TIRAINEWS.COM — Pemerintah memprioritaskan keterlibatan swasta dalam penggarapan proyek ini. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, tender perdana akan ditawarkan kepada Independent Power Producer (IPP) atau perusahaan pembangkit listrik swasta. Namun, syaratnya ketat: mereka harus mampu menawarkan harga yang kompetitif.
"Tim yang akan melakukan tender nantinya sesuai dengan arah Pak Presiden kami laporkan bahwa ini yang pertama adalah kita dorong IPP," kata Bahlil dalam peluncuran Program PLTS 100 GWp, Selasa (25/8).
Jika para pelaku usaha menilai proyek ini tidak ekonomis dan tidak ada yang berminat, pemerintah tidak akan ragu mengambil alih. Proyek tersebut akan dikerjakan langsung oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dengan skema pembiayaan yang efisien.
"Kalau harganya kompetitif kita kasih IPP. Kalau tidak kompetitif dan tidak ada yang mau, maka kita akan ambil alih untuk dikerjakan oleh pemerintah lewat Danantara dengan pembiayaan yang sesuai dengan petunjuk Bapak Presiden yang efisien, efektif dan terjangkau," jelas Bahlil.
Daftar Lengkap Lokasi dan Kapasitas PLTS yang Ditender
Dari total kapasitas 4,7 GWp tersebut, dua proyek di Jawa Barat mendominasi dengan kapasitas terbesar. Berikut rincian lokasi dan kapasitas masing-masing proyek yang siap ditender:- PLTS Jatiluhur (Jawa Barat): kapasitas 1.688 MWp
- PLTS Cirata (Jawa Barat): kapasitas 1.250 MWp
- PLTS Jatigede (Jawa Barat): kapasitas 636 MWp
- PLTS Madura (Jawa Timur): kapasitas 605 MWp
- PLTS Gilimanuk (Bali): kapasitas 300 MWp
- PLTS Buleleng (Bali): kapasitas 118 MWp
- PLTS Purwakarta (Jawa Barat): kapasitas 69 MWp
Menariknya, proyek PLTS Purwakarta akan memanfaatkan lahan yang dikelola Bank Tanah, sebuah skema yang jarang digunakan sebelumnya. Sementara itu, PLTS Gilimanuk dan Buleleng di Bali menjadi lokasi yang pekan ini juga diresmikan sebagai bagian dari gelombang pertama program 100 GW.
Strategi Besar di Balik Tender Cepat
Tender tujuh proyek ini bukan langkah sporadis. Pemerintah menargetkan pembangunan masif 100 GW PLTS dalam tiga tahun, dan tender ini adalah batu loncatan pertama. Sebelumnya, pemerintah telah meluncurkan 14 proyek PLTS di enam provinsi—mencakup Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau—dengan total kapasitas sekitar 5,3 GWp.Dengan menggabungkan proyek tahap awal tersebut, total kapasitas yang sudah masuk pipeline pemerintah mencapai lebih dari 10 GWp. Ini sinyal kuat bahwa transisi energi di Indonesia tidak lagi sekadar wacana, tetapi sudah masuk ke tahap pengadaan lahan dan konstruksi.
Bagi pelaku industri dan investor, skema ini memberi dua peluang. Pertama, pintu masuk bagi swasta yang memiliki modal dan teknologi untuk bersaing di harga. Kedua, kepastian proyek tetap berjalan karena ada "jaring pengaman" berupa eksekusi oleh Danantara jika pasar lesu. Keputusan pemerintah untuk menetapkan harga kompetitif akan menjadi kunci apakah proyek raksasa ini mampu menarik minat investor asing yang saat ini tengah gencar mencari proyek energi hijau di Asia Tenggara.