TIRAINEWS.COM — Dinamika industri migas nasional kini menghadapi persoalan klasik yang krusial: banyak fasilitas produksi yang sudah berumur tua. Ketua IAFMI Luky A. Yusgiantoro menuturkan, fasilitas yang menua harus tetap beroperasi secara aman dan efisien sambil menunggu pembangunan infrastruktur baru rampung.
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur baru juga membutuhkan biaya besar dan waktu yang tidak sebentar. Karena itu, keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci agar proyek strategis bisa berjalan sesuai rencana.
"FFPM 2026 menyediakan wadah untuk menyusun strategi yang komprehensif dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut," kata Luky. Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, kontraktor, penyedia jasa, dan pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam memperkuat keandalan fasilitas serta ketahanan infrastruktur industri migas.
Memecah Sekat Antara Hulu dan Hilir
Forum ini tidak sekadar membahas soal produksi di sumur-sumur tua. Ketua FFPM 2026 Irfan Eka Wardhana menekankan, sinergi antara sektor hulu dan hilir menjadi perhatian utama agar pasokan energi tetap mengalir.
"Dinamika industri migas saat ini menuntut kita untuk memecah sekat-sekat operasional. FFPM 2026 secara khusus dirancang untuk menjembatani sinergi hulu dan hilir guna memastikan ketahanan energi nasional," ujar Irfan dalam keterangan tertulisnya.
Pembahasan dalam forum pun mencakup keandalan fasilitas, efisiensi operasional, integrasi rantai pasok, pengelolaan persediaan bersama, hingga optimalisasi infrastruktur penyimpanan yang terintegrasi. Tema besar yang diangkat tahun ini adalah "Securing Energy Supply Across Production Facilities and Infrastructure".
Tiga Panel Diskusi Isu Strategis
Memasuki hari pertama, forum menghadirkan tiga sesi diskusi panel dengan pembicara dari berbagai ekosistem migas. Panel pertama membahas ketahanan infrastruktur energi melalui pelaksanaan proyek dan pengelolaan aset. Hadir sebagai pembicara, Fata Yunus selaku VP Drilling & Well Intervention Pertamina Hulu Energi, Alastair Anderson VP Projects BP Asia Pacific & India Upstream, Anjar Priyambudi VP Asset Integrity Management Pertamina Patra Niaga, serta Rudianto Rimbono selaku President Commissioner PT Energi Mega Persada.
Panel kedua mengangkat isu keterhubungan rantai nilai energi dari hulu ke hilir. Sementara pembukaan resmi forum ditandai pidato utama dari Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman yang diwakili Sekretaris SKK Migas Luky A. Yusgiantoro. Laode menekankan pentingnya menjaga ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik global.
FFPM sendiri telah menjadi agenda rutin sejak 2018 dengan dukungan SKK Migas. Tahun ini, IAFMI juga menjalin kerja sama dengan sejumlah pemangku kepentingan migas, yakni Octave, Sucofindo, dan Universitas Diponegoro.
Forum yang berlangsung di Bandung ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi teknis yang bisa langsung diimplementasikan untuk menjaga produksi migas tetap berkelanjutan di tengah transisi energi global. Keandalan fasilitas produksi menjadi pondasi utama agar pasokan energi nasional tidak terganggu.