TIRAINEWS.COM — Setiap anak punya kombinasi kecerdasan yang berbeda, dan nilai akademik bukan satu-satunya penanda potensinya. Lewat talk show Morinaga Door of Future di Surabaya, psikolog Dessy Sagita membagikan cara mengenali sembilan jenis kecerdasan anak serta kebiasaan memberi label yang perlu orang tua evaluasi.
Sebanyak sembilan jenis kecerdasan bisa dimiliki anak dengan kombinasi yang berbeda-beda, mulai dari naturalis, musikal, logika-matematika, interpersonal, intrapersonal, linguistik, spasial, kinestetik, hingga eksistensial. Konsep multiple intelligences itu menjadi bahasan utama dalam talk show Morinaga Door of Future di Grand Atrium Tunjungan Plaza 6 Surabaya.
Psikolog Dessy Sagita mengajak orang tua melihat potensi anak dari sudut pandang yang lebih luas. Menurut dia, anak yang tidak menonjol di pelajaran logika-matematika belum tentu tidak punya kecerdasan lain yang bisa dikembangkan.
Mengapa Nilai Akademik Bukan Patokan Tunggal
Dessy menyebut harapan orang tua sering terpusat pada satu jenis kecerdasan saja. Padahal setiap anak membawa bakat dan minat yang khas sejak awal.
"Kadang orang tua selalu berharap anaknya cerdas di logika-matematika," ujar Dessy di Grand Atrium TP 6, Jumat (9/10/2026).
Anak dengan kecerdasan musikal, misalnya, bisa menunjukkan ketertarikan lebih pada musik. Kecerdasan kinestetik terlihat dari kemampuan anak melakukan aktivitas fisik, sementara kecerdasan interpersonal berkaitan dengan kemampuan memahami orang lain dan berempati.
Sembilan Jenis Kecerdasan yang Perlu Dikenali Orang Tua
Konsep multiple intelligences membagi kecerdasan anak ke dalam sembilan kategori. Kombinasi tiap anak tidak ada yang persis sama, sehingga pendekatan stimulasi pun sebaiknya disesuaikan.
- Naturalis: ketertarikan pada alam dan lingkungan sekitar
- Musikal: kepekaan terhadap nada, irama, dan suara
- Logika-matematika: kemampuan bernalar dan berhitung
- Interpersonal: kemampuan memahami dan berempati pada orang lain
- Intrapersonal: kesadaran akan perasaan dan keinginan diri sendiri
- Linguistik: kemampuan berbahasa dan bercerita
- Spasial: kepekaan pada bentuk, ruang, dan gambar
- Kinestetik: kemampuan mengolah gerak tubuh
- Eksistensial: kecenderungan bertanya soal makna dan hal besar
Jangan Paksakan Minat Orang Tua ke Anak
Dessy mengingatkan orang tua agar tidak memaksakan minat pribadi kepada anak. Arahan tetap boleh diberikan, tetapi anak perlu ruang untuk mengenali keinginannya sendiri.
"Anak itu individu, bukan robot. Mereka punya keinginan sendiri. Kita boleh mengarahkan, tetapi minat anak adalah minat mereka. Jangan sampai mereka mengikuti minat kita yang dipaksakan," jelasnya.
Evaluasi Kebiasaan Memberi Label pada Anak
Sebutan seperti nakal, cerewet, cengeng, atau malas sering terlontar tanpa dipikir panjang. Dessy meminta orang tua meninjau ulang label itu berdasarkan perilaku dan situasi yang melatarbelakanginya, bukan semata karena anak tidak mengikuti keinginan orang tua.
Menjadi orang tua, kata dia, adalah proses belajar yang tidak diajarkan di lembaga pendidikan mana pun. Karena itu orang tua perlu terus mengevaluasi diri agar bisa mendampingi anak tanpa mengabaikan karakter dan kebutuhannya.
"Anak tidak mau dibandingkan, kita pun juga. Karena mereka juga seorang individu sendiri, punya kehidupan, punya masa lalu, punya pengalaman," bebernya.
Pengalaman Brainwave dan Aktivitas Interaktif di Door of Future
Senior Brand Manager Morinaga, Kenty Novita Pratiwi, mengatakan orang tua bisa memanfaatkan Multiple Intelligence Play Plan (MIPPL) untuk memperoleh gambaran potensi kecerdasan anak. Pengunjung juga bisa mencoba pengalaman brainwave langsung untuk melihat respons anak saat mendapat stimulasi.
"Jadi saat Si Kecil distimulasi kita bisa lihat nih gelombang otak yang dominan muncul apa. Kita mengajak orangtua untuk bisa tau potensi apa yang dimiliki anaknya, karena setiap anak itu unik dan memiliki kecerdasan yang berbeda-beda," tuturnya.
Beragam aktivitas interaktif tersedia untuk dinikmati anak bersama orang tua, seperti emotion mirror, prototype chamber, Beat builder, Gromax, dan Soyalympic. Hari pembukaan juga diisi penampilan robot humanoid yang menari, parade bertema Future of Profession, serta pertunjukan tari anak dari Sanggar Tari Prastika.
Rangkaian Lomba dan Jadwal Hari Berikutnya
Perlombaan digelar untuk memberi ruang anak berekspresi. Lomba Future Icon Story Telling kategori usia 1-3 tahun dan 4-6 tahun masing-masing diikuti 15 anak, dengan Juara 1, 2, dan 3. Ada pula School Dance Competition dan Future Icon Dancing Competition kategori individu dan tim.
Pemenang membawa pulang trophy, bingkisan, hingga uang tunai. Anak-anak juga diajak menari bersama maskot Morinaga Chila dan Chilo.
Rangkaian acara berlangsung tiga hari, mulai Jumat (9/10) hingga Minggu (11/10). Pada Sabtu (10/10) dan Minggu (11/10), masih ada lomba fashion show, baby dancing, hingga sesi edukasi bersama dokter. Kenty menyebut kuota sejumlah perlombaan sudah ditutup karena pendaftar melampaui kapasitas yang disediakan.
Salah satu moms asal Surabaya, Lisa Octavia, datang bersama putrinya, Mecca, yang duduk di kelas 3 sekolah dasar. Ia mengaku baru pertama kali mencoba pengalaman brainwave di acara tersebut.
Yang Bisa Ibu Lakukan di Rumah
Mengenali potensi anak tidak harus menunggu acara besar. Amati kecenderungan anak saat bermain, dengarkan keinginannya, dan hindari membandingkan dengan saudara atau teman sebayanya.
Bila ibu melihat anak menunjukkan tanda kesulitan belajar yang menetap atau perilaku yang mengganggu keseharian, konsultasi dengan psikolog anak bisa jadi langkah tepat. Pendampingan yang sesuai karakter anak akan jauh lebih efektif daripada memaksakan satu jalur kecerdasan.