Startup Pertamina Kembangkan AI Pembaca Laut untuk Nelayan Cilacap, Biaya Operasional Turun 23%

Startup Pertamina meluncurkan sistem AI pembaca laut untuk nelayan di Cilacap.
Penulis: Saiful
Senin, 31 Agustus 2026 | 08:37:01 WIB

TIRAINEWS.COM — Tingginya angka perjalanan melaut yang merugi mendorong MetaSeaco, startup pengembang teknologi maritim, meluncurkan Iwak. Sistem ini memanfaatkan AI dan data satelit untuk memberikan rekomendasi waktu berlayar, target jenis ikan, hingga titik koordinat potensial kepada nelayan.

CEO MetaSeaco, Catur Prasetyo Nugroho, mengatakan nelayan kini bisa memutuskan melaut atau tidak langsung dari rumah. Jika rekomendasi menunjukkan peluang tangkapan tinggi, sistem memberikan koordinat dan waktu terbaik untuk menebar jaring.

Hasil Uji Coba di 15 Perahu: Pendapatan Naik Hingga 68 Persen

Teknologi Iwak telah dipasang pada 15 perahu nelayan di Cilacap. Hasilnya, biaya operasional melaut turun sekitar 23 persen, sementara pendapatan rata-rata nelayan meningkat 68 persen. Proporsi perjalanan yang merugi juga berkurang dari 41 persen menjadi sekitar 30 persen.

Akurasi prediksi sistem ini tergolong tinggi. Untuk ikan tenggiri batang mencapai 91 persen, bawal putih 85 persen, dan layur 70 persen. Dalam salah satu pelayaran, nelayan yang mengikuti koordinat dengan skor prediksi tinggi meraup pendapatan sekitar Rp3 juta dalam sekali melaut.

Pertamina Perluas Implementasi ke Desa Energi Berdikari

Kesuksesan uji coba di Cilacap membuka jalan bagi replikasi teknologi ini ke wilayah lain. Melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina, MetaSeaco akan mengembangkan dan menerapkan Iwak untuk masyarakat binaan di sekitar wilayah operasi perusahaan.

Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto, menegaskan kolaborasi ini bagian dari Festival Desa Energi Berdikari 2026 yang digelar di Grha Pertamina, Jakarta, Jumat (28/8). Pertamina mendorong DEB menjadi ruang pertemuan antara inovasi teknologi dan kebutuhan nyata masyarakat.

"Semakin banyak teknologi tepat guna yang bisa diterapkan, tentu akan semakin bagus. Harapannya, dampak dari 269 Desa Energi Berdikari yang kami miliki bisa semakin besar," ujar Rudi.

Terangin dan Global Vision Tech Ikut Terjun ke Lapangan

Kolaborasi serupa juga dilakukan dengan Terangin, startup energi terbarukan peringkat tiga besar Pertamuda 2025. Terangin akan membawa teknologi penghalau burung berbasis laser otomatis ke DEB Juntinyuat, Indramayu, untuk membantu petani mengatasi gangguan hama.

CEO Terangin, Muhammad Hanif, optimistis teknologi tersebut mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Sementara di DEB Nagari Katapiang, Pertamina menggandeng PT Global Vision Tech untuk mengembangkan rantai nilai komoditas kelapa, mulai dari peningkatan kapasitas masyarakat hingga produk bernilai tambah.

Menurut Rudi, inovasi tidak boleh berhenti pada tahap purwarupa atau sekadar memenangkan kompetisi. "Ketika energi, teknologi, dan inovasi bertemu dengan kebutuhan masyarakat, yang tumbuh bukan hanya produktivitas—tetapi juga kemandirian," tutupnya.

Reporter: Saiful