TIRAINEWS.COM — Cakupan skrining hipotiroid kongenital di Gorontalo baru mencapai 53 persen hingga September 2026, masih jauh dari target 90 persen. Padahal, satu tetes darah dari tumit bayi usia 48–72 jam bisa mencegah gangguan tumbuh kembang dan kecerdasan yang sifatnya permanen. Berikut panduan lengkapnya untuk ibu.
Hipotiroid kongenital adalah kondisi ketika kelenjar tiroid bayi tidak memproduksi hormon tiroid cukup sejak lahir. Kalau tidak terdeteksi dan ditangani sejak awal, dampaknya ke tumbuh kembang dan kecerdasan anak bisa menetap seumur hidup. Kabar baiknya, ada skrining sederhana yang bisa mendeteksinya sejak hari-hari pertama bayi.
Apa Itu Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK)?
SHK adalah pemeriksaan darah pada bayi baru lahir untuk mendeteksi hipotiroid kongenital sedini mungkin. Sampel diambil dari tumit bayi, lalu diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini dilakukan pada periode paling menentukan, yaitu saat bayi berusia 48–72 jam.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Syafiin S Napu, menyebut skrining ini sebagai investasi masa depan anak. "Kita memperkuat koordinasi dengan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan untuk memastikan semakin banyak bayi baru lahir mendapatkan deteksi dini pada periode paling menentukan," katanya.
Mengapa Deteksi Dini Sangat Menentukan?
Bayi dengan hipotiroid kongenital sering tampak normal saat lahir. Gejalanya baru muncul perlahan, sehingga tanpa skrining, kondisi ini mudah terlewat. Padahal, keterlambatan penanganan berarti anak kehilangan masa emas pertumbuhan otak.
Syafiin menegaskan, dampak hipotiroid kongenital yang tidak terdeteksi bisa bersifat permanen. "Karena itu, kita tidak ingin ada bayi baru lahir di Gorontalo yang terlewat dari skrining," ujarnya.
Cakupan di Gorontalo Masih 53 Persen
Hingga September 2026, cakupan SHK di Provinsi Gorontalo baru mencapai 53 persen. Angka ini masih terpaut 37 poin persentase dari target 90 persen yang harus dicapai tahun ini. Artinya, masih banyak bayi baru lahir yang belum mendapatkan skrining.
Dinkes P2KB meminta Dinas Kesehatan kabupaten/kota, rumah sakit pemerintah dan swasta, serta fasilitas kesehatan yang melayani persalinan memperkuat pelaksanaan skrining. Koordinasi dengan BPJS Cabang Gorontalo dan PERSI Provinsi Gorontalo juga dilakukan untuk mempercepat cakupan.
Yang Harus Dipastikan Fasilitas Kesehatan
Ada tiga hal yang menjadi perhatian dalam percepatan SHK. Pertama, pengambilan sampel harus dilakukan pada bayi usia 48–72 jam sesuai standar pelayanan. Kedua, pencatatan dan pelaporan harus berjalan tepat waktu agar pemerintah daerah punya gambaran akurat soal cakupan.
Ketiga, bayi dengan hasil skrining yang mengarah pada hipotiroid kongenital wajib mendapat tindak lanjut hingga terapi. "Kita harus memastikan sampel yang diambil berkualitas, pencatatan dan pelaporan berjalan tepat waktu, serta setiap kasus positif benar-benar ditindaklanjuti sampai mendapatkan terapi," kata Syafiin.
Peran Ibu dalam Keberhasilan Skrining
Ibu bisa ikut memastikan bayinya mendapat skrining sebelum pulang dari fasilitas persalinan. Tanyakan langsung kepada bidan atau dokter apakah SHK sudah dilakukan. Kalau belum, minta jadwal pengambilan sampel di usia 48–72 jam.
Setelah skrining, simpan catatan hasilnya. Jika hasil mengarah pada hipotiroid kongenital, segera ikuti rujukan untuk pemeriksaan lanjutan dan terapi. Penanganan yang cepat membuat anak tetap punya kesempatan tumbuh dan berkembang optimal.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter
Segera konsultasikan ke dokter anak jika bayi tampak lemas, sulit menyusu, sering sembelit, atau berat badannya sulit naik. Kulit yang terlihat pucat dan kuning berkepanjangan juga perlu diperiksa. Jangan menunggu gejala memburuk sebelum mencari pertolongan.
Target 90 persen cakupan SHK di Gorontalo bukan sekadar angka. Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah semakin banyak bayi yang mendapat kesempatan sama untuk tumbuh sehat. Satu tetes darah dari tumit bayi bisa menjadi titik awal penyelamatan masa depannya.