Anak Keracunan Makanan? Ini Urutan Pertolongan Pertama Menurut IDAI

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, dr Yogi Prawira, memaparkan urutan pertolongan pertama pada anak yang mengalami keracunan makanan.
Penulis: Sutomo
Minggu, 13 September 2026 | 09:03:01 WIB

TIRAINEWS.COM — Muntah berulang setelah anak makan sesuatu yang salah bikin panik. Kepanikan sering mendorong orang tua melakukan hal keliru, seperti menghentikan semua cairan atau memaksa anak puasa.

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Dr dr Yogi Prawira, Sp A, Subsp. ETIA(K), membagikan urutan pertolongan pertama yang sebaiknya dilakukan di rumah sebelum membawa anak ke fasilitas kesehatan.

Hentikan Makanan yang Dicurigai, Jangan Dibuang

Langkah pertama, hentikan pemberian makanan yang diduga jadi penyebab keracunan. Jangan buru-buru membuang sisa makanannya.

Simpan sisa makanan itu sampai penyebab keracunan bisa dipastikan. Sisa ini berguna untuk penelusuran medis kalau kondisi anak memburuk dan butuh penanganan lebih lanjut.

Aturan Pemberian Oralit: Kecil Tapi Sering

Muntah bukan alasan menghentikan asupan cairan. Justru di momen inilah tubuh anak paling membutuhkan cairan.

dr Yogi menekankan pemberian oralit dengan porsi kecil namun sering. Gunakan oralit dengan formula yang sudah dihitung, bukan racikan sendiri.

"Muntah bukan alasan menghentikan cairan, Tapi kita bisa small frequent. Porsi kecil, tapi sedikit-sedikit. Dan gunakan oralit yang formulanya sudah dihitung. Jadi jangan kita membuat formula sendiri. Karena kadang-kadang kalau perbandingan tidak sesuai, maka tidak bisa diserap," ucap dr Yogi dalam media briefing, Jumat (11/9/2026).

Perbandingan oralit yang tidak sesuai membuat cairan sulit diserap tubuh. Ikuti takaran yang tertera pada kemasan.

ASI Tetap Diberikan, Susu Sapi yang Dibatasi

Banyak ibu salah paham soal anjuran menghindari susu saat anak muntah. Anjuran ini bukan berarti menyusui dihentikan.

"Kemudian, anjuran menghindari susu itu sering disalah artikan, berhenti menyusui. Kalau ASI (air susu ibu), tidak pernah kita hentikan dalam kondisi apapun. Kecuali kasus-kasus yang sangat khusus. Tapi kalau kita bicara KLB seperti ini, tidak. Yang kita batasi adalah susu sapi. Kalau teh, kopi pada anak, memang itu tidak boleh diberikan," lanjut dr Yogi.

Berikan ASI dan makanan sesuai kemampuan anak. Teh dan kopi tetap dilarang untuk anak, terlebih saat kondisi tubuhnya sedang lemah.

Jangan Puasakan Anak

Memuasakan anak bukan cara mempercepat penyembuhan. Tubuh justru butuh energi untuk melawan infeksi penyebab keracunan.

Setelah muntah mereda, berikan makanan lunak dalam porsi kecil. Bubur, pisang, atau roti bisa jadi pilihan yang mudah dicerna.

Pantau Tanda Dehidrasi dari Frekuensi Pipis

Pastikan anak cukup istirahat selama masa pemulihan. Sambil menemani anak, pantau kondisi tubuhnya secara berkala.

Salah satu indikator paling mudah dilihat adalah frekuensi buang air kecil. Pipis yang jauh lebih jarang dari biasanya, apalagi disertai lemas dan mata cekung, jadi tanda anak kehilangan terlalu banyak cairan.

Kapan Harus Segera ke Dokter

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika muntah tidak berhenti, anak tampak sangat lemas, tidak mau minum sama sekali, atau pipis sangat sedikit dalam 6-8 jam terakhir.

Bayi di bawah usia satu tahun lebih rentan mengalami dehidrasi berat karena cadangan cairan tubuhnya lebih sedikit. Jangan tunggu kondisi memburuk untuk memeriksakan anak.

Menghadapi anak keracunan makanan memang bikin cemas. Dengan langkah yang tepat, Anda bisa menjaga cairan tubuhnya tetap cukup sambil memantau perkembangan kondisinya.

Reporter: Sutomo