Blood Dungeon hadir dengan janji segar di tengah maraknya game "bullet heaven" atau Survivors-like. Alih-alih kamera top-down, Messhof membawa pemain ke arena side-scrolling yang lebih mirip Spelunky. Gaya seni 2D khas studio tersebut, yang dikenal lewat Nidhogg, juga menjadi daya tarik utama yang membedakannya dari kompetitor seperti Brotato atau Deep Rock Galactic: Survivor.
Dalam mode autoshooter ini, pemain bergerak di arena yang terus bergulir sambil secara otomatis melontarkan proyektil untuk mengubah gerombolan musuh menjadi XP. Setiap level-up memberikan pilihan peningkatan acak, mengubah karakter menjadi mesin penghancur yang memuntahkan damage dalam hitungan menit. Satu ronde biasanya selesai dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Perpaduan Genre yang Menjanjikan
Yang membuat Blood Dungeon menarik adalah kemampuannya memadukan elemen platformer presisi dengan formula roguelite. Peta-petanya memiliki tata letak tetap, namun posisi item dan kunci diacak. Pemain yang menguasai peta—mengetahui di mana menemukan health dan bahan peledak—akan jauh lebih mudah menaklukkan bos ketiga di setiap area.
Kreator Matthew Hoey mendeskripsikan musiknya sebagai "dungeon drum 'n' bass", perpaduan yang madcap sekaligus hipnotis. Animasi karakternya juga brilian, menambah kesan panik yang pas dengan gameplay yang intens.
Kesenangan yang Cepat Menguap
Namun, setelah sepuluh jam bermain, pesona itu mulai memudar. Blood Dungeon pada akhirnya terasa seperti mesin slot yang dibungkus visual memukau. Progresi karakter terasa cepat di awal—pemain bisa membuka enam peta dan beberapa karakter dalam lima jam pertama—tapi setelah itu, yang tersisa hanyalah grinding.
Kritik utama terhadap game ini adalah ketergantungannya pada keberuntungan. "Saya bisa semakin mahir bergerak di Blood Dungeon, tapi jika RNG tidak berpihak, tetap saja kalah," tulis sang pengulas. Ini berbeda dengan ketidakpastian yang membangkitkan cerita ala Nethack atau Spelunky. Di sini, ketidakpastian lebih mirip lotere—menghibur sesaat, tapi tidak memberikan kepuasan bermakna.
Perasaan bahwa pemain "menjadi lebih kuat" seiring waktu juga menyesatkan. Peningkatan kemampuan pemain nyaris tidak ada; yang bertambah hanyalah jumlah senjata, charm, dan spell yang tersedia di jam ke-50 dibanding jam pertama. Ini membuat skill individu terasa sia-sia.
Vonis: Adiktif, Tapi Cepat Terlupakan
Blood Dungeon tetap layak dicoba bagi penggemar genre ini. Messhof berhasil mengeksekusi formula Survivors-like dengan gaya dan kelincahan yang jarang ditemukan. Namun, seperti yang diakui pengulasnya: "Saya menikmati waktu bermain saya. Tapi begitu meletakkan kontroler, saya tidak ingin memikirkannya lagi."
Game ini diuji pada PC dengan spesifikasi RTX 3060 (laptop), Ryzen 5 5600H, dan RAM 16GB. Untuk Steam Deck, statusnya resmi "tidak diketahui" namun dilaporkan berjalan lancar. Harga belum diumumkan.