PTPN I dan IPB Olah Limbah Sawit Jadi Helm hingga Rompi Antipeluru
TIRAINEWS.COM — PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 2 memfasilitasi riset IPB University yang mengubah tandan kosong kelapa sawit menjadi helm, sepatu, hingga rompi antipeluru berbahan komposit ramah lingkungan. Kolaborasi ini menandai upaya hilirisasi limbah pabrik sawit menjadi produk bernilai tambah, bukan sekadar riset yang berhenti di laboratorium.
Paragraf pembuka: Direktur Utama PTPN I (Persero) Abdul Rivai Ras menyebut kerja sama dengan IPB University sebagai bagian dari upaya perusahaan mendorong hasil riset agar tidak berhenti di laboratorium. Baginya, kolaborasi ini sejalan dengan agenda hilirisasi dan ekonomi sirkular yang tengah digenjot perusahaan pelat merah itu.
"Kami ingin membangun ekosistem kolaborasi yang menghubungkan riset, industri dan kebutuhan pasar. Ketika inovasi mampu menghasilkan produk yang kompetitif, ramah lingkungan dan memberikan manfaat lebih luas, maka di situlah nilai strategis sebuah kolaborasi benar-benar hadir," kata Rivai dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).
Dari Limbah Pabrik Cikasungka ke Laboratorium IPB
Penelitian ini bukan proyek semalam. Sejak 2015, dosen IPB University mengkaji potensi serat dari tandan kelapa sawit, limbah pabrik milik PTPN I Regional 2 (eks PTPN VIII) di Cikasungka, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Riset berlangsung di Laboratorium Fisika Fakultas MIPA IPB University dan Pusat Studi Sawit IPB. Dari situ, para peneliti mengembangkan berbagai produk biomaterial: helm, sepatu, sandal, pakaian, sampai rompi antipeluru. Semuanya berbasis green composite yang dibuat dari limbah pabrik kelapa sawit.
Dosen sekaligus peneliti IPB, Siti Nikmatin, menuturkan awal sinergi berangkat dari banyaknya tandan kosong kelapa sawit yang belum dimanfaatkan secara optimal. Lewat serangkaian uji laboratorium, ia menemukan formula yang tepat untuk mengolah serat tandan kosong menjadi material komposit.
"Kami bisa membuat helm, sepatu, sandal, dan beberapa produk lainnya dari green composite itu. Kemudian, ada komunikasi dengan PTPN I (Persero) Regional 2 yang dalam konteks ini memiliki banyak bahan baku tandan kosong. Akhirnya, kami membuat kesepakatan bersama untuk mengembangkan hasil penelitian menjadi produk industri manufaktur," jelasnya.
Skema Barter Produk, Bukan Bagi Hasil
Model kerja sama yang dibangun tidak berorientasi pada keuntungan. PTPN I Regional 2 membiayai pengembangan dan produksi berbagai produk yang dibutuhkan perusahaan, dengan imbal hasil berupa produk jadi.
Untuk memenuhi syarat produksi, IPB menggandeng startup PT Material Data Space (MDS) dan PT Interstisi Material Maju (IMM) sebagai entitas operasional. Keduanya telah memproduksi ribuan helm pengaman (safety helmet) dan produk fesyen pesanan PTPN.
Meski belum berjalan dalam skala industri secara berkelanjutan, Siti memastikan pihaknya siap menerima pesanan berbagai produk yang dibutuhkan.
"Kami sudah bisa memproduksi berbagai produk dalam skala besar, tetapi memang belum kontinu. Sifatnya masih berdasarkan PO (purchase order). Untuk helm pesanan PTPN I, jumlahnya sudah cukup banyak. Begitu juga rompi antipeluru yang memenuhi standar Polri, sudah kami produksi dalam skala terbatas. Dalam konteks ini, kami membutuhkan dukungan pemerintah agar hasil penelitian ini dapat berkembang menjadi industri yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat," katanya.
Sudah Kantongi SNI dan Sertifikat Dislitbang AD
Soal standar, produk helm sawit yang dihasilkan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Material antipeluru kaliber 9 x 19 mm juga telah memiliki sertifikat dari Dislitbang AD pada 2025.
Produk berbahan serat tandan kosong kelapa sawit ini dikembangkan dengan pendekatan ramah lingkungan. Menurut Siti, bahan yang diolah merupakan komposit nabati, atau lebih tepatnya green composite.
"Bahan yang kami olah menjadi berbagai produk ini merupakan komposit, lebih tepatnya green composite, karena berasal dari bahan nabati. Produk-produk tersebut telah melalui berbagai pengujian sesuai standar yang dipersyaratkan. Harganya juga lebih rendah dibandingkan komposit yang beredar di pasaran. Sebagai gambaran, helm untuk pembalap profesional menggunakan material komposit dan harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Sementara produk kami dengan spesifikasi yang setara bisa memiliki harga sekitar setengahnya," pungkasnya.
Penutup: Bagi PTPN I, langkah ini menjadi cara mengubah beban limbah pabrik menjadi lini produk bernilai jual. Tantangannya kini ada di hilir: memastikan produksi tidak lagi bergantung pada pesanan sesekali, agar inovasi kampus benar-benar naik kelas menjadi industri.