Manchester City Dinyatakan Bersalah, Fans Justru Membela Pemilik Klub

Komisi independen menyatakan Manchester City terbukti bersalah atas seluruh tuduhan pelanggaran aturan keuangan Premier League.
Penulis: Sutomo
Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:22:31 WIB

TIRAINEWS.COM — Manchester City dinyatakan bersalah atas seluruh tuduhan serius dalam kasus pelanggaran keuangan terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris. Alih-alih menerima putusan, sebagian fans City justru berbalik menyerang pengkritik klub dan membela pemilik asal Abu Dhabi. Fenomena ini dinilai para akademisi sebagai bentuk baru fanatisme yang melampaui batas kewajaran.

Komisi independen yang menangani kasus Manchester City menyatakan klub tersebut terbukti bersalah atas semua tuduhan serius terkait pelanggaran aturan keuangan Premier League. Keputusan ini memicu reaksi keras dari fans rival yang menuntut City dicopot dari seluruh trofi yang diraih selama satu dekade terakhir. Sebaliknya, sebagian besar pendukung City memilih bertahan di belakang klub dan pemiliknya.

Liam Gallagher dan Serangan Verbal ke Fans Rival

Musisi Liam Gallagher, yang dikenal sebagai pendukung fanatik Manchester City, menjadi salah satu suara paling lantang. Ketika ditanya soal tuntutan fans rival agar City kehilangan semua gelarnya, Gallagher merespons dengan makian di media sosial. Responsnya itu menjadi salah satu dari puluhan komentar pedas bernada serupa.

Forum terbesar pendukung City, Bluemoon, juga menunjukkan nada serupa. Sejak tuduhan pertama terhadap City muncul pada 2023, forum tersebut telah menampung lebih dari 192.000 unggahan. Premier League, klub rival, dan media massa menjadi sasaran utama kemarahan mereka.

Akademisi: Sebagian Fans Dibajak Jadi Pembela Rezim

Akademisi asal Irlandia, Colm Kearns, menawarkan analisis yang lebih dalam. Menurutnya, Uni Emirat Arab melalui Abu Dhabi United Group tidak hanya membawa kesuksesan bagi City, tetapi juga berhasil "membajak" sebagian fans untuk menjadi pembela agresif rezim mereka.

Pada 2023, Kearns dan rekan-rekannya menganalisis ribuan unggahan fans City selama bertahun-tahun. Temuan mereka menunjukkan sebagian fans tidak hanya mengabaikan pelanggaran etika yang dilakukan grup pemilik, tetapi juga menyerang para pengkritiknya.

"Kami menemukan orang-orang yang membicarakan bagaimana fans akan mencari troll melalui feed media sosial pribadi mereka, lalu mengirimkannya ke editor untuk membuat mereka dalam masalah," ujar Kearns.

Dampaknya, sejumlah jurnalis olahraga dilaporkan melakukan swasensor karena tekanan dan serangan daring dari fans City.

Media Sosial Perkuat Fanatisme Buta

Faktor besar lain yang memperparah situasi adalah media sosial. Tiga puluh tahun lalu, sebagian besar fans City tinggal di sekitar Manchester dan berinteraksi langsung dengan pendukung klub lain di tempat kerja atau pub. Kini, mereka bisa hidup dalam ruang daring yang seluruhnya diisi sesama pendukung City.

"Saya pikir itu membuat fans mungkin lebih picik secara tribal dibandingkan sebelumnya, dan kurang cenderung melihat dari perspektif klub lain," kata Kearns.

Akademisi menyebut fenomena ini sebagai "lingkaran fandom olahraga", di mana pendukung di seluruh dunia semakin gencar membela atlet atau tim mereka. Pola ini berasal dari budaya populer Asia Timur dan membuat fans sangat terfokus pada kelompoknya sendiri.

Klub di Atas Sepak Bola

Kearns menduga sebagian fans menempatkan klub di atas kepentingan sepak bola secara keseluruhan. Ia mengutip sebuah unggahan di Reddit yang berbunyi: "Saya fans City dulu, baru fans sepak bola."

Ia mengakui sulit mengetahui berapa banyak pengguna daring yang sebenarnya tidak tinggal di Manchester atau tidak pernah menonton pertandingan langsung. Kelompok ini justru merasa perlu membuktikan kredibilitas mereka dengan membela klub mati-matian.

Pertanyaan yang muncul kemudian: jika seorang miliarder teknologi ingin membeli klub sukses, mengapa tidak sekalian memanfaatkan pasukan pembela reputasi yang sudah terbentuk di antara basis fansnya?

Reporter: Sutomo