Pencarian

Puskesmas Sukodono Tangani Dua Balita Gizi Buruk di Cangkringsari

Rabu, 02 September 2026 • 06:06:31 WIB
Puskesmas Sukodono Tangani Dua Balita Gizi Buruk di Cangkringsari
Tim medis Puskesmas Sukodono memeriksa kondisi dua balita gizi buruk di Cangkringsari, Selasa (1/9/2026).

Apa yang Ditemukan Saat Pemeriksaan di Lapangan?

TIRAINEWS.COM — Tim medis yang dipimpin Kepala Puskesmas Sukodono dr. Prufiana, M.M. mendatangi kediaman keluarga pada Selasa (1/9/2026) setelah menerima informasi dari warga. Mereka mengukur berat dan tinggi badan, kemudian mencocokkannya dengan catatan pertumbuhan dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

Hasilnya menunjukkan masalah gizi yang signifikan. "Setelah dilakukan pengukuran, kemudian kita lihat di buku KIA. Grafiknya memang menunjukkan ada masalah gizi, yaitu berat badan sangat kurang, gizi buruk dan sangat pendek," jelas petugas gizi Puskesmas Sukodono, Dana.

Bayi berusia tujuh bulan masuk kategori gizi buruk dan stunting. Kakaknya, H.A.S yang berusia dua tahun, mengalami kekurangan gizi.

Kenapa Balita Ini Terlambat Mendapat Penanganan?

Menurut dr. Prufiana, kondisi bayi tujuh bulan diperkirakan sudah berlangsung cukup lama. Keterlambatan penanganan menyebabkan kekurangan gizi akhirnya berdampak pada tinggi badan hingga masuk kategori stunting.

"Anak ini sudah mengalami gizi buruk yang cukup lama, telat penanganannya akhirnya menjadi stunting," ungkapnya.

Langkah Puskesmas: Rujukan ke Spesialis dan Terapi Susu Formula

Untuk bayi tujuh bulan, Puskesmas Sukodono langsung merujuk ke spesialis anak terdekat. Sambil menunggu Nomor Induk Kependudukan (NIK) dilengkapi, ia mendapatkan terapi susu formula khusus untuk penderita gizi buruk dan stunting di bawah usia dua tahun.

"Untuk si kecil yang berumur tujuh bulan, sambil menunggu NIK, kami rujukkan langsung ke spesialis anak terdekat. Ada terapi khusus berupa susu formula khusus untuk penderita gizi buruk dan stunting di bawah usia dua tahun," kata dr. Prufiana.

Sementara itu, H.A.S yang berusia dua tahun diberi dukungan susu untuk sementara waktu. Bantuan ini diberikan hingga administrasi kependudukan selesai dilengkapi.

"Intinya untuk dua-duanya gizinya bisa tercukupi, supaya tidak jadi stunting dan pertumbuhannya bagus," imbuhnya.

Dukungan Keluarga dan Pemerintah Desa Jadi Kunci

Kedua balita saat ini diasuh oleh neneknya, Soemarni (62). Ibu mereka, almarhumah Ester D. Apsari, meninggal dunia setelah mengalami sakit jantung, sesak napas, dan gangguan lambung.

Soemarni mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan. "Saya sangat berterima kasih atas perhatian Bu Kapus, Bu Bidan, Pemdes setempat dan semuanya, atas bantuan dan penanganannya untuk kesehatan cucu saya," ujarnya.

Pemerintah Desa Cangkringsari juga menyatakan dukungan penuh. Kaur Kesra Abdul Hadi menegaskan, "Kami mendukung langkah Dinas melalui Puskesmas Sukodono, khususnya Ibu Kapus dan jajaran nakes, untuk perkembangan dan penanganan lanjutan."

Pelajaran untuk Ibu: Pantau Tumbuh Kembang Rutin

Kasus di Cangkringsari ini mengingatkan pentingnya pemantauan tumbuh kembang balita secara rutin. Buku KIA bukan sekadar dokumen, melainkan alat deteksi dini jika berat atau tinggi anak menyimpang dari grafik normal.

Selain pemeriksaan fisik, petugas kesehatan memberikan edukasi tentang kebutuhan makanan bergizi, pola pengasuhan, dan pemantauan berkala. Proses pemulihan gizi yang berkelanjutan menuntut dukungan penuh dari orang sekitar.

Bila berat badan anak terus turun atau grafik di buku KIA menunjukkan garis merah, segera konsultasikan ke puskesmas atau dokter spesialis anak. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang anak mengejar pertumbuhan normalnya.

Gerak cepat puskesmas dan pemerintah desa menjadi awal pendampingan panjang. Dengan asupan bergizi, dukungan keluarga, dan pemeriksaan teratur, kedua balita diharapkan bisa tumbuh optimal sesuai usianya.

Sumber: gonews.id

Follow tirainews.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks