TIRAINEWS.COM — Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor eksternal yang berat. Selain konflik geopolitik, penguatan indeks dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperberat pergerakan mata uang Garuda pagi ini.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah dunia, serta penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi AS," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (2/9).
Tiga Faktor Eksternal Menekan Mata Uang Garuda
Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Setidaknya ada tiga katalis negatif yang bekerja bersamaan pagi ini.
- Eskalasi konflik Timur Tengah yang meningkatkan risiko geopolitik global dan mendorong aliran dana ke aset safe haven.
- Harga minyak mentah dunia yang naik, memperburuk prospek defisit transaksi berjalan Indonesia.
- Penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menarik modal keluar dari pasar negara berkembang.
Mayoritas Mata Uang Asia dan Negara Maju Ikut Melemah
Pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang kawasan Asia. Peso Filipina menjadi yang paling tertekan dengan depresiasi 0,42 persen, disusul ringgit Malaysia yang turun 0,12 persen dan yen Jepang yang melemah 0,08 persen.
Dolar Singapura terkoreksi 0,02 persen, sementara yuan China melemah tipis 0,01 persen. Di sisi lain, won Korea Selatan justru terapresiasi 0,24 persen dan dolar Hong Kong tercatat stabil.
Di kelompok mata uang utama negara maju, tekanan juga terjadi. Euro melemah 0,10 persen, poundsterling Inggris turun 0,07 persen, dan dolar Australia terdepresiasi 0,04 persen. Dolar Kanada melemah 0,09 persen dan franc Swiss terdepresiasi 0,18 persen.
Kisaran Pergerakan Rupiah Hari Ini
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada sesi perdagangan hari ini akan berkisar di rentang Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS. Level ini menjadi area krusial yang akan menentukan arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.
Tekanan pada nilai tukar ini menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar. Implikasinya langsung terasa pada biaya impor bahan baku dan energi, yang berpotensi mendorong inflasi berbiaya tinggi. Bagi investor, pergerakan rupiah yang fluktuatif juga berpotensi mempengaruhi valuasi aset-aset berdenominasi dolar AS di pasar domestik.
Investasi mengandung risiko.