Selama ini Waymo dikenal agresif memperluas layanan robotaxi-nya ke berbagai kota di Amerika Serikat. Namun di balik ekspansi itu, perusahaan yang bernaung di bawah Alphabet ini diam-diam membangun kemampuan manufaktur semikonduktor sendiri. Pekan ini, Waymo mengungkap bahwa mereka merancang chip ASIC 5nm yang dirancang khusus untuk mengolah banjir data mentah dari 13 kamera beresolusi tinggi di robotaxi Ojai sebelum data tersebut diproses oleh "otak" utama sistem otonom.
Chip tersebut diklaim memiliki daya komputasi lebih dari 1.000 TOPS (triliun operasi per detik). Angka ini menempatkannya sejajar dengan prosesor otomotif DRIVE AGX Thor milik Nvidia yang selama ini menjadi standar industri untuk kendaraan otonom. Waymo menyebut kombinasi chip kustom dan perangkat lunak internal menghasilkan sistem dengan "efisiensi dan performa yang tak tertandingi," terutama untuk merespons situasi kompleks di kepadatan lalu lintas perkotaan.
Strategi Vertikal di Tengah Kebutuhan Efisiensi Biaya
Langkah ini bukan sekadar gengsi teknologi. Waymo berulang kali menegaskan bahwa Ojai—generasi terbaru robotaxi mereka—harus lebih murah dalam hal produksi, operasional, dan perawatan. Tanpa efisiensi biaya, perusahaan mustahil mencapai profitabilitas yang selama ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi industri kendaraan otonom.
Menariknya, Waymo tidak bekerja sendirian dalam pengembangan komputasi ini. Mereka menggandeng sederet nama besar semikonduktor global, termasuk AMD, Micron, Nvidia, Samsung, Sandisk, Socionext, dan TSMC. Kemitraan ini menunjukkan bahwa meski Waymo mendesain chip sendiri, mereka tetap bergantung pada ekosistem manufaktur dan memori yang sudah mapan.
Sensor Lidar China Jadi Sorotan Intelijen AS
Di sisi lain, industri kendaraan otonom AS tengah dihadapkan pada kekhawatiran keamanan baru. TechCrunch melaporkan bahwa Laboratorium Nasional Idaho (Idaho National Laboratory) tengah melakukan investigasi terhadap potensi risiko keamanan dari penggunaan sensor lidar buatan China pada kendaraan di Amerika Serikat.
Yang menarik, pendanaan riset ini disebut-sebut berasal dari perusahaan atau konsorsium di industri kendaraan listrik dan otonom. Namun saat dikonfirmasi, sejumlah perusahaan besar seperti Rivian, General Motors, Ford, Kodiak, Lucid Motors, Nuro, dan Uber mengaku tidak mengetahui adanya tinjauan tersebut. Sementara itu, Aurora, Nvidia, dan Zoox tidak memberikan respons.
Diversifikasi Bisnis Robot Pengantar: Pelajaran dari Uber
Masih dari lanskap yang sama, startup robot pengantar barang, Serve Robotics, baru saja mengamankan sejumlah kemitraan baru. Mereka akan bekerja sama dengan Grubhub untuk mengoperasikan robot sidewalk di Chicago, Los Angeles, dan Alexandria, Virginia. Selain itu, kemitraan yang sudah berjalan dengan DoorDash diperluas ke San Jose, California, dan Washington D.C.
Kesepakatan ini datang di saat yang kritis. Uber baru saja mengurangi penggunaan robot Serve di aplikasinya dan menjual seluruh sahamnya di perusahaan tersebut. Kemunduran Uber ini menjadi pengingat penting bagi perusahaan rintisan yang mencoba berkembang: selalu diversifikasi mitra. Serve tampaknya berhasil melakukan itu tepat waktu.
Kabar lain yang tak kalah menarik datang dari Einride, perusahaan truk otonom asal Swedia, yang pekan ini mengumumkan kesepakatan dengan Tesla. Detail kerja sama keduanya belum diungkap secara rinci, namun langkah ini menambah daftar panjang kolaborasi antara pengembang teknologi otonom Eropa dengan produsen mobil listrik asal Amerika Serikat tersebut.