Pencarian

Bandara Soekarno-Hatta Tutup Sementara Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau

Minggu, 06 September 2026 • 20:28:32 WIB
Bandara Soekarno-Hatta Tutup Sementara Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau
Petugas memeriksa area landas pacu Bandara Soekarno-Hatta setelah operasionalnya ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9/2026).

TIRAINEWS.COM — Sedikitnya 33 penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta terganggu menyusul penutupan operasional sementara pada Minggu (6/9/2026) pagi. Kebijakan darurat ini diambil setelah sebaran abu vulkanik letusan Gunung Anak Krakatau membubung hingga 50.000 kaki dan melintasi ruang udara enam provinsi. Layanan penerbangan berangsur pulih menjelang siang hari setelah uji sebaran abu menunjukkan hasil negatif.

Berdasarkan data Natural Disaster Alert Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, penutupan operasional di Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma berlangsung hingga pukul 09.30 WIB. Sementara itu, otoritas menghentikan sementara aktivitas di Bandara Radin Inten II hingga pukul 10.00 WIB guna menjamin keselamatan navigasi udara.

Di Bandara Soekarno-Hatta saja, otoritas mencatat 16 jadwal penerbangan rute internasional dibatalkan, tujuh penerbangan mengalami penundaan, dan lima perjalanan dijadwalkan ulang. Gangguan jadwal juga merembet ke sejumlah rute domestik, khususnya penerbangan menuju Lampung, Denpasar, dan Surabaya.

Hasil Paper Test Negatif, Penerbangan Kembali Normal

Seluruh bandara yang sempat lumpuh dipastikan telah kembali melayani penumpang secara bertahap pada Minggu siang. Otoritas penerbangan membuka kembali jalur udara setelah pengujian sebaran abu atau paper test VA tidak lagi mendeteksi partikel material vulkanik di area landas pacu dan sekitarnya.

Penyebaran material abu vulkanik itu sendiri dipicu oleh lonjakan erupsi yang memuncak sejak Minggu dini hari. Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui citra satelit Himawari-9 bersama PVMBG dan VAAC Darwin pada pukul 04.00 WIB mendeteksi dua klaster sebaran abu.

Klaster pertama berada pada ketinggian permukaan hingga 20.000 kaki yang bergerak ke arah Timur Laut-Selatan, menyelimuti sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Klaster kedua terpantau membubung jauh lebih tinggi hingga 50.000 kaki, mengarah ke Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.

Erupsi Paling Intens Sepanjang 2026

Petugas Pengamat Gunung Api Badan Geologi, Rioboniek Situmorang, melaporkan letusan pada Minggu menjadi peristiwa paling intens sepanjang 2026. Rangkaian letusan ini merupakan kelanjutan dari lonjakan aktivitas seismik yang mulai teramati sejak Jumat (4/9/2026) malam.

Dua letusan signifikan terjadi secara beruntun pada pagi hari. Erupsi pertama tercatat pukul 03.53 WIB dengan amplitudo maksimum 46 milimeter berdurasi 30 detik. Letusan kedua menyusul pukul 07.10 WIB dengan amplitudo maksimum 50 milimeter selama 16 detik, dengan tinggi kolom abu yang tidak teramati secara visual karena kabut dan erupsi masih berlangsung saat laporan disusun.

Hingga saat ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Tingkat ancaman tersebut tidak berubah sejak ditetapkan pertama kali pada 2 Juli 2026, dengan akumulasi lebih dari 240 kali kejadian erupsi.

Radius Bahaya Tiga Kilometer dan Risiko Tsunami Rendah

PVMBG secara tegas melarang masyarakat, nelayan, wisatawan, maupun pendaki untuk mendekati kawah aktif Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer. Meski aktivitas kegempaan melonjak drastis, otoritas memastikan potensi tsunami akibat runtuhan material letusan saat ini berada pada tingkat sangat kecil hingga nyaris nihil.

PVMBG menulis dalam laporan resminya: "Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati G. Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif."

Untuk menghindari dampak gangguan pernapasan akibat partikel debu vulkanik, otoritas meminta penduduk di enam provinsi terdampak mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Perkembangan informasi situasi kebencanaan terus dikoordinasikan secara berkala melalui saluran resmi BMKG, PVMBG, serta BNPB dan BPBD setempat.

Follow tirainews.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks