TIRAINEWS.COM — Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menyerahkan langsung bantuan tersebut saat meninjau lokasi madrasah pada Kamis (27/8). Dinding yang retak dan struktur bangunan yang roboh membuat proses belajar belum bisa berjalan normal sejak bencana terjadi.
"Hari ini saya menyampaikan dukacita dan belasungkawa atas musibah gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 di NTT. Saya baru saja meninjau madrasah yang sebagian bangunannya ambruk akibat musibah tersebut," ujar Iftitah dalam keterangan resmi, Jumat (28/8).
Koordinasi Lintas Kementerian untuk Percepatan Perbaikan
Karena MI Al-Ikhtiar berada di bawah naungan Kementerian Agama, Kementrans berkoordinasi dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat. Langkah ini diambil agar proses rehabilitasi sesuai kebutuhan dan hasilnya bisa segera dimanfaatkan para siswa dan guru.
Iftitah menegaskan, masyarakat tidak seharusnya terbebani oleh sekat kewenangan antarlembaga saat membutuhkan pertolongan. Pemerintah harus bergerak bersama agar bantuan tepat sasaran dan tidak tumpang tindih.
"Yang paling penting bagi rakyat bukan bantuan itu berasal dari PU atau Transmigrasi. Bagi rakyat, yang penting persoalannya memperoleh solusi dan manfaatnya benar-benar terwujud," tegasnya.
Dampak Gempa Lebih Luas: 13 Permukiman Transmigrasi Terdampak
Gempa 15 Agustus 2026 tidak hanya merusak fasilitas pendidikan. Data Kementrans mencatat 13 satuan permukiman terdampak yang tersebar di kawasan Maukaro (Kabupaten Ende), Mbai (Kabupaten Nagekeo), Bajawa (Kabupaten Ngada), serta Komodo dan Sano Nggoang (Kabupaten Manggarai Barat).
Secara keseluruhan, sekitar 1.043 kepala keluarga terdampak dan 1.536 rumah mengalami kerusakan. Pada masa tanggap darurat, Kementrans telah menyalurkan bantuan kebutuhan pokok. Pemerintah kini tengah memetakan kebutuhan rehabilitasi rumah dan fasilitas publik bersama pemerintah daerah setempat.
Dari Sepatu hingga Dorongan Kuasai Bahasa Asing
Dalam kunjungan yang sama, Iftitah menyambangi SDI Nanga Nae di Manggarai Barat. Ia menyerahkan bantuan sepatu dan boneka panda titipan Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong. Bantuan ini merupakan tindak lanjut dari temuan sebelumnya bahwa masih ada siswa yang bersekolah tanpa alas kaki memadai.
"Saya mendapat titipan dari Duta Besar Tiongkok. Beliau bertanya, bantuan apa yang sebaiknya diberikan kepada siswa di sini. Saya sampaikan bahwa sepatu akan sangat bermanfaat bagi mereka," tutur Iftitah.
Menteri juga mendorong para siswa membekali diri dengan keterampilan relevan, termasuk kemampuan berbahasa asing. Menurutnya, pertumbuhan pariwisata Labuan Bajo harus memberi manfaat lebih besar bagi warga lokal. Penguasaan bahasa Mandarin dinilai membuka peluang menjadi pemandu wisata atau bekerja di industri pariwisata yang ramai dikunjungi turis Tiongkok.
"Saya melihat banyak wisatawan dari Tiongkok datang ke Labuan Bajo. Adik-adik bisa belajar bahasa Mandarin agar kelak dapat menjadi pemandu wisata atau bekerja di industri pariwisata," kata Iftitah.
Melalui rangkaian bantuan ini, Kementrans berharap kegiatan belajar mengajar di MI Al-Ikhtiar segera pulih. Pemulihan pascagempa diharapkan tidak berhenti pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga memulihkan rasa aman bagi siswa, guru, dan orang tua.