PKET Dorong Warga Terlibat Sejak Desain Proyek Energi Terbarukan
TIRAINEWS.COM — Pusat Keterampilan Energi Terbarukan (PKET) menilai keterlibatan masyarakat lokal sejak tahap desain menjadi kunci mencegah penolakan warga pada proyek energi terbarukan. Chairman PKET Sim Budiman Setiawan menyebut pendekatan Community Relation Management (CRM) harus dijalankan sebelum proyek dibangun, bukan setelah konflik muncul. Tanpa pelibatan awal, sejumlah proyek energi terbarukan di berbagai lokasi berisiko molor dari target implementasi.
Sim Budiman Setiawan menyampaikan hal itu dalam acara EVolution Forum CNN Indonesia, Rabu (30/9). Menurutnya, masyarakat lokal selama ini kerap hanya diposisikan sebagai pengguna akhir, bukan pihak yang ikut menentukan arah proyek sejak awal.
Pola itu, kata Sim, membuat warga merasa tidak memiliki kepentingan terhadap proyek yang dibangun di wilayah mereka. Akibatnya, penolakan muncul di sejumlah lokasi dan menghambat kecepatan implementasi energi terbarukan.
Masyarakat Diminta Terlibat dari Desain hingga Operasional
Sim menekankan pelibatan warga tidak cukup sebatas sosialisasi. Masyarakat perlu dilibatkan dalam proses desain, instalasi, hingga operasional proyek energi terbarukan.
"Bagaimana kita bisa melibatkan masyarakat lokal sejak awal, sehingga masyarakat lokal itu bukan hanya sebagai pengguna, tetapi mereka juga ikut terlibat mulai dari desain, instalasi, operasional, sehingga pendekatan ini menjadi lebih baik," ujar Sim.
Dengan cara itu, warga punya ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan kekhawatiran sebelum proyek berjalan. Pendekatan ini dinilai membuat hubungan antara pengembang dan masyarakat lebih terbuka.
Penolakan Warga Disebut Bisa Dicegah Lewat CRM
Sim menilai penolakan warga terhadap proyek energi terbarukan umumnya muncul karena komunikasi baru dibangun setelah proyek berjalan. Jika Community Relation Management diterapkan sejak awal, resistensi itu bisa ditekan.
"Kalau kita bisa melibatkan sejak awal RCM ini, melakukan pendekatan ini, tentu bisa dicegah (penolakan dari masyarakat), sehingga kecepatan implementasi tersebut sesuai dengan target yang ditetapkan," ujar Sim.
Ia tidak merinci berapa lokasi proyek yang menghadapi penolakan warga. Namun Sim menyebut persoalan ini berulang di sejumlah daerah dan berdampak langsung pada jadwal pengembangan energi terbarukan.
Implikasi bagi Pengembang dan Target Energi Terbarukan
Bagi pengembang, penerapan CRM sejak tahap awal berarti ada biaya dan waktu tambahan untuk pendekatan sosial. Namun Sim menilai langkah itu lebih murah dibanding risiko proyek tertunda akibat konflik dengan warga.
Pelibatan lokal juga membuka peluang warga mendapat manfaat ekonomi dari proyek, mulai dari pekerjaan instalasi hingga operasional dan pemeliharaan. Skema ini sejalan dengan kebutuhan tenaga kerja terampil di sektor energi terbarukan.
PKET sendiri bergerak di bidang pengembangan keterampilan energi terbarukan. Lembaga ini menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia lokal agar transisi energi tidak hanya bergantung pada tenaga ahli dari luar daerah.
Sim menegaskan pendekatan berbasis komunitas perlu menjadi standar, bukan opsi tambahan. Dengan begitu, target penambahan kapasitas energi terbarukan bisa dikejar tanpa berbenturan dengan kepentingan warga di lokasi proyek.