Prabowo di Forum Ekonomi Timur Vladivostok Undang Pengusaha Rusia Bangun Industri di Indonesia
TIRAINEWS.COM — Presiden Prabowo Subianto memanfaatkan Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia, untuk menawarkan kemitraan industri yang lebih konkret. Di hadapan para kepala negara, kepala pemerintahan, dan pelaku usaha, ia menegaskan bahwa kerja sama yang ditawarkan Indonesia melampaui hubungan dagang konvensional.
“Datanglah ke Indonesia. Bekerjalah bersama kami. Berproduksilah bersama kami. Mari kita membangun industri bersama. Mari kita menciptakan nilai bersama,” ajak Prabowo di forum tersebut.
Jembatan Investasi Danantara dan RDIF
Untuk mewujudkan rencana itu, Prabowo memperkenalkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai instrumen kunci. Ia menyebut sovereign wealth fund Indonesia itu mengelola aset hingga 1 triliun dolar AS, dan menawarkannya sebagai jembatan bagi kepentingan strategis kedua negara.
Presiden juga menyoroti potensi kemitraan antara Danantara dan Russian Direct Investment Fund (RDIF), dana kekayaan negara Rusia. Menurut dia, kolaborasi kedua lembaga tersebut harus bertransformasi dari tahap diskusi menjadi pembiayaan proyek nyata.
“Danantara dan sovereign wealth fund Rusia, Russian Direct Investment Fund atau RDIF, dapat bergerak dari sekadar mengidentifikasi peluang menuju pembiayaan proyek-proyek yang layak secara finansial,” ucapnya.
Pasar ASEAN Jadi Daya Tarik Utama
Prabowo memosisikan Indonesia bukan hanya sebagai pasar domestik berpenduduk besar, melainkan pula gerbang menuju kawasan Asia Tenggara dan Indo-Pasifik yang lebih luas. Dari Vladivostok, ia menekankan keuntungan geografis ini kepada kalangan pebisnis Rusia.
“Dari Indonesia, mari kita bersama-sama menjangkau pasar ASEAN dan Indo-Pasifik yang lebih luas,” ujarnya.
Strategi ini terbilang relevan bagi Rusia yang tengah memperdalam relasi ekonomi ke Asia setelah menghadapi sanksi Barat. Akses ke rantai pasok dan pasar Asia Tenggara menjadi nilai jual utama yang ditawarkan Jakarta.
Target Proyek yang Terukur, Bukan Sekadar Seremoni
Dalam pidatonya, Kepala Negara memberi catatan tegas ihwal implementasi setiap kerja sama. Ia tidak ingin kesepakatan berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau pernyataan publik semata.
Setiap proyek yang disepakati, lanjut dia, wajib mencantumkan nilai investasi secara eksplisit. Skema pembiayaan, target, dan tahapan realisasi juga harus dirinci agar mudah dievaluasi.
“Setiap kesepakatan yang diumumkan harus menyebutkan nilainya, skema pembiayaannya, serta tahapan pelaksanaannya,” tegas Prabowo.
Sikap ini menjadi sinyal bahwa Indonesia mencari investasi produktif dengan dampak ekonomi terukur, bukan semata memperluas daftar kerja sama diplomatik. Ke depan, hasil forum di Vladivostok ini akan teruji dari seberapa jauh komitmen tersebut diterjemahkan menjadi proyek fisik di Indonesia.