TIRAINEWS.COM — PT PLN Nusantara Power (PLN NP) mewaspadai penurunan produksi listrik dari PLTA akibat fenomena El Nino yang menekan ketersediaan air di sejumlah waduk. Penurunan daya keluaran PLTA disebut bisa mencapai hampir 40 persen, sehingga perusahaan menyiapkan pembangkit fosil hingga tenaga bayu sebagai penopang pasokan listrik.
Sekretaris Perusahaan PLN Nusantara Power, Hamidi Hamid, menyatakan PLTA menjadi jenis pembangkit yang paling rentan terhadap El Nino karena sepenuhnya bergantung pada ketersediaan air. Perusahaan mengoperasikan sejumlah PLTA besar di Jawa dan Sulawesi, termasuk PLTA Cirata serta PLTA Bakaru berkapasitas 217 MW di Sulawesi Selatan.
Hamidi menyampaikan hal itu di sela ajang Electricity Connect 2026, Rabu (23/9). Menurut dia, kondisi waduk di beberapa lokasi mulai menunjukkan gejala surut, meski secara umum operasional masih berjalan normal.
Penurunan Daya Capai 40 Persen
Dampak El Nino terhadap PLTA tidak seragam. Hamidi menyebut penurunan daya keluaran bisa mencapai hampir 40 persen, bergantung pada kondisi masing-masing waduk.
“Sebenarnya PLTA terutama. Ini kan karena masalah air, ketersediaan air. Nanti beberapa tempat memang surut,” ujar Hamidi.
PLTA Cirata menjadi salah satu pembangkit yang paling dicermati karena kapasitasnya besar dan memasok listrik untuk wilayah Jawa. Meski begitu, Hamidi memastikan hingga kini pasokan dari PLTA tersebut belum terganggu signifikan.
“PLTA-PLTA kami banyak di Jawa, ada Cirata yang besar. Sejauh ini masih oke. Kemudian yang di Sulawesi,” katanya.
Modifikasi Cuaca hingga Optimasi PLTU
PLN NP menjalankan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga keandalan pasokan listrik. Salah satunya melalui Teknologi Modifikasi Cuaca yang diarahkan mengisi kembali waduk-waduk di area Cirata yang terdampak.
“Nah, ini kami juga lakukan teknologi modifikasi cuaca yang bisa setidaknya membantu mengisi kembali waduk-waduk yang ada di Cirata terdampak,” kata Hamidi.
Jika debit air terus menurun, perusahaan akan mengalihkan beban produksi ke pembangkit berbasis fosil. Hamidi menyebut PLTU, gas turbine, gas engine, hingga gas diesel akan dioptimalkan secara bertahap untuk menutup kekurangan pasokan dari PLTA.
“Ya, kita pertama sekali mengoptimalkan pembangkit-pembangkit fosil terutama PLTU, gas turbine, kemudian gas engine, kemudian gas diesel,” jelasnya.
Tenaga Bayu Jadi Andalan di Sulawesi
Di wilayah Sulawesi, PLN NP mengandalkan pembangkit listrik tenaga bayu sebagai sumber alternatif. Dua PLTB yang sudah terhubung ke jaringan PLN adalah PLTB Sidrap berkapasitas 75 MW dan PLTB Tolo di Jeneponto berkapasitas 72 MW.
“Kemudian kita utamakan terkait dengan kalau di Sulawesi ada wind power, ya. Tenaga bayu, ya. Nah, itu kita utamakan, kita optimalkan,” pungkas Hamidi.
Langkah diversifikasi ini menjadi kunci bagi PLN NP untuk menjaga keandalan listrik di tengah tekanan cuaca ekstrem. Ketergantungan pada satu jenis pembangkit terbukti berisiko ketika kondisi alam berubah, sehingga bauran energi yang beragam menjadi tameng utama perusahaan dalam menjaga pasokan bagi pelanggan di Jawa dan Sulawesi.