TIRAINEWS.COM — Guild Wars 3 diam-diam jadi salah satu game paling menarik yang muncul dari Gamescom tahun ini. Bukan cuma karena setting mundur 1.000 tahun ke masa kejayaan Orr yang dipenuhi roh alam, tapi justru cara ArenaNet merancang ulang sistem pertarungannya yang bikin MMO ini terasa seperti action game.
Dalam demo yang dipamerkan langsung oleh game director Colin Johanson dan lead combat designer Kevin Stocker, karakter Warrior terlihat melompat dari tebing, membuka glider seperti di Guild Wars 2, lalu langsung menukik ke bawah untuk menghajar musuh. Transisinya mulus tanpa jeda, sesuatu yang jarang banget kita lihat di MMO mainstream sekarang.
Kenapa Sistem Momentum Jadi Jantung Pertarungan
"Salah satu hal yang terus kami lihat di MMO adalah sifat stop-start pada movement. Berlari, lalu berhenti, lalu melompat, lalu berhenti lagi, lalu gliding. Semuanya terasa kikuk," ujar Johanson. Dari situlah timnya memutuskan buat bikin momentum sebagai "komponen inti" dari Guild Wars 3.
Konsepnya simpel tapi berdampak besar: makin cepat kamu bergerak, makin besar momentum yang terkumpul. Momentum ini lalu terhubung langsung ke damage dan area serangan. Drop attack dari ketinggian tertentu bukan cuma bikin damage nambah, tapi radius ledakannya juga ikut membesar.
"Begitu kami sampai pada titik di mana karakter bisa wall running lalu langsung melompat dan menghantam musuh, itu sempat jadi perbincangan besar di studio," timpal Stocker. "Kami lalu mengevaluasi ulang seluruh sistem combat, menariknya ke arah action yang lebih visceral, dan mengikat semuanya dalam satu paket."
Fisika Musuh dan Arah Serangan Ikut Dihitung
Yang bikin Guild Wars 3 makin menarik adalah elemen fisik di pertarungannya. Knockback bukan cuma alat untuk stun atau ngasih napas kayak di MMO kebanyakan. Di game ini, tendang monster ke arah dinding bakal ngasih damage ekstra, dan kalau bisa mendorong musuh jatuh dari tebing, damage-nya bahkan lebih besar lagi.
Ukuran musuh juga berpengaruh. Makin gede lawan yang dihadapi, makin besar momentum yang dibutuhkan untuk bisa mendorong mereka mundur. ArenaNet juga menyebut tiap kelas punya skill yang bisa dikombinasikan antarpemain. Contohnya, Johanson bisa pakai perisai Stocker sebagai pijakan untuk melompat ke belakang musuh dan menyerang titik lemahnya.
Kelas Ranger bahkan kabarnya punya kemampuan bikin pusaran angin yang bisa menerbangkan seluruh anggota party ke udara, biar mereka leluasa mendaratkan serangan udara.
Spirit Bukan Cuma Mount, Tapi Juga Mekanik Pertarungan
Di era Orr yang masih hijau dan penuh kehidupan ini, para dewa belum membagikan sihir kepada manusia. Makanya, penduduk setempat bersahabat dengan roh alam untuk memanfaatkan kekuatan magis. Spirit-spirit ini nantinya bisa dijadikan mount, baik yang terbang maupun yang di darat, asalkan kamu bisa "berteman" dengannya lebih dulu.
Uniknya, musuh juga bisa memanfaatkan spirit untuk keuntungan mereka. Di dalam demo, ada musuh bertipe fire-user yang menyimpan spirit dalam tas punggungnya sebagai sumber tenaga. Tapi ini justru jadi celah: pemain bisa memanfaatkan momentum buat manuver ke belakang, menghancurkan tasnya, membebaskan spirit tersebut, dan musuh yang tadinya berbahaya jadi jauh lebih gampang dikalahkan.
Elemen roh juga disebut bakal jadi mekanik penunjang di area gelap, di mana pemain bisa memanggil spirit untuk menerangi jalan.
Beta 2027 dan Peta Persaingan MMO ke Depan
Masih banyak yang belum diungkap soal Guild Wars 3, termasuk mekanik PvP yang selalu jadi identitas seri ini sejak game pertamanya. Karakter progression, dungeon, hingga sistem kustomisasi juga masih jadi misteri sampai beta rilis pada musim gugur 2027.
Untuk komunitas Indonesia yang sudah menantikan penerus Guild Wars 2, kabar sistem movement yang revolusioner ini jadi angin segar. ArenaNet tampaknya tidak mau sekadar numpang nostalgia. Jika eksekusinya mulus, Guild Wars 3 bisa jadi penantang serius di genre yang belakangan didominasi game action MMO seperti Black Desert Online atau Throne and Liberty.