TIRAINEWS.COM — Margin bunga bersih atau Net Interest Margin perbankan tercatat 4,31% pada Agustus 2026, turun dari 4,59% pada periode yang sama tahun lalu. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai penurunan itu bukan semata karena bank menahan suku bunga kredit, melainkan akibat biaya dana yang naik lebih cepat dari imbal hasil kredit.
Otoritas Jasa Keuangan melaporkan NIM perbankan nasional berada di level 4,31% pada Agustus 2026. Angka itu lebih rendah dibandingkan capaian Agustus 2025 yang sebesar 4,59%, melanjutkan tren penurunan yang sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
OJK menilai penurunan margin tersebut mencerminkan upaya bank menahan kenaikan suku bunga kredit. Dengan begitu, biaya kredit tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi bisa ikut terdorong.
Pertumbuhan Kredit Melampaui Dana Pihak Ketiga
Josua Pardede tidak sependapat jika penurunan NIM hanya dijelaskan oleh strategi bank menahan bunga kredit. Ia menyoroti pertumbuhan kredit yang mencapai 13,65%, jauh lebih cepat ketimbang dana pihak ketiga yang hanya tumbuh 10,94%.
Kondisi itu membuat rasio dana pihak ketiga terhadap kredit berada di kisaran 88,14%. Bank pun harus bekerja lebih keras menghimpun dana untuk membiayai ekspansi kredit yang berjalan kencang.
"Dampaknya, biaya dana meningkat lebih cepat daripada imbal hasil kredit yang dapat diteruskan kepada debitur," kata Josua kepada Bloomberg Technoz.
Biaya Dana Naik Lebih Cepat dari Imbal Hasil Kredit
Persaingan likuiditas menjadi kata kunci di balik tekanan margin tersebut. Ketika pertumbuhan kredit melaju lebih cepat dari pertumbuhan dana pihak ketiga, bank berlomba menarik simpanan, termasuk lewat penawaran bunga yang lebih tinggi.
Langkah itu memang membantu menutup kebutuhan likuiditas, tetapi sekaligus mengerek biaya dana. Di sisi lain, bank tidak bisa serta-merta menaikkan bunga kredit karena permintaan pembiayaan dari debitur sensitif terhadap harga.
Alhasil, ruang margin makin sempit. NIM yang tergerus mencerminkan ketidakseimbangan antara sisi penghimpunan dan penyaluran dana, bukan sekadar pilihan kebijakan suku bunga kredit.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Industri
Bagi investor perbankan, tren NIM yang menurun menjadi sinyal untuk mencermati kualitas pertumbuhan kredit emiten. Ekspansi kredit yang tinggi tidak otomatis mendongkrak profitabilitas jika biaya dana ikut melesat.
Pelaku usaha perbankan perlu menjaga keseimbangan antara agresivitas menyalurkan kredit dan kemampuan menghimpun dana murah. Komposisi dana pihak ketiga, terutama porsi giro dan tabungan, akan menentukan seberapa besar tekanan biaya dana yang harus ditanggung.
Ke depan, arah NIM perbankan bergantung pada dinamika likuiditas dan persaingan suku bunga simpanan. Selama pertumbuhan kredit terus melampaui pertumbuhan dana pihak ketiga, tekanan terhadap margin diperkirakan belum akan mereda.