Beban Keuangan Garuda Turun 11,6% Berkat Suntikan Danantara Rp 23,67 Triliun

Beban keuangan Garuda Indonesia turun 11,6 persen menjadi USD222,4 juta pada semester I-2026.
Penulis: Ragil
Kamis, 01 Oktober 2026 | 08:22:32 WIB

TIRAINEWS.COM — Beban keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk turun 11,6 persen menjadi USD222,4 juta pada semester I-2026 dari USD251,6 juta pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini tidak lepas dari suntikan modal Danantara Asset Management senilai Rp23,67 triliun yang masuk pada Desember 2025. Perbaikan tersebut menjadi salah satu penopang kinerja perseroan sepanjang paruh pertama tahun ini.

Berdasarkan keterbukaan informasi pada Rabu (30/9/2026), emiten berkode GIAA itu menyebut beban bunga dari liabilitas sewa, obligasi, hingga utang usaha seluruhnya lebih rendah dibanding tahun lalu. Efek dari injeksi modal tersebut langsung terasa ke pos-pos kewajiban perseroan.

Beban Bunga ke Pertamina Turun Tajam

Anak usaha Citilink melunasi pokok utang restrukturisasi kepada Pertamina pada 10 Desember 2025, tak lama setelah dana Danantara masuk. Hasilnya, beban keuangan grup kepada Pertamina turun menjadi USD4,7 juta dari USD11,8 juta setahun sebelumnya.

Beban bunga utang usaha secara keseluruhan juga turun lebih dari separuh menjadi USD6,6 juta. Penurunan ini memperbaiki struktur biaya Garuda di tengah upaya perseroan menyehatkan neraca.

Puluhan Pesawat Grounded Kembali Beroperasi

Selain menekan beban bunga, suntikan modal itu membuat Garuda mampu mengaktifkan kembali puluhan pesawat yang sebelumnya grounded. Perseroan juga memakai dana tersebut untuk membayar utang.

Banyaknya jumlah pesawat Garuda yang parkir sempat menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Kembalinya armada ke layanan operasional menjadi sinyal pemulihan kapasitas perseroan di pasar penerbangan domestik maupun internasional.

Arti bagi Pemegang Saham dan Pelaku Industri

Perbaikan beban keuangan menjadi indikator awal pemulihan fundamental GIAA. Bagi investor, penurunan beban bunga membuka ruang perbaikan laba bersih ke depan, meski skala penuh pemulihannya masih bergantung pada tingkat utilisasi armada dan permintaan tiket.

Langkah Danantara Asset Management menunjukkan peran negara dalam merapikan neraca emiten pelat merah. Pelaku industri penerbangan akan mencermati apakah perbaikan ini berlanjut ke semester II-2026 seiring musim puncak penerbangan akhir tahun.

Reporter: Ragil