Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 17.896 per Dolar AS, Tekanan Yield Treasury AS Mereda

Rupiah dibuka menguat 19 poin ke Rp 17.896 per dolar AS pada Jumat pagi (9/10).
Penulis: Yasir
Jumat, 09 Oktober 2026 | 09:22:31 WIB

TIRAINEWS.COM — Nilai tukar rupiah dibuka menguat 19 poin atau 0,11% ke Rp 17.896 per dolar AS pada Jumat pagi (9/10), dari penutupan sebelumnya Rp 17.915 per dolar AS. Penguatan terjadi setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS meninggalkan level tertingginya dan indeks dolar melemah. Analis memperkirakan sentimen positif ini masih berlanjut seiring harapan kesepakatan damai di Timur Tengah.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah bergerak ke Rp 17.896 per dolar AS di awal perdagangan, melanjutkan tren penguatan dari posisi penutupan hari sebelumnya. Pada pukul 09.08 WIB, mata uang Garuda tercatat menguat ke level Rp 17.901 per dolar AS.

Analis Doo Financial Lukman Leong menilai penguatan rupiah ditopang oleh meredanya tekanan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan pelemahan indeks dolar AS. Kedua faktor itu memberi ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk bergerak naik.

Yield Treasury AS 10 Tahun Sentuh Level Tertinggi Sejak 2002

Sebelumnya, yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun menembus 5,365% pada Rabu (7/10) waktu setempat, level tertinggi sejak April 2002. Imbal hasil obligasi 30 tahun juga mencapai 5,732%, posisi tertinggi sejak Mei 2002.

Tekanan itu kemudian mereda setelah Departemen Keuangan AS menjual obligasi bertenor 10 tahun senilai US$ 39 miliar melalui lelang. Masuknya pasokan baru ke pasar membuat imbal hasil Treasury 10 tahun meninggalkan level tertingginya, yang berdampak langsung pada pergerakan dolar AS.

“Sentimen positif ini didorong oleh meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah, menyusul pernyataan Trump mengenai adanya perkembangan positif dalam perundingan dengan Iran,” kata Lukman saat dihubungi, Jumat (9/10).

Investor Menanti Data Penjualan Ritel Agustus

Dari dalam negeri, Lukman menyebut pelaku pasar sedang menantikan rilis data penjualan ritel Agustus. Data itu menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah konsumsi rumah tangga, yang selama ini jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Bagi pelaku usaha yang punya kewajiban dalam dolar AS, penguatan rupiah memberi ruang untuk menekan biaya impor bahan baku. Sementara investor asing biasanya memantau kombinasi stabilitas kurs dan imbal hasil surat utang sebelum menambah porsi di aset berdenominasi rupiah.

Pergerakan rupiah hari ini masih akan dipengaruhi oleh arah indeks dolar AS dan perkembangan perundingan di Timur Tengah. Jika yield Treasury AS terus turun, ruang penguatan rupiah berpotensi lebih lebar, meski pasar tetap menunggu konfirmasi data ritel domestik.

Reporter: Yasir