flight Information Region (FIR) Jakarta yang berlaku pada rentang waktu 03.30–06.30 WIB. Langkah mitigasi penerbangan ini menyusul kebijakan penutupan operasional sementara di beberapa bandara lokal pada 6 September.

Pola Sebaran Lapisan Rendah Menuju Pemukiman

Berbeda dengan lapisan atas, partikel abu pada lapisan atmosfer rendah di bawah 4,57 kilometer (sekitar 15.000 kaki) bergerak ke arah tenggara hingga barat laut. Pergerakan lambat ini didorong hembusan angin berkecepatan 5 knot atau 9 kilometer per jam.

Perbedaan arah terjadi karena kecepatan dan vektor angin di tiap lapisan atmosfer memiliki dinamika yang berlainan. Akibatnya, wilayah daratan perkotaan padat penduduk di Jabodetabek dan Banten merasakan dampak penurunan kualitas udara secara bersamaan.

"Masih terdapat sebaran Abu vulkanik yang menurunkan kualitas udara dan jarak pandang, serta pada ketinggian tertentu dapat mengganggu penerbangan," tulis BBMKG Wilayah II dalam pembaruan Senin (7/9/2026) pukul 05.00 WIB.

Langkah Pengamanan Bagi Warga Terdampak

Masyarakat yang tinggal di wilayah lintasan abu diimbau membatasi aktivitas fisik di ruang terbuka selama sebaran masih pekat. Masker pelindung pernapasan disarankan tetap digunakan saat keluar ruangan guna menghindari paparan partikel halus magma.

BMKG menyiagakan posko pemantauan atmosfer, laut, dan jalur udara di kawasan Selat Sunda selama 24 jam penuh. Pembaruan peta satelit dan buletin berkala disalurkan melalui kanal digital resmi BMKG serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Sumber: inet.detik.com

Follow tirainews.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks