Pencarian

Militer AS Tembak Jatuh Drone Kartel Meksiko Pakai Laser Berenergi Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 • 17:02:01 WIB
Militer AS Tembak Jatuh Drone Kartel Meksiko Pakai Laser Berenergi Tinggi
Militer AS menembak jatuh tiga drone yang diduga milik kartel Meksiko menggunakan sistem laser berenergi tinggi di perbatasan selatan.

TIRAINEWS.COM — Militer Amerika Serikat mengonfirmasi penghancuran tiga pesawat nirawak (UAV) yang diduga dioperasikan kartel narkoba Meksiko di sepanjang perbatasan selatan. Peristiwa ini terjadi antara Selasa malam hingga Rabu pagi pekan ini, menggunakan sistem Army Multipurpose High Energy Laser System (MPHEL) yang dioperasikan oleh USNORTHCOM.

Modus Pengintaian Kartel dan Tindakan Militer

Keberadaan drone-drone tersebut diyakini bukan tanpa tujuan. Militer AS menduga UAV ini dipakai untuk memantau pergerakan petugas penegak hukum dan mendukung penyelundupan manusia serta barang ke wilayah Amerika Serikat.

Mayjen Curtis Taylor, komandan satuan tugas gabungan di perbatasan selatan, menegaskan bahwa jaringan kartel semakin sering menggunakan UAV untuk memfasilitasi penyelundupan dan memata-matai personel militer serta mitra penegak hukum. "Dengan mengintegrasikan penanggulangan berlapis bersama kemampuan energi terarah seperti sistem laser ini, kami tegaskan tidak akan menoleransi pengintaian bermusuhan," ujarnya.

Juru bicara militer belum memastikan apakah drone ditembak jatuh di wilayah udara AS atau Meksiko, namun menyebut operasi dilakukan dengan koordinasi seluruh mitra yang bertugas di perbatasan.

Riwayat Penggunaan Laser dan Kontroversi Sebelumnya

Ini bukan kali pertama senjata laser digunakan untuk mempertahankan wilayah udara AS. Pada Februari lalu, Pentagon memakai sistem serupa untuk menembak target udara yang tidak dikenal. Insiden itu memaksa penutupan darurat sebuah bandara besar dan menyebabkan gangguan masif—hingga akhirnya terungkap target tersebut hanyalah balon pesta.

Beberapa pekan kemudian, laser kembali digunakan dan berhasil menembak jatuh satu drone. Namun, targetnya ternyata adalah pesawat nirawak milik unit Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS sendiri, bukan drone kartel.

Militer menolak merilis detail lebih lanjut soal insiden terbaru dengan alasan keamanan operasional, tetapi publik tentu berharap sasaran yang dihantam kali ini sudah tepat.

Efisiensi Biaya: Laser vs Rudal Konvensional

Meski harga pengadaannya mahal, biaya operasional sistem laser jauh lebih hemat dibandingkan rudal portabel (MANPADS). Satu tembakan laser hanya menghabiskan sekitar USD 13 (sekitar Rp 214 ribu), sementara rudal bisa memakan biaya ribuan hingga jutaan dolar per unit.

Efisiensi ini membuat laser menjadi pilihan ekonomis untuk menghadapi ancaman drone, yang penggunaannya di medan perang modern makin menonjol—seperti yang ditunjukkan pasukan Ukraina saat bertahan melawan militer Rusia yang jauh lebih besar.

Perlombaan Senjata Laser Global

AS bukan satu-satunya negara yang mengembangkan teknologi ini. Inggris baru-baru ini mengumumkan akan memasang senjata laser DragonFire pada kapal perusak Angkatan Laut Kerajaan pada 2027. Sementara itu, China telah mengembangkan sistem laser anti-drone seukuran ransel yang mampu menjangkau target hingga 1.600 kaki.

Bagi warga sipil yang tertarik, sistem pertahanan laser pribadi untuk melindungi rumah dari serangga terbang juga tersedia dengan harga sekitar USD 1.000—meski tentu dengan kemampuan yang jauh berbeda dari versi militernya.

Sumber: tomshardware.com

Follow tirainews.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks