TIRAINEWS.COM — Penemuan objek antarbintang ketiga yang melintasi Tata Surya pada 2025 memicu peringatan serius dari kalangan ilmuwan. Benda yang dinamai 3I/ATLAS ini terdeteksi oleh instrumen di Cile dan bergerak terlalu cepat untuk terikat gravitasi Matahari, menjadikannya kandidat komet antarbintang tercepat yang pernah tercatat.
Meski mayoritas pengamat meyakini 3I/ATLAS adalah komet alami, data yang terbatas dan perilakunya yang ganjil membuka ruang interpretasi lain. Prof. Avi Loeb, astrofisikawan Universitas Harvard, justru melihatnya sebagai potensi entitas teknologi dengan niat yang belum diketahui.
Mengapa Ilmuwan Harvard Menganggap Ini Ancaman Nyata?
Loeb tidak berhenti pada sekadar spekulasi. Ia mengaku telah mencoba mendekati Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menginisiasi komite yang bertugas menetapkan protokol respons terhadap objek antarbintang, namun mendapat tanggapan yang sangat dingin. "Saya mencoba menginisiasi semacam komite untuk menetapkan protokol tentang bagaimana kita merespons objek antarbintang," ujarnya.
Kekhawatiran Loeb berakar pada skenario "angsa hitam"—peristiwa dengan probabilitas rendah namun dampak kehancurannya masif jika benar terjadi. Ia menciptakan skala penilaian yang mengurutkan objek antarbintang dari nol (benda alam) hingga sepuluh (ancaman teknologi bagi manusia). "Kita perlu mengumpulkan data sebanyak mungkin untuk menilai risikonya," tegasnya.
Bagaimana Skenario Kontak Pertama yang Paling Mungkin Terjadi?
Para peneliti sepakat bahwa kontak pertama dengan peradaban lain kemungkinan besar tidak akan berupa piring terbang yang mendarat di halaman Gedung Putih. Skenario yang lebih realistis adalah deteksi anomali dalam kumpulan data, seperti yang terjadi pada 1977 silam.
Saat itu, teleskop Ohio State University menangkap sinyal radio kuat yang berlangsung selama 72 detik dan tampaknya berasal dari rasi bintang Sagitarius. Sinyal yang dikenal sebagai 'Wow!' itu tidak pernah terulang lagi hingga kini, namun menjadi bukti nyata bahwa fenomena semacam ini bisa terjadi.
Bill Diamond, CEO SETI Institut, mengingatkan bahwa komunikasi antarbintang memiliki tantangan waktu yang ekstrem. "Katakanlah itu sinyal radio dari planet berjarak 10.000 tahun cahaya. Berarti transmisi meninggalkan planet itu 10.000 tahun lalu. Apakah peradabannya masih ada? Kita takkan bisa telepon dengan jarak sejauh itu," jelasnya.
Apa yang Terjadi Jika Alien Datang Secara Fisik?
Jika skenario perjumpaan fisik versi Hollywood benar-benar terjadi, Loeb menganalogikannya seperti kencan buta. "Hal pertama yang akan langsung kita khawatirkan adalah ancamannya. Saat pergi kencan buta, Anda ingin memastikan orang tersebut bukan pembunuh berantai," katanya.
Menariknya, Loeb tidak berekspektasi bahwa yang datang adalah makhluk biologis. "Saya berani bertaruh itu adalah sistem teknologi dengan AI. Mengingat otak biologis sulit bertahan melintasi miliaran tahun cahaya, mengirim robot AI paling masuk akal," ungkapnya. Pandangan ini diamini Diamond yang menilai teknologi peradaban tersebut akan jauh lebih maju sehingga mustahil untuk dilawan.
Belum Ada Rencana Resmi, Ilmuwan Dorong Persiapan Darurat
Dr. Andreas Schwarz, pakar komunikasi krisis, menyoroti bahwa hingga saat ini belum ada rencana resmi yang mengatur kelangsungan pemerintahan, komunikasi publik, kesiapan militer, hingga prosedur evakuasi jika kontak alien benar-benar terjadi. Padahal, reaksi manusia diprediksi akan memunculkan spektrum emosi lengkap—dari ketakutan, rasa penasaran, hingga ketidakpedulian.
Manusia sebenarnya sudah berupaya mencari kehidupan lain sejak 1960-an melalui pencarian sinyal radio dari sistem bintang jauh. Namun, Bill Diamond mencatat bahwa potensi planet layak huni sangat besar. "Tiap bintang adalah sistem tata surya dan sekitar 30 persen dari dunia di sekitar mereka kemungkinan besar mirip Bumi serta di zona layak huni. Artinya, ada puluhan miliar planet berpotensi layak huni di galaksi kita," paparnya.
Desakan Loeb untuk membentuk protokol global muncul dari keyakinannya bahwa umat manusia harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Meski probabilitasnya rendah, dampaknya terhadap tatanan masyarakat akan sangat besar jika skenario ancaman teknologi itu menjadi kenyataan.