Menkop Pangan Zulhas: Impor Beras 4,5 Juta Ton pada 2024 Picu Kemiskinan Masif

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menghadiri peluncuran buku Pangan Indonesia di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Penulis: Ragil
Jumat, 04 September 2026 | 16:21:01 WIB

TIRAINEWS.COM — Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, menyampaikan peringatan tersebut di tengah acara peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di Jakarta International Convention Center (JICC). Ia menegaskan bahwa kebijakan impor yang selama ini dianggap solusi cepat justru menjadi bumerang bagi kesejahteraan 100 juta lebih pelaku usaha tani, nelayan, dan peternak.

Impor 30 Juta Ton per Tahun: Beras Hingga Gandum

Data yang dipaparkan Zulhas menggambarkan besarnya ketergantungan pangan nasional pada pasar luar negeri. Selain beras 4,5 juta ton pada 2024, Indonesia masih mengimpor gula putih 6 juta ton, kedelai 4 juta ton, dan gandum 13 juta ton per tahun. Sektor peternakan pun belum mandiri dengan kebutuhan 1 juta ekor sapi yang masih dipasok dari luar negeri setiap tahunnya.

"Hampir semua makan kita ini impor. Tahun 2024 kita impor beras itu 4,5 juta ton. Tapi, kita sudah biasa, sudah ada beras, ya sudah. Kita kalau enggak ada beras impor saja," ujarnya di hadapan peserta acara.

Rantai Kemiskinan: Petani Jual Sawah, Negara Terbebani Bantuan

Zulhas menjelaskan bahwa dampak impor berantai jauh lebih dalam dari sekadar neraca dagang. Saat harga pangan domestik ditekan demi menjaga inflasi, petani kehilangan insentif ekonomi untuk melanjutkan usaha tani.

"Turun ke anaknya, sawahnya dijual. Karena dia tidak bisa profesi lain kecuali tanam padi, tapi rugi. Kenapa rugi? Karena harga beras yang kita jaga inflasi, harga enggak boleh tinggi. Aturan rumit, banyak yang moral hazard, belum tengkulak macam-macam," papar Zulhas.

Akibatnya, Nilai Tukar Petani (NTP) pada 2024 hanya bertengger di kisaran 115—angka yang menurut Zulhas tidak cukup menopang kehidupan layak. Kondisi ini memaksa negara menggelontorkan bantuan sosial untuk 60-70 juta jiwa yang masuk kategori desil 1 hingga desil 4.

"Dampaknya luar biasa, sehingga kita harus memberikan bantuan untuk 60-70 juta orang, desil 1 sampai desil 4. Beras, kasih bantuan uang," tuturnya.

Swasembada Pangan: Harga Mati atau Sekadar Slogan?

Di tengah kritiknya terhadap pola impor yang sudah membudaya, Zulhas mengingatkan kembali pesan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut swasembada pangan sebagai kehormatan bangsa. Ia menegaskan komitmen tersebut bukan retorika belaka, melainkan jalan keluar dari jerat impor.

"Tidak ada negara yang maju tanpa swasembada pangan. Oleh karena itu, Pak Prabowo mengatakan swasembada itu kehormatan. Kehormatan siapa? Ya kehormatan kita sebagai bangsa, kehormatan keluarga kita, kehormatan petani kita, nelayan kita, peternak kita yang jumlahnya 100 juta lebih," ucap Zulhas.

Pernyataan Zulhas ini muncul di tengah tekanan global terhadap harga pangan dan gejolak rantai pasok internasional. Indonesia, yang selama bertahun-tahun mengandalkan impor untuk menutup defisit produksi, kini menghadapi dilema: mempertahankan stabilitas harga lewat impor atau berani berinvestasi besar untuk memacu produksi dalam negeri. Pilihan ini akan menentukan nasib jutaan petani sekaligus ketahanan pangan nasional dalam satu dekade ke depan.

Reporter: Ragil